Perempuan sebagai Pilar Desa

Pemberdayaan Perempuan Desa. KALURAHAN SABDODADI

Berbicara tentang perempuan tidak akan pernah habis. Bahkan semakin meningkat seiring perubahan jaman. Perempuan diidentikkan dengan ‘empu’, yaitu seseorang yang sangat ahli. Sejatinya, perempuan memang orang yang ahli. Mereka ahli dalam mendukung suami, mendidik anak-anaknya, menjaga rumah serta harta benda suami, dan lain-lain.

Sampai-sampai ada istilah ‘di belakang seorang suami yang sukses, pasti ada perempuan yang hebat pula’. Begitu luar biasanya perempuan ini, meskipun dianggap sebagai sosok yang lemah gemulai, di baliknya tersimpan potensi yang tak kalah hebatnya dengan pria.

Begitu pula di desa. Walaupun kedudukan perempuan di desa tidak tampak dominan, mereka memiliki peran yang sangat menentukan, terutama apabila si suami adalah seorang petani yang kesehariaanya bekerja di sawah. Perempuan memiliki peran dalam hal menentukan keuangan, hari tanam terbaik, dan kegiatan yang perlu dilakukan di sawah.

Biasanya para perempuan jugalah yang melakukan proses tanam padi, jagung, kacang, dan lain-lain. Oleh karena itu, sawah identik dengan seorang ‘dewi’, yaitu Dewi Sri. Ia adalah simbol dari kesuburan dan kehidupan. Melalui perempuan kita memulai kehidupan dan merekalah yang mendidik bermacam-macam karakter generasi penerus.

Pembangunan desa tidak boleh lepas dari pemberdayaan perempuan karena mereka dapat berkontribusi untuk desa yang lebih maju dan sejahtera. Perempuan haruslah dijadikan subjek pembangunan dan bukan objek pembangunan. Perempuan harus dilibatkan penuh terhadap semua bentuk pembangunan desa agar mengetahui kondisi desanya saat ini dan kondisi desa setelah pembangunan.

Perempuan desa selama ini cenderung tidak dilibatkan dalam proses pembangunan. Hal itu memberikan pandangan seolah-olah tidak ada pekerjaan yang cocok dan sesuai untuk perempuan. Paradigma ini perlu diubah agar perempuan mampu mengembangkan potensi dirinya untuk berkontribusi terhadap perkembangan dan perubahannya desanya.

Perempuan mampu dan dapat mengerjakan tugas-tugas pria, seperti bekerja dalam pemerintahan desa atau lembaga desa. Tak menutup kemungkinan mereka dapat lebih baik daripada pria. Adanya Pendidikan dan pelatihan akan membantu para perempuan untuk dapat setara dengan pria dalam segala bidang, tetapi mereka juga tak boleh lalai dengan tugas mengasuh dan menjaga anak selama masa tumbuh dan berkembang.

Berdasarkan data Badan Pusay Statistik (BPS) tahun 2021, diketahui bahwa ada sekitar 36,20% perempuan yang bekerja, baik di sektor formal maupun informal. Apabila dibandingkan dengan jumlah pria yang bekerja (43,39%), jumlahnya hampir setara.

Hebatnya, perempuan masih harus bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga di samping bekerja di sektor formal dan informal. Ini adalah salah satu kehebatan perempuan; mampu melakukan lebih dari satu pekerjaan. Peran ganda perempuan dalam membantu ekonomi rumah tangga tentunya harus dilihat sebagai suatu keberuntungan karena tidak semua bersedia melakukannya.

Namun, secara alami perempuan sudah bekerja keras dalam membantu ekonomi rumah tangga. Mungkin beberapa perempuan yang tidak ingin meninggalkan rumah karena alasan pribadi atau dilarang oleh suami. Barangkali juga pekerjaan yang diizinkan oleh suami haruslah dekat dengan rumah karena masih harus mengurus anak-anak. Berdasarkan alasan inilah desa seharusnya dapat menggerakkan perempuan untuk lebih mengambil peranan dalam perekonomian desa karena pekerjaannya cenderung dekat atau di rumah.

Perempuan Melek Finansial

Perempuan harus lebih melek finansial karena perempuan biasanya pemegang kendali keuangan para suami. Kemampuan tersebut sangat diperlukan agar tanggung jawabnya dapat dilakukan dengan baik. Memang masyarakat akan bertanya, “Apa yang mesti dikelola, wong uang saja hanya cukup untuk makan sehari-hari?”

Justru keuangan yang sangat minim inilah perempuan harus dapat melek finansial. Pemasukan yang sedikit, jika dikelola dengan baik akan sangat berharga. Apabila kemampuan finansial ini dimiliki oleh banyak perempuan maka desa akan lebih kuat pertahanan finansialnya, karena mengandalkan pada pria saja akan lebih sulit.

Kemampuan finansial diikuti oleh kemampuan teknis lainnya, seperti kemampuan mengelola usaha rumahan, kemampuan mengelola marketing, dan kemampuan lain yang akan berdampak positif bagi rumah tangga. Namun, desa harus juga memberikan pelatihan yang cukup kepada para perempuan agar usahanya lebih optimal.

Perempuan adalah Pemimpin

Ada sebuah kata bijak dari Shilpa Negi, “Jadilah wanita pemimpin, percaya diri, dan berani.”

Perempuan memiliki daya juang yang sangat kuat, tak lapuk oleh waktu, dan tak lekang oleh zaman. Bahkan negeri ini di masa perjuangan juga banyak dipimpin oleh pejuang wanita yang tak mau menyerah. Mereka rela mati atau diasingkan di negeri yang jauh dari kampung halaman.

Secara bioligis, tubuh wanita memang lebih lemah daripada pria, tetapi tersimpan kekuatan yang patut diperhitungkan. Demikian juga dengan para perempuan desa, memiliki daya juang yang kuat tidak kalah dengan para pria. Perempuan bekerja di sawah, mengurus ternak, berdagang, dan lain-lain.

Keterlibatan perempuan dalam urusan pekerjaan memang tidak boleh dipandang sebelah mata. Desa harus mampu melihat dengan utuh. Desa juga harus menyadari betapa sangat membutuhkan peran perempuan dalam mengelola dan membangun desa. Entah sebagai apapun, termasuk sebagai pemimpin desa.

Akan sangat baik apabila perempuan diberi kesempatan menjadi pemimpin lembaga desa, seperti Lembaga Pemusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Kemasyarakatan, hingga BUMDes. Berdasarkan inilah kesetaraan antara pria dan perempuan dibuktikan dengan adanya kerelaan para pria untuk memberikan ruang dan kesempatan atas potensi perempuan desa.

Perempuan dan Membangun Generasi

Perempuan memang tidak dapat dilepaskan dengan anak-anak yang kelak akan menjadi generasi penerus. Tanpa adanya keterlibatan perempuan secara utuh dan penuh, anak-anak tidak akan menjadi generasi emas. Memang Pendidikan dan pengajaran adalah hak orang tua, baik itu pria atau perempuan. Namun, keseharian anak-anak sangat dekat dengan sosok perempuan yang biasa disebut ‘ibu’.

Ibu berperan penting dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak karena ia yang merawat sampai anak dapat mandiri. Tidak sampai di situ, membekali perempuan dengan pengetahuan banyak hal merupakan kebutuhan yang penting. Sebagai contoh membekali perempuan agar jiwa kuat tatkala merasakan gundah.

Desa memberikan ruang dan kesempatan bertumbuh yang tak kalah dengan kota. Para generasi dapat menumbuhkembangkan potensi sesuai dengan kearifan lokalnya melalui sentuhan kasih sayang dari seorang perempuan. Harapannya, para generasi dapat menjadi pemimpin-pemimpin yang penuh rasa percaya diri dan keyakinan karena telah ditempa oleh ibu, perempuan yang menjadi pilar desa.