Nama Padukuhan Jaranan Berasal dari Kuda Sri Sultan Hamengkubuwono VIII

Monumen Patung Kuda di Padukuhan Jaranan. EKA BIRAWAN

Sebelum menuliskan cerita sejarah Kampung Jaranan, saya bertanya kepada Fendika Nurjayanto Yudatama selaku Kepala Dukuh Jaranan perihal narasumber yang dapat memberi banyak informasi. Ia pun menyarankan untuk mendatangi Mbah Suro Inangun.

Mbah Suro Inangun lahir sekitar tahun 1930, tetapi masih sehat walafiat secara fisik. Hingga saat ini, ia masih mampu mengayuh sepeda ontelnya. Secara lisan, juga masih sangat komunikatif dan menyenangkan diajak bicara, walaupun pendengarannya sudah berkurang. Oleh karena itu, ketika berbicara dengannya harus dalam jarak yang dekat.

Menurut penuturan pria lanjut usia itu, nama Jaranan diambil dari kisah perjalanan Kanjeng Sinuwun Hamengkubuwono VIII yang sedang meninjau keadaan kawulanya di wilayah Kalurahan Panggungharjo. Pada saat meninjau itu, ia menaiki kuda (jaran) yang didampingi oleh para pengawalnya.

Pasukan berkuda berjalan dengan rapi dari arah timur ke arah barat. Kuda Kanjeng Sinuwun Hamengkubuwono VIII berada di barisan paling depan sendiri. Kemudian, diikuti para pengawal kerajaan sehingga semua kuda itu terlihat berjejer rapi. Karena kuda yang berjejer ini, kampung yang dilewati dinamakan Kampung Jajaran.

Kuda yang digunakan oleh Kanjeng Sinuwun Hamengkubuwono VIII merupakan jenis jaran dukun. Jaran ini mempunyai keahlian dalam menyebrangi sungai. Oleh karena itu, kampung yang dekat Sungai Winongo disematkan nama Kampung Jaranan.

Hal yang menarik adalah saat ia bersama para pengawalnya berjalan ke arah Sungai Winongo untuk menyebranginya. Debit air sedang tinggi sekali pada saat itu. Tingginya sama dengan tinggi bibir sungai. Namun, mereka tetap menyeberangi sungai tersebut dengan menunggangi kuda. Herannya, mereka tidak basah kuyup terkena air sungai. Padahal kondisi air di sungai itu sangat penuh.

Lokasi penyeberangan Kanjeng Sinuwun Hamengkubuwono VIII bisa kita dijumpai sekarang adalah di sekitar pintu air Jaranan. Lokasi tersebut juga dibuatkan Monumen Patung Kuda.

Cikal bakal Kampung Jaranan adalah Joyudo. Menurut Mbah Suro Inangun, Padukuhan Jaranan dibagi menjadi empat kampung, yaitu Jajaran, Jaranan, Gejawan, dan Gesikan. Gejawan berasal dari kata ‘kejawen’. Dahulu banyak warga kampung tersebut yang memakai pakaian khas Jawa, seperti jarikan, klambi Jawa, dan iketan. Terkait nama Gesikan, Mbah Suro Inangun tidak mengetahuinya secara pasti.

Pada hari berikutnya, atas saran Kepala Dukuh Jaranan, saya menemui satu orang tokoh lagi yang bernama lengkap Dalijan Guna Wiyoto, mantan ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) Panggungharjo. Pria lanjut usia yang berumur 81 tahun itu, biasa dipanggil dengan Mbah Guna. Ia menuturkan, “Setahu saya, Padukuhan Jaranan dibagi menjadi dua, yaitu sebelah utara adalah Jaranan dan sebelah selatan adalah Gesikan.”

Wilayah Gesikan dibagi lagi menjadi tiga kampung, yaitu Mutihan, Ngentak, dan Gesikan. Cikal bakal Gesikan adalah Kiai Mutih. Lebih lanjut ia menuturkan tentang sejarah 3 kampung tersebut. Ternyata, sejak ia lahir sudah ada nama tiga kampung tersebut. Menurut cerita dari para orang tua, di Makam Mutihan terdapat tujuh kijing, salah satunya adalah milik Kiai Mutih. Konon, Kiai Mutih berasal dari Arab.

Terkait Kampung Ngentak, ia tidak tahu banyak sejarahnya. Sedangkan tentang Kampung Gesikan, ia mengatakan bahwa nama itu berasal dari kata ‘nggesik’, yang berarti pasir. Oleh karena itu, kampung tersebut dinamakan Kampung Gesikan.

Atas saran Mbah Guna, hari berikutnya saya menemui Kepala Dukuh Jaranan keempat, yaitu Slamet pada. Menurut Slamet, Gesikan dibagi lagi menjadi dua, yaitu Gesikan Kulon dan Gesikan Wetan.

Baik Mbah Guna maupun Slamet, tidak ada yang tahu sejarah Kampung Ngentak. Namun, menurut penuturan Slamet, ada satu kampung lagi yang ada di Padukuhan Jaranan. Kampung itu namanya Kampung Tegal Cewok. Ia tidak tahu alasannya sampai diberi nama Tegal Cewok.

Hal yang menarik lagi adalah ketika saya menanyakan penguasa wilayah Jaranan sejak bergabungnya Padukuhan Jaranan dengan Kalurahan Panggungharjo. Informasi yang disampaikan Mbah Suro Inangun dan Slamet berbeda. Nama Kepala Dukuh Jaranan pertama dan kedua terbalik.

Nama-nama Kepala Dukuh Jaranan menurut pengetahuan Mbah Suro Inangun adalah Prawiro Gono, Amat Sukirman, Samidjo, Slamet, dan Fendika Nurjayanto Yudatama.

Berbeda dengan Slamet, ia menyebutkan nama-nama Kepala Dukuh Jaranan beserta tahun jabatannya. Versi Slamet begitu meyakinkan karena pada waktu Kepala Dukuh Jaranan kedua menjabat, ia sudah pernah mengalami dengan mata kepala sendiri.

Mereka yang pernah menjadi Kepala Dukuh Jaranan adalah Ahmad Sukirman (1940-1955), Pawiro Gono (1955- 1974), Samidjo (1974-1992), Slamet (1993-2020), dan Fendika Nurjayanto Yudhatama, S.Kep. (2021-sekarang).

Slamet juga bercerita, ia pernah mengalami beberapa cerita mistis. Pertama, ketika ada mobil travel yang akan menjemput rombongan penumpang, tetapi sesampai di depannya, mobil tersebut berjalan perlahan dan maju mundur terus seperti bingung mencari titik penjemputan. Ia sempat mendengarkan adu mulut antara sopir dan kernetnya dari dalam rumah selama beberapa menit.

Menurut denah jalan yang diberikan oleh kantor travel, katanya persis di dekat rumah Slamet. Kemudian, ia memastikan apakah tujuan penjemputan di Gesikan Panggungharjo atau di Gesikan Pandak. Ia mengatakan kepada sopir dan kernetnya, barangkali bukan Gesikan Panggungharjo, tetapi Gesikan Pandak.

Kalau benar demikian, mumpung waktu saat itu masih sore, masih ada waktu untuk mencarinya. Namun, menurut sopir dan kernetnya, lokasi sudah benar. Slamet menduga, sepertinya lokasi titik penjemputan berada di area Makam Mutihan.

Kejadian selanjutnya berlangsung saat waktu sudah larut. Ada seorang tukang becak yang berasal dari Kalurahan Pendowoharjo yang tak sadar sudah memasuku area Makam Jaranan. Pada saat akan pulang ke rumahnya, ia melihat makam tersebut merupakan jalan lurus hingga tembus sampai ke arah selatan.

Slamet melihat tukang becak itu melewati jalan sebelah barat rumahnya sekitar pukul 22.00 WIB. Kemudian ia bertanya, “Sudah larut, kenapa bisa naik becak di sini? Apakah nyasar?”

Pada saat Slamet bertemu dengan tukang becak itu, ia tampak ketakutan (gigilen). Setelah mendengar ceritanya, ternyata ia baru saja melewati makam yang dianggap seperti jalan lurus menuju ke selatan.

Slamet pun menyarankan agar pulang dengan hati-hati mengikuti saran arah jalan yang ia. Ia menduga bahwa tukang becak tadi ‘disesatkan’ ke makam Jaranan.

Narasumber :

  1. Suro Inangun, tokoh masyarakat di Padukuhan Jaranan.
  2. Dalijan Guna Wiyoto, tokoh masyarakat di Padukuhan Jaranan.
  3. Slamet, Kepala Dukuh Jaranan keempat periode 1993-2020 .