Membawa Kembali Masa Kanak-kanak ke Desa

Desa Wisata. KEMENPAREKRAF

Saat ini, semua hal sudah banyak yang sama, mulai dari gaya hidup sampai gaya berpikir. Kesamaan itu dilandasi oleh satu informasi yang sama, meskipun dengan media yang berbeda-beda, baik penyampaiannya maupun isi materinya. Dalam ilmu psikologi disebut ‘similarity’, yaitu menggap sesuatu yang hampir sama sebagai sebuah hal yang sama.

Memang pada umumnya suatu hal itu tidaklah terlalu berbeda antara satu orang dan orang yang lain. Sebagai contoh, setiap orang suka makan dan tidak ada orang yang tidak suka makan. Kesamaan ini sama antara satu orang dan orang lain. Perbedaannya terletak pada cara makan, pola makan, menu makan, dan lain-lain. Namun, fungsinya adalah sama, yakni makan untuk memberi rasa kenyang.

Begitu pula di desa. Semua desa tampak sama, walaupun mungkin berbeda penyebutan dan cara menangani antara desa satu dan desa yang lain. Terpenting adalah esensinya memiliki tujuan yang sama. Bahkan hasil yang sama.

Desa-desa di Indonesia hampir semuanya tidak dapat jauh-jauh dari kegiatan bercocok tanam. Setiap hari mereka bepergian ke sawah untuk mengais rezeki dan berharap dari hasil bertani akan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Inilah gaya hidup orang di desa, bercocok tanam dengan pergi ke sawah dan tak seorang pun dapat memungkirinya. Tidak akan ditemukan orang berpakaian parlente dengan dasi terikat di lehernya dan bersepatu kulit mengkilap seperti pegawai kantor di sawah.

Orang-orang yang akan ditemukan di area persawahan, biasanya hanua memakai kaos dan celana pendek saja. Singkatnya, pakaian yang nyaman untuk mereka bertani. Hal itu sebagai tanda bahwa semua orang desa hidup dengan kesederhanaan pikiran dan tingkah laku.

Adanya kesamaan ini–terjadi dengan wajar atau sebelumnya sudah didesain untuk mencapai tujuan tertentu–dapat dimaknai bahwa manusia memang harus hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dan bukan mengubah lingkungannya. Agar dapat memberi pengalaman baru bagi setiap orang yang datang dan berkunjung ke desa, dengan pola-pola yang sama dan hampir sama ini, dapatkah desa-desa di Indonesia menjadi berbeda antara desa yang satu dan desa lainnya?

Diferensiasi atau perbedaan itu adalah hal yang mutlak, harus ada dalam ranah bisnis. Meskipun tidak ada perbedaan, hal yang tampak dan terasa berbeda adalah sesuatu yang dicari-cari oleh konsumen. Makanan Padang yang ada di daerah Jawa dengan makanan Padang di daerah asalnya tentu saja akan berbeda, walaupun menunya sama. Perasaan ini muncul ketika seseorang mengenali sesuatu yang pertama kali dirasakan.

Inilah pentingnya seseorang memiliki kemampuan mendesain sesuatu yang seolah-olah melibatkan perasaan orang lain dan pengalaman orang lain. Gambaran perasaan yang disampaikan adalah meninggalkan kesan berbeda sama sekali, tetapi berbeda dalam rasa.

Rasa tidak sebatas pada hal-hal yang dipegang, tetapi rasa yang muncul saat seseorang melihat, mendengar, mengecap, dan mencium. Itu adalah hal paling penting dalam perbedaan, yaitu mengolah rasa.

Mengolah rasa bukan hanya wilayah seorang seniman. Rasa dapat digunakan oleh semua orang karena setiap orang memiliki perasaan. Oleh karena itu, kita perlu memahami tingkat kepekaan seseorang dalam mengenali rasa. Berdasarkan sekian banyak orang yang tinggal di desa, pasti akan ada orang-orang dengan kemampuan mengolah rasa yang baik dan melebihi orang lain.

Merencanakan sebuah program desa harus juga melibatkan rasa, baik rasa yang dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di desa atau oleh para pengunjung desa nantinya. Perasaaan tersebut harus dapat dijadikan pengalaman tak terlupakan oleh mereka. Tidak sulit, bukan?

Namun, menemukan orang yang memiliki kemampuan mengolah rasa dan mempraktekannya dalam suatu hal khusus menjadi kesulitan tersendiri. Bahkan orang yang sudah lama tinggal di desa belum tentu memiliki kepekaan rasa.

Prinsipnya adalah semua orang itu sama dan menginginkan hal yang sama. Perbedaan dari kesamaan-kesamaan tersebut terletak pada kualitasnya. Belum tentu barang yang jenisnya sama memiliki kualitas yang sama. Pengalaman inilah yang diperlukan. Beberapa langkah untuk mendapatkan pengalaman mengolah rasa, di antaranya dengan sering keliling daerah lain dan menyerap semua potensi yang ada.

Setelah itu, menentukan target yang akan dibidik agar perasaan dan pengalaman yang ingin disampaikan dapat diterima. Biasanya, pengalaman yang paling baik adalah pengalaman masa kecil. Ada banyak hal yang dilakukan ketika masa kanak-kanak, terlebih lagi hal tersebut dilakukan tanpa beban. Jika ini dapat dihadirkan di desa maka akan menjadi sebuah tujuan tak terlupakan.

Orang yang sudah dewasa tentu saja pernah merasakan menjadi anak-anak. Pengalaman dan memori yang kaya tentang masa kanak-kanak tidak akan hilang. Modal masa lalu inilah yang akan membimbing untuk menentukan sebuah konsep.

Menentukan konsep adalah hal terpenting dari sebuah program. Sebab, konsep akan menjadi panduan dan arah sebuah program yang akan dicapai. Selain itu, konsep juga berfungsi memetakan langkah untuk mencapai tujuan.

Sering terjadi di banyak desa, membuat program karena desa sebelah telah membuat lebih dahulu. Langkah seperti itu akam membuang dana dan tenaga tanpa tujuan dan cara mencapai yang jelas. Jarang sekali desa melakukan pemetaan kebutuhan daerahnya, terlebih lagi berpikir untuk mengetahui kebutuhan orang lain yang mungkin akan berkunjung ke desanya.

Program lebih bersifat simbolik dan biasanya bertujuan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu saja, tidak berorientasi pada masyarakat. Andai semua pemimpin di desa mampu berdiri sama dihadapan warganya, tentu pembangunan desa akan mudah dilaksanakan karena hasilnya untuk mereka semua.