Misiku, Terpanggil Menjadi Pemerintah Bukan Negara

Menjadi Pemateri Malam Keakraban Mahasiswa Ilmu Pemerintahan APMD Tahun2019. VERLIN WARUWU

Memasuki SMA, tekad untuk menjadi polisi sudah bulat dan tidak punya pilihan lain apabila menemukan kegagalan. Pada waktu itu, saya optimis dapat masuk akademi polisi. Sejak kelas 11 hingga kelas 12, selalu berambisi mengisi posisi ketua kelas untuk melatih jiwa kepemimpinan. Tepat di titik ini, peran saya dalam kepemimpinan di sekolah sudah mulai terlihat.

Pernah mendapat tawaran untuk menjadi wakil ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) ketika menduduki kelas 10, meskipun berujung gagal. Sekali lagi, hal itu tidak membuat semangat mengendur. Tentu saja, ada perasaan kecewa yang terpendam dalam hati, tetapi kekecewaan itu terganti dengan harapan-harapan yang saya sebut di setiap doa.

Memasuki kelas 11, eksistensi saya di kalangan siswa dan juga semua guru mulai terasa. Pertama, saya menjadi ketua kelas. Kedua, harapan yang selalu terucap dalam hati terkabul; posisi ketua OSIS berhasil saya capai. Ketiga, menjadi pradana pramuka dan wakil sekretaris Kelompok Siswa pencinta Alam (Kopesta).

Berawal dari tahun kedua di bangku SMA, semuanya terjalani dengan baik dan setiap langkah yang sudah lewat selalu direnungkan. Selama mengikuti organsasi banyak belajar soal disiplin, tanggung jawab, kepercayaan diri, berbicara di depan orang banyak, menyampaikan materi kepramukaan di berbagai sekolah, berkomunikasi serta bernegosiasi dengan guru, dan lain-lain.

Aktifnya saya dalam organisasi sekolah, kadang-kadang membuat tertinggal dalam mata pelajaran.

Hal paling berkesan adalah ketika mendapatkan julukan lagi, yakni ‘keba’ atau kependekan dari ketos bacu. Mengapa julukan tersebut disematkan kepada saya? Karena pembawaan saya tenang dan pendiam, tetapi ketika jadi ketua, saya mengikuti gaya mereka. Terkadang hal itu menjadi penghibur tersendiri untuk teman-teman.

Waktu terus berlanjut, semakin dekat pada kesempatan untuk mencapai impian menjadi polisi. Cita-cita yang sudah diimpikan dari kelas empat SD sampai SMA kian di depan mata.

Sebelumnya, saya sudah sampaikan rencana tersebut kepada orang tua. Walaupun mereka berat hati menyetujuinya, jik itu sebuah hal baik untuk masa depan, pasti akan disetujui. Sekalipun itu harus menggadaikan kebun atau meminjam uang, harus tetap dijalani.

Hal yang mendorong ingin menjadi polisi adalah untuk mengangkat derajat keluarga. Harapan yang ada di kepala, ketika terpilih maka gaji yang saya dapatkan digunakan untuk membantu orang tua menyekolahkan keempat adik saya, sedangkan orang tua fokus mencari kebutuhan dan melunasi utang.

Perjalanan yang saya lewati begitu panjang dan pahit. Mulai dari pendaftaran sebelumnya ditolak tiga kali karena kurang tinggi, mengurus administrasi, sertifikat, mengobati farises, hingga berada di tempat yang belum pernah saya lewati; tes di tingkat daerah. Semua dijjalani dan ditempuh dengan semangat tanpa mengeluh, meskipun saya gagal tes psikologi di tingkat pusat.

Tentu ada perasaan malu. Menangis juga pasti. Biaya yang dikeluarkan dalam proses pun tidak sedikit, mencapai puluhan juta. Berawal dari kegagalan inilah saya tidak dapat melanjutkan kuliah karena masalah biaya. Saya juga harus melihat keadaan orang tua karena masih punya empat adik yang ingin menikmati proses mencapai cita. Sedangkan, semua pembiayaan yang saya gunakan selama pendaftaran polisi adalah uang pinjaman.

Berdasarkan kejadian ini, dua bulan setelah kembali ke rumah, saya memutuskan untuk merantau selama delapan bulan. Pekerjaan saya saat itu cukup pahit karena gaji yang diterima sangat rendah. Saya juga kepikiran terus dengan keluarga.

Ada perasaan bersalah kepada keluarga. Karena keegoisan saya dalam mencapai tujuan, sampai tidak memikirkan nasib adik-adik dan kedua orang tua. Beban moral inilah yang menjadi kekuatan dan pegangan bagi saya untuk mengejar impian melalui pintu yang lain.

Delapan bulan berlalu, saya kembali ke kampung halaman tanpa uang yang bisa saya bawa kepada orang tua. Karena selama bekerja uang Rp850.000 perbulan itu saya bagi dan selalu saya sisipkan untuk orang tua membayar utang ongkos ke Jakarta saat tes psikologi. Sesampainya di rumah, tidak heran lagi sisa uang tinggal Rp50.000. Semua uang yang terpakai setiap bulan selama bekerja dan pengeluaran saat pulang kampung saya rincikan semua jauh-jauh hari.

Berkat dari Tuhan membawa saya sampai di Kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta. Cita-cita ingin menjadi polisi masih terus ada dalam pikiran, tetapi menginjakkan kaki di semester empat keinginan mendadak berubah. Saya ingin menjadi kepala desa.

Dulu ketika ditanya tentang keinginan menjadi kepala desa, kami yang masih duduk di bangku sekolah itu satu pun tidak ada yang mau, termasuk saya. Si paling tidak mau. Berawal dari sini, saya mulai paham tujuan hidup yang sesungguhnya.

Tujuan hidup saya adalah menjadi seorang pelayan yang tulus dan ikhlas. Tuhan memberikan gambaran tempat yang pas bagi saya. Ketika kinerja baik di mata masyarakat, tentu jabatan seorang kepala desa tidak stagnan pada titik itu saja. Akan ada kenaikan tingkat, seperti masuk ke parlemen, menjadi bupati, atau pun menjadi gubernur. Saya masih percaya pada ungkapan ‘di mana ada kemauan, di situ ada jalan’.

Tuhan telah paham kondisi saya dan seberapa banyak keringat yang menetes. Oleh karena itu, saya ditempatkan di kampus ini, meskipun setiap masuk semester selalu mengurus dispensasi agar tetap kuliah. Kadang nama saya tidak tercantum dalam presensi dan tidak masuk kelas selama satu minggu karena belum bayar uang kuliah. Semuanya ini adalah proses.

Tempat pendidikan ini adalah hadiah dari Tuhan untuk saya dan keluarga. Jika di kampus lain, tentu saya sudah putus di tengah jalan karena keterbatasan keuangan kami. Sejak semester satu sampai saat ini, saya terus membetuk kepribadian dengan pendidikan karakter melalui ruang-ruang yang telah disiapkan oleh kampus. Saya pun aktif dalam kegiatan organisasi kampus. Bahkan selalu menjadi pemimpin, bukan menjadi yang dipimpin.

Namun, bagi saya yang paling penting adalah memahami posisi dalam bekerja. Hal itu yang membuat kita tetap utuh dalam berpikir dan bertindak. Impian menjadi polisi inilah yang menguatkan iman saya dalam membatasi pergaulan bebas, apalagi merokok, minum, dan melakukan perbuatan tidak terpuji lainnya.

Meskipun dalam perjalanan semasa SMA, untuk membantu orang tua dalam biaya sekolah, saya ikut menjadi pemain organ tunggal di acara-acara hajatan maupun syukuran. Mau tidak mau, saya baru bisa pulang saat larut malam. Minuman keras dan juga rokok tidak perlu ditanya lagi karena semuanya disiapkan oleh tuan rumah.

Hal ini awalnya menjadi kekhawatiran saya ketika akan mendaftar di Akademi Polisi (Akpol) karena butuh biaya besar untuk mengobati paru-paru yang telah rusak dari minuman keras dan rokok. Tidak pernah saya pikirkan untuk melakukan pengobatan itu, tetapi hal itu menjadi prioritas utama yang harus saya kejar untuk memulai karier.

Jalan yang saya tempuh harus mengorbankan orang tua dan keempat adik yang masih sekolah. Dua adik saya harus rela mengorbankan impiannya untuk tidak kuliah dan menganggur beberapa tahun. Namun, saya selalu berkomitmen dalam hati bahwa suatu saat pasti akan membahagiakan mereka semua.

Saya bertekad belajar dan bekerja dengan tekun, tetap jujur, serta ikhlas dalam menjalaninya. Tuhan pasti memberkati usaha dan akan mengabulkannya. Oleh karena itu, saya ingin menjadi kepala desa. Saya paham bahwa ilmu yang didapat, akan berguna untuk membangun daerah sendiri.

Sama seperti yang disampaikan oleh orang tua Ahok kepadanya ketika masih kuliah, “Kita bukan hanya menjadi orang penting, tetapi juga harus menjadi berguna bagi orang banyak. Orang tua tidak hanya mengharapkan kita punya keyakinan, tetapi juga harus bawa perubahan.”

Inilah yang menjadi harapan bagi saya yang tentu dari awal tidak pernah terpikirkan. Terlebih lagi, pesan dari orang tua tetap saya pegang ketika selesai kuliah. Saya harus kembali ke Kampung halaman untuk memberdayakan orang-orang di sana dan melepaskan mereka dari keterpurukan pemikiran serta ekonomi.

Setelah satu pintu tertutup, pintu lainnya terbuka. Namun, kerap kali kita terlalu lama memandangi dan menyesali pintu yang telah tertutup sehingga tidak melihat pintu yang terbuka. Jangan hanya bergantung pada satu impian, tetapi berkomitmenlah untuk hal yang lain sebelum kesempatan berakhir dan penyesalan terjadi.