Sibudidikucir dalam Praktik Budi Daya Ikan

Kolam Mina Arum. PUTRI INDAHSARI

Selaku media untuk menyediakan hal-hal yang dibutuhkan untuk perkembangan hidup manusia, teknologi lahir dari adanya perubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana. Hingga pada saat ini, manusia terus berinovasi untuk menciptakan perkembangan teknologi.

Teknologi menjadi hasil daya pikir dan usaha manusia untuk melahirkan serta mengembangkan suatu pola yang dimanfaatkan sebagai solusi dari persoalan hidup manusia. Teknologi menjadi hal yang sangat lekat dalam kehidupan manusia, karena peran dan kontribusinya yang tidak dapat luput dalam aktivitas sehari-hari.

Teknologi memberikan pengaruh kepada berbagai sektor kehidupan, salah satunya adalah sektor perikanan. Penggunaan teknologi oleh pembudi daya ikan merupakan wujud dari karakter pembudi daya yang aktif dan terbuka terhadap perkembangan.

Menurut Fatuchri (2002), sektor perikanan memiliki potensi sumber daya terkait menghadapi tantangan global. Mengaplikasikan teknologi pada proses budi daya ikan adalah hal yang positif, karena sebagai salah satu wujud mengembangkan sumber ekonomi andalan.

Terdapat beberapa hal yang perlu dilaksanakan untuk mencapai hal tersebut. Pertama, pengembangan perikanan dilakukan dengan tanggung jawab dan ramah lingkungan. Kedua, pengembangan budi daya ikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketiga, pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan petani ikan. Keempat, penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, dan peningkatan ekspor.

Kelima, penciptaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Keenam, penciptaan kualitas sumber daya manusia. Ketujuh, penciptaan iklim usaha yang kondusif. Kedelapan, pengembangan kelembagaan dan pembangunan kapasitas. Kesembilan, pemulihan dan perlindungan sumber daya dan lingkungan.

Berbagai jenis teknologi telah berkembang pada sektor perikanan, khususnya budi daya ikan, seperti teknologi sistem resirkulasi, teknologi busmetik, teknologi probiotik, teknologi bioflok, teknologi akuaponik, teknologi yumina dan bumina, teknologi pakan terapung, teknologi bioremediasi, teknologi protein sparing, dan teknologi 90% satiation feeding.

Pertama, teknologi sistem resirkulasi merupakan teknologi yang menggunakan proses nitrifikasi dari bakteri. Tujuan dari teknologi ini adalah untuk mengubah limbah sisa pakan ikan menjadi nitrat, yakni komponen yang lebih ramah untuk ikan. Pada langkah selanjutnya, nitrat juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk.

Kedua, teknologi busmetik merupakan teknologi yang meminimalisasi ukuran petak tambang budi daya pada penerapannya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi pakan dan memudahkan pembudi dayanya dalam hal mengontrol. Selain itu, teknologi busmetik juga memanfaatkan

Ketiga, teknologi probiotik sering kali digunakan pada budi daya udang untuk meminimalisasi limbah. Selaku upaya budi daya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, teknologi ini dimanfaatkan untuk memperbaiki mutu air tambak dengan cara merubah bahan organik menjadi komponen terurai lainnya.

Keempat, teknologi bioflok adalah teknologi yang mengimplementasikan keseimbangan unsur dalam air dengan tujuan untuk mengurangi sisa-sisa sampah. Kelima, teknologi akuaponik umumnya digunakan budi daya ikan lele karena terbukti dapat menghemat lahan dan air pada proses produksi. Selain itu, kotoran yang dihasilkan oleh ikan lele dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman.

Keenam, teknologi yumina dan bumina. Menurut Imam Taufik, dkk (2015), teknologi ini merupakan peningkatan dari teknologi akuaponik yang dikembangkan oleh Balai Riset Perikanan Budi Daya Air Tawar (BRPBAT) Bogor dan Balitbang Kelautan dan Perikanan.

Teknologi budi daya yumina merupakan teknologi budi daya ikan yang didampingi dengan pemeliharaan sayur. Sementara itu, teknologi budi daya bumina adalah teknologi budi daya ikan yang didampingi dengan pemeliharaan ikan. Kedua teknologi tersebut masih dalam satu unit pemeliharaan, jadi hasil produksinya pun sangat menguntungkan karena dapat menghasilkan ikan, sayur, dan buah.

Ketujuh, teknologi pakan terapung yang digunakan untuk meninjau jumlah pakan yang diberikan pada ikan selama proses budi daya. Umumnya, teknologi ini hanya dapat dilakukan untuk ikan-ikan yang makan di permukaan. Kedelapan, teknologi bioremediasi yakni penggunaan mikroorganisme untuk mengembangkan polutan tertentu guna menurunkan kadar polutannya. Teknologi ini juga digunakan sebagai opsi dalam upaya pengendalian pencemaran air.

Kesembilan, teknologi protein sparing adalah teknologi yang memanfaatkan karbohidrat sebagai pakan. Hal tersebut dilakukan guna meminalisasi penggunaan tepung ikan. Kesepuluh, teknologi 90% satiation feeding adalah teknologi dengan konsep memberikan pakan pada ikan dengan kisaran 90%. Tujuannya untuk mengurangi makanan yang tersisa dan membuat metabolisme ikan menjadi lebih sehat.

Selain itu, teknologi yang digunakan dalam praktik budi daya ikan adalah teknologi kincir air. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah mengembangkan teknologi berbasis kincir air sejak tahun 2018. Teknologi tersebut menjadi salah satu alat yang memiliki peran penting dalam proses budi daya ikan.

Pada awal dikembangkan, teknologi kincir air telah diterapkan pada tujuh titik lokasi budi daya ikan. Salah satu kelompok budi daya ikan yang memanfaatkan teknologi kincir air adalah Kelompok Budi Daya Ikan Mina Arum. Berawal dari Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman serta PT Central Proteina Prima yang memfasilitasi dengan tujuan meningkatkan hasil produksi ikan.

Kini, Kelompok Budi Daya Ikan Mina Arum telah dapat mengembangkan dan mengaplikasikan teknologi kincir air secara mandiri, tanpa bantuan dari Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman. Teknologi ini berperan untuk menciptakan air agar lebih alami, membantu proses pemupukan air, serta dapat menghasilkan keseimbangan ekosistem kolam. Kincir air juga menempatkan kotoran dasar kolam ke pembuangan pusat. Hal itu sangat membantu dalam pembersihan dasar kolam ikan.

Terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam penerapan teknologi kincir air, seperti lokasi, lahan, sarana dan prasarana, benih, pakan, dan panen. Umumnya, ukuran kolam yang dibutuhkan ketika menggunakan teknologi ini adalah kolam yang berukuran 200 hingga 1.000 meter persegi dengan kedalaman air 0,8 hingga 1,5 meter. Kelompok Budi Daya Ikan Mina Arum sendiri menggunakan teknologi kincir air pada seluruh segmennya, yakni segmen pembenihan dan segmen pembesaran.

Selaku ketua Kelompok Budi Daya Ikan Mina Arum, Joko Widodo menilai pemanfaatan teknologi kincir air pada praktik budi daya ikan memiliki nilai yang positif. Ia dan anggotanya dapat menghasilkan panen ikan tiga kali lipat lebih banyak jika dibandingkan tidak menggunakan teknologi kincir air.

Praktik budi daya ikan dengan memanfaatkan teknologi kincir air disebut juga sebagai kegiatan Sibudidikucir. Selaku program unggulan yang memiliki banyak keuntungan, kegiatan Sibudidikucir juga memiliki beberapa kekurangan.

Menurut Joko, tidak semua anggota Kelompok Budi Daya Ikan Mina Arum memiliki modal untuk menggunakan teknologi kincir air, mengingat modal yang dibutuhkan tidak sedikit. Selain itu, karena beberapa kolam letaknya jauh dari jangkauan arus listrik, diperlukan modal tambahan untuk pemasangannya.

Joko menambahkan bahwa kegiatan Sibudidikucir termasuk dalam usaha yang memiliki risiko yang tinggi. Hal itu disebabkan jika kincir air mati, ikan yang berada dalam kolam yang menggunakan kincir air tersebut juga akan mati. Selain modal yang tinggi, hal tersebut menjadi faktor lain mengapa anggota kelompok tidak memanfaatkan teknologi kincir air dalam praktik budi daya ikan. Walaupun begitu, kegiatan Sibudidikucir tetap dilakukan dengan tujuan sebagai intensifikasi.