Ngudi Resik, Kelompok Pengelola Sampah Desa Potorono Banguntapan

Rabu (19/9) Desa Potorono melaksanakan acara pembentukan pengelola sampah tingkat desa. Bertempat di Gedung Baja Komplek Balai Desa Potorono.bantulkab.go.ig

Desa Potorono yaitu desa yang berada di Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Potorono memiliki sembilan padukuhan diantaranya padukuhan Potorono, Prangwedanan, Salakan, Condrowangsan, Nglaren, Mertosanan Wetan, Mertosanan Kulon, Balong Lor, dan Banjardadap.

Desa Potorono memiliki luas wilayah 435,46 Hektar. Wilayah Desa Potorono merupakan daerah dataran rendah yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian buruh swasta, petani, buruh harian lepas, dan lainnya. padukuhan Banjardadap merupakan padukuhan yang berada di Desa Potorono, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Padukuhan Banjardadap memiliki 8 RT. Penduduk di padukuhan Banjardadap sebagian besar menganut agama Islam. Kondisi sosial warga di padukuhan Banjardadap termasuk sudah mulai aktif dengan adanya kegiatan rutin yang biasa dilakukan oleh orangtua maupun pemuda. Kegiatan tersebut antara lain kegiatan RT, seperti gotong royong setiap minggu, kegiatan PPK serta Dasawisma dan lain sebagainya.

Sebagian besar warga Padukuhan Banjardadap belum melakukan pengelolaan sampah. Namun sebagian besar penduduk membuang sampah di lubang kemudian dibakar. Bahkan ada beberapa warga yang membuang sampah di sungai dan jalan petak sawah. Disisi lain, kondisi perekonomian masyarakat yang rata-rata sebagai petani dan buruh memiliki pendapatan yang tidak terlalu tinggi atau hanya sebatas Upah Minimum Kabupaten.

Secara umum bahwa pendapatan masyarakat rendah dibandingkan dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Selain memiliki tingkat pendapatan yang rendah, masyarakat sebenarnya memiliki potensi sosial yang besar yaitu kerukunan, empati dan semangat gotong royong. Hal tersebut menjadi modal sosial yang tinggi dan mampu meringankan beban hidup masyarakat. Keberadaan masjid dan fasilitas umum menjadikan kehidupan sosial berjalan dengan baik.

Pada awal tahun 2019 masyarakat padukuhan Banjardadap sudah sadar akan kebersihan lingkungan yaitu dengan diadakannya program pilah sampah. Program tersebut dijalankan oleh sebagian pemuda-pemudi Padukuhan Banjardadap. Pilah sampah dilakukan di setiap rumah warga dan kemudian diambil oleh pengurus yaitu pemuda-pemudi yang nantinya akan dikumpulkan dan dijual kepada agen rongsok di padukuhan tersebut.

Namun, setelah program pilah sampah berjalan beberapa kali, program tersebut vakum atau sudah tidak lagi berjalan. Hal tersebut dikarenakan rendahnya minat pengurus akan program pilah sampah, di mana pengurus memiliki persepsi akan rendahnya hasil yang didapat dari program pilah sampah. Di samping itu, belum semua masyarakat memahami arti penting pengelolaan sampah bagi keberlangsungan kebersihan dan keindahan lingkungan yang akan berdampak pada kesehatan lingkungan.

Padahal pada pertengahan tahun 2019 padukuhan Banjardadap memperoleh bantuan dana aspirasi dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan dana APBD T.A. 2019 dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yaitu berupa sarana prasarana seperti rumah pilah sampah, kendaraan angkut roda tiga, gerobak, mesin pencacah organik, dan tempat sampah, serta warga juga memperoleh sosialisasi dan pelatihan pengelolaan sampah.

Namun sarana prasarana tersebut belum pernah digunakan sebagaimana mestinya, dikarenakan program pilah sampah yang sudah tidak lagi berjalan dan tidak adanya kelompok pengurus program pilah sampah.

Berdasarkan potensi sumberdaya dan permasalahan yang ada maka program yang dilaksanakan adalah “Pendampingan Pilah Sampah Mandiri di Kelompok Pengelola Sampah Ngudi Resik” dan tujuan pendampingan tersebut yaitu: Pertama meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah dalam kesehatan lingkungan. Kedua meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan sampah 3R (Reduce, Reuse, and Recycle). Ketiga inisiasi penguatan kelembagaan/organisasi yang berinduk di rumah pilah sampah. Keempat perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Bahan Bacaan

Aris Slamet. (2020). “Pendampingan Program Pilah Sampah di Kelompok Pengelola Sampah Ngudi Resik Desa Potorono, Banguntapan, Bantul ”. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.