Semare Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Kampung Ngireng-ireng

Makam Mbah Josono di Pemakaman Mangunan Padukuhan Cabeyan. ANDIKA EVANDRA PUTRA

Mencari informasi tentang sejarah Kampung Ngireng-ireng, sebetulnya dapat digali melalui salah satu nama tokoh yang cukup terkenal pada masanya, yaitu Mbah Josono. Ia adalah satu Kepala Urusan Kesejahteraan dan Agama (Kaum Beselit) pada masa Kalurahan Cabeyan.

Kemudian, ia menjadi Kepala Dukuh Ngireng-ireng Pertama setelah Kalurahan Cabeyan, Kalurahan Prancak, dan Kalurahan Krapyak bergabung menjadi satu kalurahan pada tanggal 24 Desember 1946.

Menurut Giatno, salah satu cucu dari Mbah Josono, asal mula nama Ngireng-ireng adalah ngarung ireng. Ada beberapa orang yang mengartikan kata ngarung sebagai pasar, ada juga beberapa yang mengartikan sebagai warung.

Menurut orang yang mengartikan ngarung sebagai pasar, karena di sekitar tempat tinggal Mbah Josono dibangun lapak-lapak kecil yang berdiri di tanah yang berwarna hitam. Pasar di sini bukanlah pasar yang besar seperti Pasar Niten atau Pasar Bantul. Sebagai gambaran, pasar yang dimaksud adalah hampir mirip lapak-lapak pedagang di utara plengkung Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Sedangkan menurut Giatno, nama ngarung ireng adalah seebuah warung yang dibangun dari dinding bambu (gedek) dan cara masak makanannya masih sangat tradisional karena menggunakan tungku tanah dan kayu bakar. Proses memasak menggunakan kayu bakar itu menimbulkan langes (bekas asap hitam yang menempel) pada dinding–dinding bambu.

Oleh karena itu, daerah tempat para pedagang tersebut dinamakan warung hitam atau ngarung ireng dalam bahasa jawa. Seiring perkembangan zaman, lama-kelamaan berubah nama menjadi Ngireng-ireng.

Masih menurut Giatno, pada zaman dahulu yang berjasa bagi Kampung Ngireng-ireng ada empat nama, yaitu Josono, Karso, Ino, dan Kromo. Warga menganggap bahwa empat nama inilah yang menjadi cikal bakal Ngireng-ireng.

Dahulu kala, empat orang tersebut adalah jawara pada masanya. Konon, jika empat tokoh ini sudah berkalung udeng, ketika mereka keluar dari Kampung Ngireng-ireng, tidak ada satu pun orang yang berani melawannya.

Sebagai salah satu cucu dari keempat jawara, Giatno melihat dengan kepala sendiri bahwa setiap hari pasti ada yang datang ke rumah minta pertolongan. Selain pekerjaan resminya sebagaI Dukuh Ngireng-ireng, Mbah Josono terkenal sebagai penghusada (tabib). Mbah Josono sangat terkenal sebagai penghusada di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat itu.

Giatno berkata, “Setahu saya, simbah pernah diminta pertolongan untuk menyembuhkan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), menolong orang yang sedang kemalingan, dan menolong orang yang akan menebang pohon besar yang diduga ada makhluk gaib menghuninya. Sebenarnya, banyak kisah tentang bagaimana simbah diminta tolong mengobati semua jenis penyakit yang diderita warga di wilayah Jawa Tengah dan DIY.

Pada waktu Giatno kecil, sekitar umur dua atau tiga tahun. Mbah Josono pernah mengajak balapan jalan cepat dengan saya sambil berkata, “Nek iso nyekel aku, tak nehi hadiah (kalau bisa menangkap aku, akan kuberi hadiah).”

Namun, seingat Giatno, ia tidak mampu mengejar Mbah Josono yang hilang entah ke mana. Menurut orang tua dan sesepuh Kampung Ngireng-ireng, Mbah Josono memiliki ilmu meringankan tubuh.

Mbah Josono penyuka kereta kuda (andong) lengkap dengan aksesorisnya. Bahkan pernah memiliki kereta kuda warisan keraton yang bernama kereta kencana Kiai Kapolitin. Konon, harga kereta kencana Kiai Kapolitin sangat mahal dan tidak sembarang orang dapat memilikinya, hanya orang tertentu saja. Selain kereta kuda, ia juga memiliki keris dengan ukuran kecil hingga besar, tombak, pedang, dan cundrik. Pada waktu itu, ia juga sudah memiliki senjata api.

Mbah Josono sangat disegani dan dihormati oleh semua warga Padukuhan Ngireng-ireng. Suatu ketika, ia akan bertani di sawah. Sesampainya di tempat aliran sungai, ia bertemu dengan salah satu warga yang sedang bertani juga. Orang tersebut langsung menawarkan diri kepada Mbah Josono untuk membantu bertani. Bahkan ketika ia punya hajatan, semua warga berdatangan sambil membawa semua yang dibutuhkan olehnya.

Mbah Josono juga piawai dalam mendalang. Namun, Giatno tidak tahu persis, apakah kakenya pernah diundang pentas wayang atau tidak? Giatno hanya tahu bahwa kakeknya pandai dalam mendalang. Bahkan gaya bicara Mbah Josono pun sudah seperti pendalang; halus dan pandai dalam menggunakan bahasa Jawa krama inggil.

Berdasarkan beberapa informasi yang saya dapat dari orang tua dan sesepuh Kampung Ngireng-ireng, Mbah Josono pernah melakukan kungkum (berendam) di tempuran sungai dalam waktu yang lama. Bahkan ia juga pernah melakukan topo pendem sampai 40 hari.

Cerita yang beredar, Mbah Josono ini dijuluki Semare Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Menurut para orang tua dan sesepuh, Kanjeng Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono X, pernah beberapa kali main ke rumah Mbah Josono sewaktu masih kecil. Juga ada satu cerita bahwa seorang pemelihara kuda Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang bernama Karso, pernah memelihara kuda milik Mbah Josono.

Cerita lainnya saya dapatkan dari Mbah Zaini alias Tondo Pawiro, seorang pria berusia sekitar 80 tahun. Kebetulan Mbah Zaini adalah adik dari istri terakhir Mbah Josono. Pada waktu itu, ia adalah orang yang diberi amanah mengurus sawah, kuda, andong, dan kereta kencana.

Menurut Mbah Zaini, Mbah Josono termasuk orang yang kaya di wilayah Padukuhan Ngireng-ireng. Ia memiliki tiga ekor kuda yang mahal harganya. Ia juga memiliki satu buah kereta kencana Kiai Kapolitin dan dua buah andong, salah satunya bernama Baron buatan luar negeri.

Hubungan Mbah Josono dengan pihak Keraton Yogyakarta sangatlah dekat. Terbukti dari kereta kencana Kiai Kapolitin yang beberapa kali dipinjamkan ke pihak keraton ketika mereka menginginkan untuk memakainya. Pada waktu itu, Mbah Zaini adalah orang yang selalu mengantarkan kendaraan tersebut ke Keraton Yogyakarta.

Sayangnya, memori Zaini tidak begitu bagus sehingga yang ia sampaikan kepada saya tidak begitu banyak. Ia pun tidak dapat mengingat semua kejadian ketika menjadi tangan kanan Mbah Josono.

Add Comment