Smart Village, Desa Bertumbuh

Suasana Syahdu Pedesaan. KEBUPATEN BANTUL

Seiring perkembangan zaman, teknologi akan semakin mutakhir. Era digital menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari lagi, mau tidak mau segala aspek kehidupan akan mengikuti era ini. Termasuk juga desa, tidak mungkin desa terus mengandalkan cara tradisional untuk mengenalkan potensinya ke masyarakat luas.

Diperlukan cara yang lebih efektif dan efisien. Efektif artinya yang dilakukan dengan fokus dan tepat sasaran, sedangkan efisien adalah penggunaan dana dan tenaga yang seminimal mungkin dengan hasil yang semaksimal mungkin.

Kenapa demikian? Tidakkah seharusnya pemanfaatan potensi desa mampu menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya?

Untuk teknologi, marketing, serta branding cukup ditangani oleh sedikit orang yang benar-benar ahli dibidangnya. Tenaga lebih besar bisa diarahkan ke bagian produksi, di sinilah seharusnya tenaga masyarakat dikerahkan. Dengan demikian pemanfaatan potensi desa bisa berjalan efektif dan efisien.

Bagian produksi juga menjadi tempat bagi masyarakat berkumpul membentuk ikatan emosional antara masyarakat dan potensi desa yang mereka kembangakan. Ikatan ini kemudian bisa menjadi motivasi masyarakat untuk mengembangkan desanya.

Teknologi, marketing, serta branding dapat diserahkan pada generasi muda yang akrab dengan gadget. Para pemuda desa juga harus diberi ruang untuk berkarya membangu desanya. Dengan begitu para pemuda ini tidak perlu keluar dari desa untuk bisa berkarya atau mencari pekerjaan, mereka dapat berkarya di desa dan membangun desa dengan semua potensi yang telah dimiliki desa.

Kreativitas generasi muda dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi desa yang berupa wisata alam, tradisional, seni, budaya, adat istiadat, kuliner dan pangan kepada masyarakat luas.

Intinya, desa bisa berdaya dan berkontribusi bagi kemajuan negara. Dengan desa menjadi berdaya, desa tidak akan lagi menjadi tempat kemiskinan, kurang akses pendidikan, stunting, serta pengangguran.

Semangat gotong royong, persaudaraan, kemakmuran, kedamaian, serta pelestarian adat budaya dan alam juga menjadi identitas desa. Hidup bisa di era apa saja, mau 4.0, 5.0, atau 6.0 namun jiwa dan pikiran tetap berbudaya santun yang menghargai tradisi yang baik.

Kebanyakan generasi muda saat ini sudah jarang yang mengerti tradisi dan adat istiadat desa, istilahnya adalah ‘Jawa ilang Jawane’. Anak-anak muda sudah sangat jarang yang mau belajar tentang kesenian, cara berpakaian, cara bersopan santun, dan bahasa daerahnya.

Ini bisa menjadi peluang desa untuk mengembalikan jati diri anak-anak muda ini. Salah satu alasan generasi muda meninggalkan budaya asalnya adalah karena keengganan dilabeli sebagai wong ndeso. Padahal, wong ndeso pun tetap bisa memiliki pengetahuan yang luas, sehingga akan selalu nyambung jika berkomunikasi dengan lawan bicara dari berbagai kalangan.

Mungkin di desa tidak ada sesuatu yang hebat dan besar, seperti pencakar langit, akan tetapi desa tetap menjadi salah satu sumber untuk mencari kedamaian dan ketenangan. Kalau desa mampu menghadirkan perasaan damai kepada para pengunjung, tentu akan desa itu akan menjadi tujuan banyak orang untuk belajar dan tinggal sementara menikmati ketenangan dan kedamaian itu.

Desa benar benar harus merawat lingkungannya agar tetap asri dan lestari dengan semua aspek pendukungnya. Suara air mengalir, angin yang berhembus, kicauan burung burung dan hewan hewan desa lainnya menambah terciptanya suasana desa yang syahdu.

Agar memiliki kemampuan untuk hidup di era 4.0 dan 5.0 maka desa harus mulai belajar dan beradaptasi dengan cara-cara masyarakat modern dalam berinteraksi dan bertransaksi. Itulah pentingnya desa memiliki sistem yang terpadu, mudah dikontrol dan mampu menyerap tenaga kerja yang banyak dengan potensi pasar yang besar.

Masyarakat harus mulai familiar dengan e-commerce, website, email dalam kehidupan sehari hari. Sudah menjadi tuntutan masyarakat dunia untuk memiliki gadget dan laptop sebagai sarana berinteraksi antara manusia satu dengan lainnya. Teknologi ini pula yang menjadikan jarak bukan lagi halangan untuk manusia saling berinteraksi.

Kesempatan ini harus menjadi peluang besar bagi desa yang ingin maju dan berkembang dengan memiliki sendiri sistem perdagangan desa, yaitu sebuah sistem terpadu yang dapat memberikan semua informasi desa dan apa yang ada di desa untuk bisa dinikmati masyarakat lainnya. Dengan adanya sistem perdagangan desa setidaknya desa sudah ikut dalam Program Smart Village yang dicanangkan Kementerian Desa Pembangunan Daerah dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Ada beberapa unsur yang perlu dan harus ada guna mempersiapkan menjadi desa digital agar tidak hanya menjadi desa pengguna tapi menjadi desa pembuat, pengolah, dan pemakai. Desa harus memiliki beberapa orang yang cakap dalam bidang sebagai berikut;

Kepala Program

Seseorang yang memiliki kemampuan kepemimpinan untuk mengelola manajemen di dalam organisasi, komunikatif, memiliki pengetahuan yang luas tentang desa, mengetahui hal hal tentang bahasa pemrograman, memiliki visi yang besar tentang kemajuan desa.

Web Disainer

Seseorang yang memiliki kemampuan membuat desain website agar memiliki ‘rasa’ serta mudah digunakan oleh setiap orang. Baik bentuk teks, gambar, animasi dan lain sebagainya harus dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan orang untuk berselancar.

Web Programer atau Developer

Seseorang yang berperan menghubungkan sumberdaya yang akan digunakan pada suatu website atau aplikasi dengan kemampuan bahasa coding pemrograman.

System Analyst

Seseorang yang bertanggung jawab atas penelitian, perencanaan, pengkoordinasian dan merekomendasikan penggunaan perangkat lunak.

Disamping membutuhkan empat sumber daya manusia utama tersebut masih diperlukan lagi beberapa tenaga ahli yang terlatih, yaitu admin, keuangan, stok barang, marketing dan kurir. Kebutuhan tim pendukung ini sangat diperlukan agar program bisa berjalan dengan baik.

Namun demikian, sebelum program ini dijalankan ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu jaringan internet yang stabil. Sebab, jika tidak ada jaringan internet yang stabil di desa tersebut, program akan sangat sulit dijalankan. untuk itu diperlukan kerjasama yang terkoordinasi dengan baik dengan pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, serta provinsi untuk menjalankan program.