Suro Nyekér

Mbah Maridjan. ANTHONY LEE

Pergantian tahun hijriah pada tahun 2021 ditandai erupsi Gunung Merapi. Gunung berapi paling aktif di Indonesia ini berkali-kali memuntahkan awan panas dan guguran lava pijar. Alhamdulillah, tidak ada laporan dampak erupsi, baik skala kecil maupun besar.

Membicarakan bulan Suro dan membahas tentang aktivitas Gunung Merapi maka tidak afdal tanpa menyebut nama sang legenda penunggu Merapi, Mbah Maridjan. Ia adalah salah satu tokoh yang langka. Sosok yg merepresentasikan kesederhanaan dalam kehidupan, teguh dalam keyakinan, dan kesetiaan sampai ajal menjemput.

Perihal kesederhanaan atau katakanlah ‘keganjilan’, pernah suatu ketika ada teman dari Jakarta yang bertanya, mengapa Mbah Maridjan tidak pakai sepatu? Barangkali itu syarat dari sebuah laku. Sebab, dalam keseharian maupun ketika bepergian, ia selalu nyeker (tanpa alas kaki) dan tampak tidak merasakan panasnya aspal atau dinginnya embun pagi.

Ia hanya tersenyum seperti biasanya dan menjawab datar, “Sampun biasa, Mas, malah mboten saged kalau pakai sepatu (Sudah biasa, Mas, justru tidak bisa kalau pakai sepatu). ”

Beberapa tahun kemudian saya baru tahu jawabannya. Ketika mengantar tamu ke Keraton Jogja, semua abdi dalem yang bertugas semuanya nyeker. Melalui abdi dalem yang sedang istirahat di bawah pohon sawo kecik itulah saya mendapat jawaban.

Sangkan paraning dumadi, dumadining sangkan paran. Bahwa di dunia ini tidak ada yg kebetulan, semua pasti ada sebabnya. Alasan Mbah Maridjan nyeker adalah itu titah dan aturan dari keraton. Ia juga menghormati tempat yg beliau injak, seperti ketika masuk ke masjid yang mengharuskan copot sandal atau sepatu. Ia hanya ingin menghormati kesucian.

Rupanya, aturan nyeker di area dalam Keraton Yogyakarta itu berlaku untuk semua, baik itu dari pangeran sampai abdi dalem. Saya pikir itu merupakan bentuk dari demokratisasi karena manusia itu sama dan setara. Semua manusia itu berasal dari bumi, menginjak bumi dan akan kembali ke bumi.

Mbah Maridjan bisa saja pakai sepatu ketika di luar lingkungan keraton, seperti kegiatan kondangan atau memakai sandal kalau ke ladang. Namun, kepatuhan dan ketaatan akan perintah dan kesetiaan berdasar sumpah, dijadikan kebiasaan yang melekat sampai akhir hayat.

Barangkali kalau ia masih hidup, tentu akan senang hati ketika disandingkan dengan Mbak Reisa Brotoasmoro dalam kampanye melawan pandemi Covid-19 maupun kesadaran untuk vaksin. Saya yakin ini akan efektif karena beliau pasti melakukan dengan sepenuh hati dan terus mengobarkan optimisme dan semangat hidup.

Ada sebuah kalimat dari Mbah Maridjan yang dapat dipetik. Kutipan yang tak panjang, tetapi mampu menunjukkan bahwa ia adalah abdi dalem yang penuh dedikasi. Barangkali juga, kutipan ini dapat dijadikan pedoman bagi saya atau kita.

Ajining manungso iku gumantung ana ing tanggungjawabe marang kewajibane (Kehormatan seseorang dinilai dari rasa tanggung jawabnya pada kewajibannya).

 

Kasongan, 10 Agustus 2021 (1 Suro Alip 1955)