Titik Awal Perjalanan

Verlin Waruwu dan Keempat Adiknya. VERLIN WARUWU.

Menginjakkan kaki di bangku SD, menjadi awal dalam kehidupan menempa diri untuk mencapai impian. Pada waktu itu, saya mulai bercita-cita menjadi pendeta. Cita-cita ini dipilih karena panggilan jiwa; suka melayani kepentingan orang banyak, serta mengarahkan orang ke jalan yang baik dan benar. Namun, cita-cita itu hanya berhenti sampai kelas empat SD karena melihat seorang polisi.

Akhirnya saya memutuskan untuk bercita-cita menjadi seorang polisi. Dalam benak, kelak dapat membantu dan melayani masyarakat dengan tulus dan ikhlas, serta melahirkan citra polisi yang baik dalam kehidupan.

Untuk mencapai impian tersebut, saya mulai membenahi diri dengan berbagai kegiatan. Mulai dari menjadi ketua kelas dari kelas satu sampai kelas enam SD, ikut kegiatan pramuka dan mengambil posisi sebagai pemimpin regu, serta ikut dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah desa.

Impian menjadi seorang polisi sudah sangat tertanam. Bahkan, ketika ditanya oleh guru, orang tua, dan teman-teman tentang cita-cita, saya selalu menjawab, “Menjadi polisi”.

Terkadang mereka menertawakannya karena ukuran fisik yang begitu pendek. Oleh karena itu, saya mendapat julukan Bapak Semut. Julukan ini menjadi bahan untuk mengejek saya setiap hari. Meskipun kadang sedikit risih, hal itu tidak terlalu saya persoalkan.

Sejak di bangku SD, sudah menjadi anak yang disayangi para guru karena selalu menjadi pribadi penurut dan tampil dalam kegiatan apapun. Kepribadian seperti inilah yang membuat guru senang, walaupun kadang tingkah nakal saya tidak bisa dikondisikan.

Selain itu, saya termasuk pintar di kelas dan selalu mendapatkan posisi juara kelas. Namun, terbatasnya keuangan keluarga, segala capaian yang sudah saya dapatkan tidak pernah mendapat hadiah dari orang tua. Saya juga takut menyampaikan permintaan untuk dibelikan sesuatu. Saya sudah tahu orang tua tentu akan sangat marah dengan hal demikian.

Menjadi anak yang berprestasi di keluarga tidak membuat diistimewakan. Sejak SD sampai SMA, saya terbiasa tidak mendapatkan uang saku ketika pergi sekolah. Orang tua saya menganggap bahwa hal itu akan membuat ketergantungan meminta uang saku dan menjadikannya alasan untuk ke sekolah.

Menariknya, orang tua selalu memberikan pemahaman agar kami tidak mencuri uang ketika mereka tidak bisa memberikan uang jajan. Pengalaman tersebut memberikan saya hikmah bahwa untuk mendapatkan sesuatu dari orang tua, kita tidak harus menuntut.

Saya sudah terbiasa disuruh mengambil makanan ternak di pinggir pantai sejak kelas empat SD. Kami bertani dan menanam berbagai kebutuhan sehari-hari disana. Baik itu untuk keluarga maupun makan ternak peliharaan.

Melalui kegiatan membantu orang tua, saya mulai belajar untuk bekerja dengan ikhlas dan tulus tanpa mengharapkan uang saku dari orang tua. Tanpa terasa didikan itu terbawa dalam setiap kepemimpinan saya di sekolah.

Memasuki bangku SMP, saya tidak terlalu dikenal oleh lingkungan sekolah. Hal yang menjadi bahan untuk mencari jati diri masih belum ditemukan. Dalam pengetahuan pun banyak ketinggalan karena dulu kurang gemar membaca dan berdiskusi.

Awalnya, ingin jadi ketua kelas lagi, tetapi dengan kondisi fisik yang pendek menjadi persoalan baru. Tempat saya bersekolah dulu, ketua kelas dipilih berdasarkan tinggi badan. Dengan terus berusaha mencari ruang yang lain, masuklah saya di grup vokal OSIS. Dimulai dari sini, nama saya mulai dikenal di kalangan para siswa. Ketika kelas sembilan, saya mengajukan diri menjadi ketua kelas dan akhirnya terpilih.

Sejak SMP, banyak kenangan dari julukan yang tersemat pada diri saya, seperti Guru Jemaat (nama panggilan untuk pelayan dalam gereja) atau dalam bahasa Nias disebut ‘sinenge’. Pemberian julukan sinenge ini saya dapatkan dari teman-teman yang selalu ribut di kelas.

Julukan ‘ketua seksi’ juga tersemat pada diri ini. Saya mendapatkannya ketika menjadi ketua kelas. Nama itu muncul karena celana yang saya pakai berada di atas lutut.

Setiap kali ke ruang guru untuk mengambil buku catatan kesalahan, saya selalu menarik celana ke bawah agar menutupi lutut. Sayangnya percuma, sama sekali tidak membantu. Sebab, permasalahan utamanya ada pada kainnya.

Jika bertanya, mengapa tidak mengganti celana yang tak mampu menyembunyikan lutut saya? Jawabannya adalah keuangan yang terbatas. Beberapa kali bilang kepada orang tua, tetapi mereka menjawab, “Untuk apa beli celana lagi? Nanti, siapa yang pakai? Sebentar lagi kamu juga masuk SMA.”

Celana yang saya pakai itu dijahit sejak awal masuk SMP. Awalnya, panjang celana itu di bawah lutut. Sewajarnya remaja yang masih berada di fase pertumbuhan, celana itu semakin tidak sanggup menutupi lutut karena badan yang semakin tinggi.

Berdasarkan pengalaman, saya tidak pernah mundur ataupun malu. Dalam bermimpi pun tidak pernah malu, bahkan dengan fisik yang dimiliki tidak ada kata berhenti untuk menggapainya. Sayangnya, saya jarang mendapat kesempatan untuk lebih dekat dengan mimpi yang tergantung tinggi itu.

Setiap 17 Agustus dan juga kegiatan pramuka, saya sering tidak terpilih menjadi anggota lomba baris-berbaris maupun kegiatan menjelajah. Dapat dikatakan, pengembangan diri ketika SMP dalam upaya menggapai cita-cita menjadi seorang polisi tidak terpenuhi. Hal ini tidak membuat menyerah, malah menjadi pemacu semangat untuk terus melangkah menuju cita-cita.

Pengalaman yang paling berkesan bagi adalah ketika ada teman yang sakit dan kami menjenguknya ke puskesmas dengan menggunakan sepeda. Ternyata teman kami yang sakit, sudah pulang ke rumah.

Sepulang dari puskesmas, kami tak sengaja berpapasan dengan seorang guru. Salah satu teman kami berteriak sambil memanggil nama julukan guru tersebut di tengah keramaian. Guru yang bersangkutan pun berbalik arah dan kembali ke sekolah untuk melapor kepada kepala sekolah.

Kami tiba di pintu masuk sekolah, di sana sudah ditunggu dan disambut berbagai pertanyaan. Tanpa pikir panjang, kepala sekolah tersebut langsung menampar karena menganggap kami menghina guru. Hal itu menjadi salah satu kasus yang melibatkan saya.

Berkat bantuan dari wali kelas dan salah satu guru fisika yang terus membentengi kami dan melakukan negosiasi kepada kepala sekolah, agar orang tua kami tidak dipanggil dan kami juga tidak dibariskan di depan seluruh siswa. Saya pun mendapat sanksi. Padahal bukan salah saya.

Namun, kejadian tersebut membuat saya terkesan dengan sikapnya yang secara tidak langsung memberi contoh bersikap bagai seorang pemimpin dalam membela rakyatnya ketika ada kesalahan yang tidak terlalu fatal. Bagi saya, sih, tidak terlalu fatal. Walaupun ia membela, perasaan marah karena kesal kepada kami tetap ada. Ia pun tidak mendiskriminasi kami. Itu semua menjadi pembelajaran bagi saya.