Pemanfaatan Dana Desa untuk UKM di Desa Wirokerten

Musyawarah warga Desa Wirokerten. WIROKERTEN.BANTUL.GO.ID

Dana Desa diartikan sebagai dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui APBD. Lebih lanjut, menurut UU No 32 Tahun 2004, pemerintah memberikan kesempatan kepada masyarakat desa untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan persyaratan yang diamanatkan dalam undang-undang tersebut, yaitu diselenggarakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip keadilan, peran serta masyarakat, pemerataan, keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah.

Untuk itu, Dana Desa merupakan bagian dari dana pemerataan pusat dan daerah yang dikhususkan untuk desa dalam mengimplementasikan layanan pemerintah dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.

Dana Desa diterima melalui perencanaan pembangunan pedesaan. Pengalokasian Dana Desa hendaknya mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa) dan rencana kerja pemerintah desa. Pemanfaatan alokasi Dana Desa merupakan wujud desentralisasi bidang keuangan yang diberikan kepada pemerintah desa.

Porsi alokasi Dana Desa yang diberikan disesuaikan dengan program atau rencana kerja pemerintah desa yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembangunan fisik dan pemberdayaan masyarakat. Dana Desa juga berpeluang untuk menurunkan tingkat kemiskinan. Hal ini dikarenakan Dana Desa memiliki manfaat, salah satunya yaitu untuk mengurangi ketimpangan pembangunan antar desa melalui optimalisasi pelayanan publik dan pengembangan potensi.

Namun demikian, implementasi penggunaan Dana Desa sering kali kurang optimal. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan penggunaan Dana Desa tidak sesuai dengan kebijakan yang ada, sumber daya manusia sebagai pengelola Dana Desa yang masih belum memadai, pembangunan fasilitas dan infrastruktur yang belum terealisasi, dan minimnya partisipasi masyarakat.

Asni F dalam studi berjudul The Management of the Village Found Allocat as an Instrumentowards Economic Independen Village berpendapat kemampuan pemerintah desa dalam manajemen keuangan berpengaruh dalam keberhasilan pengelolaan Dana Desa. Hal ini terkait dengan kemampuan perangkat desa dalam menyusun APBDes, perencanaan dan program pembangunan desa serta kemampuan administrasi lainnya.

Padahal, partisipasinya masyarakat, modal sosial, peran kelembagaan pengelola menentukan efektivitas implementasi penggunaan Dana Desa. Untuk itu, Dana Desa hendaknya tidak dimaknai sebagai dana yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada desa agar menjadi lebih otonom. Namun, juga dapat mendorong partisipasi dan pembangunan.

Maka dengan adanya partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan Dana Desa, diharapkan akan mewujudkan desa yang kuat dan mandiri, yaitu desa yang mampu menentukan program prioritas untuk memenuhi kebutuhan lokal dan melaksanakan perencanaan desa sehingga mampu memecahkan masalah desa. Partisipasi masyarakat juga bermanfaat untuk mengontrol penggunaan anggaran Dana Desa.

Desa Wirokerten berada di Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul memiliki luas wilayah sebesar 386,17 hektar dan dari delapan pedukuhan serta 75 RT. Desa Wirokerten memiliki beragam potensi, seperti desa wisata, pemancingan ikan bawal, obat herbal, serta Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

UKM di Desa Wirokerten tersebar di enah dukuh, yaitu di Kepuh Kulon, Wirokerten, Glondong, Muntilan, Grojogan dan Kepuh Wetan. UKM, yaitu sentra emping melinjo, pengrajin sepatu rajut, pembuatan paving block, perkebunan hidroponik, dan pemilahan sampah.

Desa Wirokerten pertama kali mendapat alokasi Dana Desa pada tahun 2015. Kebijakan pengalokasian ini tercantum dalam Peraturan Bupati Bantul Nomor 29 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pengalokasian Dana Desa untuk Setiap Desa Tahun Anggaran 2015. Ketentuan besaran alokasi Dana Desa tertuang dalam Peraturan Bupati yang diperbarui setiap tahunnya. Besaran Dana Desa yang diterima oleh setiap desa pada setiap tahun tidak sama karena tergantung pada kemampuan APBN yang kemudian mempengaruhi pengalokasiannya untuk APBDes.

Proporsi pengalokasian Dana Desa di Desa Wirokerten untuk kegiatan pembangunan fisik sekitar 70 persen dan pemberdayaan masyarakat sekitar 30 persen. Fokus perencanaan dan sasaran Dana Desa di Desa Wirokerten tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa). RKPDesa ini menentukan arah perencanaan dan sasaran Dana Desa untuk satu tahun ke depan. Penyusunan RKPDesa mengacu pada fokus perencanaan Pemerintah Desa yang tertuang dalam RPJMDesa.

Berdasarkan temuan Muslihah mengenai pemanfaatan Dana Desa, berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dana Desa mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja melalui implementasi program-program yang bersumber dari Dana Desa. Namun, kondisi berbeda nampak terjadi di Desa Wirokerten.

Meskipun UKM telah tersebar di hampir seluruh dukuh di Desa Wirokerten, akan tetapi, Desa Wirokerten tergolong desa dengan tingkat kemiskinan tertinggi kedua di Kecamatan Banguntapan, yaitu 19 persen dari total penduduk di Kecamatan Banguntapan.

Dana Desa di Desa Wirokerten dialokasikan untuk beberapa kegiatan, seperti pelatihan UKM, pelatihan KWT dan Gapoktan, bantuan alat, dan fasilitas promosi pameran produk di Bantul Expo. Beberapa hal yang menjadi kendala, di antaranya yaitu pola pikir masyarakat yang belum bisa berpikir maju dan enggan keluar dari ‘zona nyaman’ terhadap mata pencahariannya sebagai petani atau buruh tani.

Sebagian besar masyarakat masih menjadikan pertanian sebagai sumber penghasilan utama dan enggan beralih maupun mencari sumber penghasilan tambahan. Kegiatan UKM bagi sebagian besar anggota yang juga berprofesi sebagai petani hanya digeluti ketika ada pesanan dan akan kembali menjadi petani saat pesanan telah selesai. Padahal kegiatan UKM yang beragam di Desa Wirokerten berpeluang untuk meningkatkan perekonomian masyarakat jika digeluti dengan seksama.

Selain itu, penyebab lainnya karena kegiatan UKM juga merupakan jenis kegiatan pemberdayaan masyarakat yang notabene memerlukan waktu cukup lama untuk dapat melihat manfaat yang dihasilkan. Berbeda dengan perkembangan fisik yang dapat langsung dirasakan manfaatnya sehingga dampak sosial dan ekonomi dari UKM belum begitu signifikan dirasakan.

Karena kurangnya keaktifan masyarakat, terus kurangnya kesadaran untuk lebih maju dari masyarakat, dan masyarakatnya yang masih susah untuk diajak berkembang. Sampai saat ini yang sudah berhasil, yaitu pelatihan kelompok wanita, Gapoktan, pelatihan hidroponik, pengolahan sampah. Dalam hal BUMDes, saat ini sudah berjalan tetapi belum berjalan dengan baik karena belum ada dana operasional awal.

Selain itu, pengurusnya juga sudah sepuh-sepuh sehingga kurang produktif untuk mencari profit atau keuntungan. Mereka membuat kerajinan kalau ada pesanan saja, jika tidak ada pesanan yang kembali menjadi petani atau mata pencaharian sebelumnya.

Faktor internal lebih ke kualitas sumber daya manusia, masyarakatnya yang masih susah untuk diajak berkembang, hanya satu dua saja yang mau diajak untuk berusaha dan berkembang. Hanya segelintir masyarakat saja, tidak semuanya aktif.

Padahal, setiap kita mau adakan kegiatan dalam hal pengelolaan Dana Desa, kita adakan sosialisasi, kalau masyarakat setuju ya lanjut, kalau masyarakat rasanya kurang setuju ya kita ganti dengan kegiatan yang lain. Terutama di masyarakat sekitar yang mau diadakan kegiatan tersebut.

Bagi UKM yang ada saat ini, UKM masih bergantung pada bantuan pemodalan dan peralatan yang diberikan oleh Desa. UKM yang ada masih belum cukup mandiri untuk melaksanakan aktivitas produksinya. Terdapat keterbatasan kreativitas dan partisipasi masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan UKM sehingga kegiatan-kegiatan peningkatan kapasitas UKM masih sangat bergantung dengan ketersediaan Dana Desa.

Selain itu, juga masih rendahnya tingkat keterampilan dan tingkat pendidikan anggota UKM dalam mengembangkan UKM. Kondisi ini sesuai dengan latar belakang pendidikan masyarakat di Desa Wirokerten yang didominasi oleh tamatan SD sebesar 19 persen dan SMA sebesar 26 persen. Meskipun pihak desa telah berupaya mengalokasikan Dana Desa untuk peningkatan kapasitas UKM, tetapi partisipasi dari para anggota untuk melaksanakan dan meneruskan masih rendah.

Bahan Bacaan

D I Arrosyid dan A M Sukmawati. (2022). ‘Pemanfaatan Dana Desa bagi Kegiatan Usaha Kecil Menengah di Desa Wirokerten, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi D.I. Yogyakarta’. Region: Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, Vol. 17(1) 2022, 85-103.