Sejarah Berdirinya Situs Candi Ratu Boko

Ragam bangunan di situs Candi Ratu Boko. KEMENDIKBUD

Sejarah situs Ratu Boko berawal dari pengunduran diri Rakai Panangkaran atau Tejahpurnapanne Raja Mataram Kuno yang beragama Buddha. Raja ini membangun Wihara Abhayagiriwihara, yang dalam prasasti dengan nama yang sama di tahun 792 M.

Pendopo serta gua merupakan bangunan awal Wihara di bukit Walaing ini yang kemudian diyakini sebagai situs Ratu Boko.

Rakai Panangkaran sebagai Raja terbesar Mataram Kuno mengundurkan diri karena usia lanjut dan ingin mengasingkan diri. Panangkaran ialah pembangun Candi Kalasan, Sewu, dan Borobudur.

Panangkaran menyerahkan kekuasaan kepada putranya Panarabwan. Pada masa pemerintahannya, Wihara berkembang dengan dibangunnya gapura serta Candi Kecil di sekitarnya. Bukti pembangunan gapura tertulis dalam lempengan emas yang di dalamnya terdapat kata Panerabwan yang diyakini identik dengan Panarabwan. Pasca pemerintahan, Panarabwan tidak diketahui perkembangan serta kejadian yang terdapat pada situs.

Muncul kemudian nama Rakai Walaing pu Kumbhayoni yang disebut dalam empat prasasti, yaitu Prasasti Ratu Boko a, b, c, serta sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Pereng bertahun 863 M. Di dalam prasasti disebutkan tentang pendirian lingga dan Candi Bhadraloka. Namun, nama Rakai Walaing ini menjadi pertanyaan karena tidak terdapat dalam daftar raja-raja Mataram Kuno. Jadi, kemungkinan dia hanya seorang penguasa watak.

Penulisan jati diri sosok ini dilakukan oleh dua orang ahli epigrafi, J.G. Casparis dan Boechori. Pendapat antara dua ahli ini justru bertentangan satu dengan lainnya. Menurut J.G. Casparis, Rakai Walaing adalah nama lain dari Rakai Pikatan, sedangkan Boechori justru mengatakan bahwa Rakai Walaing adalah musuh Rakai Pikatan.

Namun, bila melihat Prasasti Wanua Tengah III tahun 908 M yang menyebutkan bahwa Rakai Pikatan meninggal sebelum Rakai Kayuwangi naik tahta tahun 855 serta melihat tahun Prasasti Pereng tahun 863 M, maka dapat dipastikan bahwa Rakai Walaing bukanlah Rakai Pikatan.

Prasasti Mantyasih tahun 907 M yang dikeluarkan Belitung oleh Punta Tarka di Walaing sepertinya memberikan bukti bahwa Walaing menjadi tempat pemukiman yang penting sampai abad 10 Masehi.

Ratu Boko ditinjau dari artefak-artefak yang ditemukan yaitu sebelum tahun 600/700 M disebut Fase I, di daerah ini tidak dihuni secara tetap. Pemburu dan petani pernah menetap dan meninggalkan kapak. Selanjutnya tahun 600/700 sampai tahun 775/825 Fase I, masa ini diduga pelaksanaan pembuatan Prasasti Buddha. Daerah ini dihuni oleh penduduk dalam jumlah kecil sebagai pelayan dan golongan atas.

Fase II pada tahun 775/825 sampai tahun 1025/1050, penduduk diperkirakan terdiri dari pekerja bangunan, tukang, pelayan, golongan tingkat atas seperti pendeta dan bangsawan. Pada masa itu diperkirakan pembuatan Prasasti Siwaistis. Kemudian tahun 1025/1050 sampai tahun 1350/1400 fase III, penduduknya adalah petani, pemotong batu, tukang, dan orang berada yang mampu membeli porselin Cina.

Setelah itu, pada tahun 1350/1400 sampai tahun 1850, daerah ini mulai dikosongkan dan ditinggalkan penduduknya. Lalu pada tahun 1850 sampai kini fase IV, penduduk terdiri dari petani, pemotong batu dan pekerja purbakala.

Data Arkeologis

Kawasan Ratu Boko sebagai situs kepurbakalaan juga mempunyai lingkungan kepurbakalaan yang mengelilinginya. Sebelah Utara terdapat Candi Sojiwan, Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Candi Plaosan. Di sebelah Barat terdapat Candi Kalasan dan Situs Watugudig. Di sebelah Selatan terdapat Candi Banyunibo dan di sebelah Tenggara terdapat Candi Barong dan Candi Dawangsari.

Tata letak bangunan Ratu Boko tersebar di area seluas 25 hektar. Terdiri dari dua lapis gapura dan berada paling barat. Gapura I berada di sebelah barat (depan) gapura II. Pada kedua gapura ini sebenarnya terdapat talud dan parit, tetapi pada gapura I keadaannya sudah rusak dan tinggal pondasinya saja, sedangkan pada gapura II masih dapat ditemukan parit dan talud tersebut. Gapura ini merupakan pintu masuk area arkeologi yang sebelumnya didahului adanya tangga masuk.

Candi Pembakaran secara arkeologi diidentifikasikan sebagai batur candi, tetapi masyarakat mengenalnya sebagai tempat pembakaran mayat, sehingga disebut Candi Pembakaran. Di dekatnya terdapat kolam yang dipahatkan langsung ke batuan candi yang berupa batu padas yang keras yang selanjutnya disebut batuan induk. Di sebelah selatan terdapat sumur yang disusun dari batu andesit.

Paseban terdiri dari dua buah batur yang disusun dari batu andesit. Batur pertama di sebelah timur dengan ukuran 25 kali 12 meter dan tinggi 0,33 meter. Batur kedua berukuran lebih kecil dan berada di sisi barat.

Di utara paseban terdapat sebidang tanah datar yang oleh masyarakat disebut alun-alun, tetapi pada penggalian terakhir ditemukan umpak-umpak yang membentuk denah persegi empat. Sebelah selatan paseban terdapat talud dan parit. sedangkan di sisi timur dan barat terdapat gapura kecil dengan keadaan runtuh.

Pendopo yaitu berupa batur pendapa dan batur pringgitan, dikelilingi tembok pagar dengan tiga pintu gerbang. Di atas batur pendopo terdapat umpak-umpak batu yang diperkirakan sebagai dasar penyangga konstruksi dinding dan atap yang terbuat dari kayu. Di luar tembok pagar terdapat lima buah batur.

Keputren merupakan kompleks yang terdiri dari batur bangunan dan kolam. Di sisi timur terdapat dua buah batur yang tersusun dari batu andesit. Di atas batur ini terdapat umpak-umpak batu serupa dengan yang terdapat di pendopo.

Kolam yang ada merupakan kumpulan kolam. Kolam ini berada di sebelah barat batur. Di sisi selatan terdapat kolam dengan ukuran 20 kali 20 meter dikelilingi tembok pagar setinggi 1,52 meter.

Di dalam pagar terdapat kolam dengan bentuk lingkaran dengan ukuran terbesar diameter 2,5 meter dan terkecil diameter 1,5 meter. Sedangkan di sisi utara kolam berukuran 15 kali 15 meter. Tembok kelilingnya sebagian besar sebagian besar sudah runtuh. Gugusan kolam berbentuk persegi panjang dengan ukuran terbesar lima kali sembilan meter.

Gua berada di atas bukit dan terpisah dari temuan lain. Terdapat dua buah gua yang menghadap ke selatan dengan posisi gua pertama di sebelah selatan gua kedua. Gua ini dibentuk dengan membuat lobang pada batuan induk.

Pada waktu menuju gua terdapat undangan yang bila ditarik garis menuju pendopo. Di depan pertama terdapat kolam yang dipahat langsung pada batuan induk. Pada dinding kolam terdapat relung-relung dan di dasar kolam terdapat lapik berbentuk padma.

Bahan Bacaan

IP, Saptari. (1996). ‘Ratu Boko, Sejarah, dan Potret Keadaannya’. Universitas Islam Indonesia