Harlah NU Perkuat Persatuan Bangsa

Harlah ke-95 NU oleh PC GP Ansor. NU

Selalu ada cerita di balik kebesaran sebuah organisasi maupun individu yang terlibat di dalamnya. Begitu juga dengan Nahdlatul Ulama (NU) sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama besar, di antaranya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Hasbullah, dan Kiai Bisri Syansuri. Cerita berikut ini adalah cerita yang sangat populer di kalangan nahdliyin, sehingga moral di balik cerita selalu dijadikan panutan bagi generasi penerus di NU.

Tunggal Guru Tunggal Murid

Kala itu Hasyim Asy’ari muda sedang menimba ilmu di pesantren yang diasuh K.H. Muhammad Kholil bin Abdul Lathif. Letak pesantren tersebut berada di Bangkalan, Madura. Hal yang menarik adalah kedua kiai besar ini sama-sama rendah hati. Mereka sama-sama saling menggurui.

Hasyim Asy’ari yang masih muda sudah terkenal sebagai ahli hadits. Kesehariannya pun mengajarkan ilmu hadis kepada santri-santri yang lain selama sebulan penuh pada bulan Ramadan. Meskipun sebagai pemilik pesantren, K.H. Muhammad Kholil sekaligus sebagai mahaguru ternyata ikut juga belajar hadis yang di ajarkan oleh Hasyim Asy’ari.

Kiai Kholil tidak gengsi, tidak merasa turun derajatnya hanya karena memperdalam ilmu hadis dengan dibimbing muridnya sendiri. Hal ini kemudian dijadikan tradisi turun temurun dan menjadi ciri khas dari keluarga NU, andhap asor (rendah hati).

Prinsip Teguh tapi Bersifat Kompromi

Suatu saat seorang laki-laki sedang masygul setelah menghadap Kiai Bisri Syansuri di Pesantren Mambaul Ma’arif di Denanyar, Jombang. Ia bermaksud ingin kurban sapi untuk delapan anggota keluarganya. Sebagai respon keinginan laki-laki itu, Kiai Bisri pun menjawab, “Ya, ndak bisa. Satu sapi, ya, untuk tujuh orang. Begitu aturan syariatnya.”

Betapa tidak masygul, ia khawatir kelak di akhirat salah satu anggota keluarganya tidak bisa ‘naik’ hewan sembelihan akibat aturan syariat tersebut. Laki-laki itu pun bergegas ke Tambak Beras, mencari pendapat lain. Lalu, ia mendatangi Kiai Wahab Hasbullah di pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Denanyar, Jombang.

“Ya, ndak apa-apa. Cuma, anakmu kan ada yang kecil satu, biar dia bisa naik ke punggung sapi, harus disediakan ‘ancik-ancikan’ (pijakan yang membantu naik).” ujar Kiai Wahab

“Ancik-ancikannya berupa apa, Kiai?” tanya lelaki itu dengan tidak sabaran.

“Ya, belikan kambing satu. Supaya bisa dipakai ancikan anakmu.” jawab Kiai Wahab.

Rupanya, jawaban dari Kiai Wahab itu membuat matanya berbinar. Kebahagiannya terpancar seolah menemukan solusi untuk beban yang menggelayutinya.

NU sebagai organisasi keagamaan besar di Indonesia, bahkan mungkin menjadi organisasi Islam terbesar di dunia, telah meletakkan nilai-nilai dasar yang dapat menjadi contoh. Seperti rendah hati, proporsional, dan moderat. Selain itu, NU juga memandang bahwa perbedaan itu sunatullah, yakni suatu rahmat bukan untuk di pertentangkan justru dapat saling melengkapi.

NU sepertinya berhasil memadukan tiga daya manusia; daya akal, daya emosi, dan daya nafsu. Daya akal dimoderasi menjadi akhlak yang bijaksana. Emosi diubahnya menjadi keberanian, tetapi penuh perhitungan. Nafsu menjadi benteng penjagaan diri sehingga dengan moderasi jiwa inilah NU dan warganya akan selalu gembira, bahagia, dan mengayomi seluruh umat Islam, bahkan seluruh umat manusia.

Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila kiprah NU dari awal pendirian sampai sekarang memegang peranan yang besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, menggerakkan semangat nasionalisme, dan semangat toleransi. NU juga memiliki semangat dalam melawan segala bentuk radikalisme dan terorisme.

Pada hari ulang tahun Nahdlatul Ulama yang ke-95 kemarin, saya turut mengucapkan selamat kepada organisasi Islam terbesar ini. Rekam jejaknya yang gemilang dalam rentang sejarah bangsa Indonesia yang panjang, semoga selalu menjadi inspirasi dalam mengikat simpul kebhinekaan Indonesia dan menjaga persatuan bangsa.

 

Yogyakarta, 31 Januari 2021