Menemukan Masjid Bersejarah di Bali

Makam Puak Mattoa. JAMILLUDIN

Tanggal 12 sampai 16 Mei, saya ikut dalam rombongan komunitas yang rutin mengadakan ziarah dan wisata religi di wilayah Indonesia. Pada kesempatan tersebut, lokasi yang akan di kunjungi adalah wilayah Bali dengan tema ‘Ziarah dan Plesir ke Bali’. Ini merupakan kesempatan kedua saya mengunjungi Bali. Sebelumnya, pernah berkunjung di tahun 2016.

Rombongan berjumlah 40 orang menggunakan bus Anggy Transport berangkat dari area parkir Purawisata dipandu oleh Lestari Wisata Jogja. Singkatnya, perjalanan dari Jogja sampai Bali ditempuh dalam waktu 22 jam. Perjalanan tersebut melewati jalur tol, lalu menyeberangi Selat Bali.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan tujuan ke rumah makan yang sudah dipilih. Wisata dimulai dengan tujuan ke Tanah Lot. Kami di sana menikmati pemandangan laut dan beberapa pura yang ada di sekitar lokasi.

Selain mengunjungi Tanah Lot, pada hari pertama kami juga melakukan ziarah di makam Pangerah Mas Sepuh yang letaknya di Pantai Seseh dan ziarah di makam Raden Ayu Siti Khotijah. Tak lupa kami menyempatkan berbelanja di Khrisna. Kegiatan hari itu kami akhiri dengan beristirahat di Hotel Rofa, Kuta. Perjalanan yang cukup melelahkan, tetapi sangat menyenangkan karena didampingi oleh pemandu lokal bernama Bli Nyoman.

Berdasarkan keputusan DPRD Bali Nomor 15 tahun 2016 tentang Penetapan Raperda Pramuwisata, bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali didampingi oleh pramuwisata yang memiliki legalitas. Dalam Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pemberlakuan Wajib Sertifikasi Kompetensi di Bidang Pariwisata, pemandu wisata juga wajib mendapatkan sertifikat kompetensi yang diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang relevan. Jadi, saat ini wisata di Bali sudah memiliki pemandu wisata yang terjamin.

Pada hari kedua di Bali, Bli Nyoman memandu rombongan menuju Kampung Muslim Serangan. Rombongan diterima dengan baik oleh tokoh muslim. Kami diantar ke salah satu makam tokoh muslim bernama Puak Mattoa yang berasal dari Makassar. Keunikan Kampung Muslim di Serangan karena berada di tengah-tengah masyarakat Hindu, tetapi mereka dapat membaur dan saling menghormati.

Selain itu, di Kampung Muslim terdapat masjid bersejarah yang bernama Masjid As-Syuhada dan rumah adat Bugis pada abad XVII. Peninggalan sejarah tersebut termasuk situs yang harus dijaga dan termasuk aset sejarah nasional yang secara resmi di tanda tangani oleh Mari Elka Pangestu selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pada tanggal 21 April 2014.

Berdasarkan segi arsitektur, Masjid As-Syuhada tidak berbeda dengan masjid lainnya yang ada di Nusantara, yakni ada bangunan utama masjid yang terdiri dari tempat imam dan mimbar untuk salat Jumat. Namun, keunikan yang tidak ada di masjid lain terletak pada serambi masjidnya. Ada sumur yang menjadi sumber mata air dan air yang keluar tidak asin, meskipun masjid tersebut berada tidak jauh dari laut.

Masjid As-Syuhada menjadi bukti adanya kehadiran warga muslim yang berasal dari Bugis pada abad ke-17. Saat itu, Raja Cokorda Pemecutan III memberikan hadiah lahan seluas 5000 meter persegi kepada warga Bugis yang membantu menaklukan Kerajaan Mengwi.

Warga muslim tetap eksis di wilayah Serangan hingga saat ini. Berdirinya masjid As-Syuhada merupakan ide dari tokoh muslim, yaitu Puak Mattoa atau nama lainnya adalah Syekh Haji Mukmin bin Hasanuddin

Keunikan lain di Masjid As-Syuhada, yakni adanya mushaf Al Qur’an yang ditulis dengan tangan langsung (bukan cetakan) di daun dan dilapisi dengan kulit sapi. Mushaf tersebut masih tersimpan dengan baik dan terawat.

Hingga sekarang, hubungan dan kegiatan warga beragama Islam dan Hindu di Serangan selalu terjaga dengan harmonis. Dalam aktivitas keagamaan maupun kegiatan lainnya, selalu melibatkan kedua belah pihak.

Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi objek wisata Tol Atas Laut Mandara dengan tujuan Tanjung Benoa. Selama perjalan, saya melihat keindahan alam yang luar biasa. Juga tampak proses pengerjaan tol yang hampir selesai. Tiba di Tanjung Benoa, wisatawan dapat menikmati suasana pantai dan berkunjung di penangkaran penyu dengan membayar kapal seharga Rp60.000.

Tujuan berikutnya adalah Puja Mandala. Lokasi ini sangat unik karena di kompleks tersebut berdiri lima rumah ibadah. Salah satunya Masjid Ibnu Batutah yang megah, lengkap, dan bersih. Masjid ini menjadi representasi warga muslim di Bali dan Puja Mandala. Keberadaan kelima rumah ibadah bagai memberikan pesan persatuan dalam keberagaman yang tetap lestari di Bali.

Masjid Ibnu Batutah menjadi daya tarik bagi wisatawan, tidak hanya yang beragam Islam. Bagi wisatawan muslim dapat menjalankan solat di masjid ini. Penataan yang lengkap diterapkan oleh takmir masjid. Saat akan masuk masjid, ada petugas jaga yang mengarahkan pengunjung, memberi informasi terkait area tersebut, maupun pesan untuk menjaga barang pribadi.

Toilet di Masjid Ibnu Batutah sangat terawat, bersih, dan kesuciannya terjaga. Tempat putra dan putri dipisah. Bahkan lokasi kamar mandi dan tempat wudu dibedakan sehingga akan menjaga kesucian.

Pengunjung yang akan salat, dapat naik ke lantai dua menggunakan anak tangga dan terdapat area yang menarik untuk mengambil gambar sebagai kenang-kenangan mengunjungi masjid itu. Dalam area masjid ada ruang utama yang dipakai untuk salat jamaah. ]

Ruangannya pun sangat sejuk, membuat pengunjung semakin khusyuk beribadah dan betah berlama-lama di sana. Pengunjung juga dapat melihat pengumuman nama imam yang akan bertugas saat salat lima waktu. Selain itu, terdapat ruang perpustakaan serta serambi masjid yang bisa dipakai untuk istirahat.

Hari ketiga di Bali, rombongan mengunjungi objek wisata Pantai Pandawa, pusat oleh-oleh Joger, dan kawasan Bedugul. Hari itu pun kami akhirnya dapat menikmati suasana malam di Kuta sambil berbelanja dan berkuliner. Sebuah pengalaman yang sulit dilupakan karena dapat melihat Bali lebih dekat, baik dari segi objek wisata maupun penjelasan sejarahnya. Rombongan tiba kembali di Jogja pada tanggal 16 Mei 2022.