Jangan ‘Bau’

Galeri UKM di Yogyakarta International Airport. SIBAKULJOGJA

Dengan napas yang masih memburu, Mbok Dasiyem membuka lemari pendingin di sebuah swalayan kecil untuk mengambil air dingin dalam kemasan. Sesekali tangannya menyeka turun masker lusuh yang basah oleh keringat. Hangat napasnya telah membuat kacamata tuanya mengembun, ia pun dengan gontai berjalan ke arah kasir.

Sungguh sepertinya tidak adil, Mbok Dasiyem datang ke swalayan lokal itu guna menyetor barang dagangan kripik kacang buatannya semalam untuk titip jual (konsiyasi), sedangkan jerih payahnya akan dibayarkan sebulan atau dua bulan kemudian. Ironisnya, ketika ia mengambil barang dagangan di toko tersebut, harus membayar kontan. Kalau barang dagangannya di toko rusak atau dimakan tikus, biasanya toko tidak bertanggung jawab.

Namun, hari ini Mbok Dasiyem merasa sudah sangat beruntung. Karena setelah seminggu keliling menawarkan barang dagangan, baru toko ini yang mau mengambilnya. Mungkin si pemilik swalayan bukan menilai kepantasan produk, tetapi melihat dari sisi kemanusian si pembuat produk.

Hampir semua swalayan menolaknya dengan alasan formalitas yang kaku; kemasan kurang rapi, kurang higienis dan modern, belum ada barcode di kemasan, belum ada Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-PIRT), belum ada Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK), belum ada sertifikat halal, belum ada izin dinas terkait, belum pernah masuk televisi, serta persyaratan tetek bengek lainnya. Barangkali, harus ada sertifikat rekor MURI juga agar dapat masuk ke toko modern itu.

Belum lagi sikap dan perlakuan kurang mengenakan dari bagian pembelian (buyer) di toko-toko yang ia datangi. Baru bertatap mata, belum mengatakan maksud dan tujuan, jawaban mereka seragam seperti suara paduan suara, “Maaf, selama pandemi ini tidak menerima barang baru.”

Dengan pongah mereka kadang bersikap seolah-olah melebihi pemilik toko itu; menolak dengan tidak sungkan. Mbok Dasiyem sebenarnya adalah pengrajin suvenir wisata kipas dan batik kayu dari Desa Wisata Krebet, Bantul. Namun, dengan adanya pagebluk Covid-19 ini, meluluh lantakkan usahanya sehingga terpaksa ganti haluan usaha sementara untuk bertahan hidup dengan membuat keripik.

Sebenarnya, yang dilakukan oleh mereka–para ‘Mbok Dasiyem’ di seluruh penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta–itu hanyalah menjaga asa. Menjaga tubuh dan pikiran untuk tetap bergerak, tidak menyerah dengan keadaan, dan berharap tetap sehat; bergas dan waras di tengah masif seramnya pemberitaan Covid-19 kala itu.

Mereka tidak mengharap apapun, apalagi muluk-muluk. Toh, mereka juga awam tidak mengerti tentang stimulus ekonomi, restrukturisasi fiskal, relaksasi pajak, insentif usaha, dan lain-lain. Mereka hanya ingin menjaga asa. Namun, apabila pemangku kepentingan di masa keadaan genting ini masih bersikap ‘bau’ (business as usual) tanpa ada langkah extraordinary untuk merubah keadaan, berarti membiarkan simbok-simbok pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) itu mati, ngenes tak diratapi.

Mbok Dasiyem mungkin tidak merasakan kehadiran pemerintah daerah dan pemangku kepetingan atas pemberdayaan UMKM di situ. Lalu, di mana pengejawantahan dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM?

Pada peraturan itu jelas tertulis bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menumbuhkan iklim usaha dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang meliputi beberapa aspek; pendanaan, sarana prasarana, kesempatan berusaha, promosi, kemitraan, dukungan kelembagaan, dan lain-lain.

Sungguh miris sekali tidak ada tindakan yang berarti di tengah situasi yang mencekam kala itu. Mengelola sebuah daerah, departemen, atau dinas, tetapi tidak memiliki sense of crisis, rasanya seperti menonton televisi saja. Mereka cukup memantau dari remote control, tidak perlu ke kantor lagi. Cukup sesekali tampil di Zoom; webinar atau youtubinar, langsung beres.

Sudah berapa banyak pengrajin bakpia, suvenir, pelaku usaha wisata, pegawai hotel, sampai tukang becak yang megap-megap mau mati? Seharusnya, segala upaya dilakukan untuk membangkitkan asa dan merubah keadaan, “Thinking outside of the box, working beyond the ticking of the clock.”

“Jangan biasa-biasa saja. Jangan menunggu mereka mati, baru di bantu. Jangan sudah PHK gede-gedean, baru ada stimulus. Jangan linear. Jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali. Saya jengkelnya di situ. Ini apa enggak punya perasaan?” Ucap Sang Presiden dengan nada tinggi.

Setuju dengan ‘warning’ presiden. Namun, bagi orang yang tersentil oleh teguran Sang Presiden, pasti akan meradang. Pasti mereka akan menyindir, “Gedang awoh pakel kowe (coba kamu yang mengerjakan. Ngomong, mah, gampang). Jangan hanya bicara, beri masukan yang valid, dong.” Mungkin demikian sangkalan miring bagi yang tersentil.

Sebagai penutup, saya akan beri saran yang valid. Dalam masa seperti beberapa waktu lalu, kalau masih berpikir dan bertindak ‘bau’, mending para pemangku kebijakan itu mengundurkan diri saja secara terhormat. Beri kesempatan kepada yang muda-muda. Kasihan juga pada negara atau perusahaan karena mereka hanya sebagai beban, bukan bagian dari solusi.

 

Kasongan, 29 Juni 2020