Kafe dan ASN, Antara Kontroversi dan Kreasi

Coffee Shop for remote Working. WORKFLEXIBILTY

Masih ingat kontroversi ASN nongkrong di kafe sambil ngopi? Mungkin dalam kacamata beberapa orang, ASN yang baik itu kerjanya identik dengan duduk manis di kantor bukannya malah nongkrong di kafe. Yang sering menjadi polemik adalah pandangan beberapa orang tentang kafe yang identik dengan kemewahan, bukan warung kopi berdinding bambu atau angkringan bertenda biru.

Bekerja di luar kantor saja sudah menimbulkan banyak pertanyaan di sana sini, apalagi membawa label kafe yang notabene masih terasa seperti ironi. Seakan-akan ngopi dan nongki mencerminkan loyalitas yang minim terhadap instansi, yang akhirnya mengundang kontroversi.

Sejak munculnya pandemi, beberapa hal harus berubah dan disesuaikan dengan kondisi. Salah satunya adalah tersusunnya kebijakan dan terbentuknya kebiasaan baru dalam menjalankan tugas dan fungsi. Pandemi Covid-19 memang memaksa kita untuk mengalihkan bahkan mengubah beberapa kebiasaan.

Mulai dari kebiasaan yang meningkatkan kepedulian tentang gaya hidup sehat, penerapan protokol kesehatan di berbagai level lingkungan, hingga penyesuaian interaksi yang mengakibatkan adanya pembatasan sosial, yang semua itu dimaksudkan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Keseluruhannya itu membuat kita dituntut untuk berdamai dengan keadaan. Dengan penetapan berbagai aturan selama pandemik masih berlangsung, ASN pun tak lepas dari imbasnya. Ketentuan PPKM yang membatasi ruang gerak, memaksa untuk diberlakukannya sistem Work From Home (WFH) oleh pemerintah.

Di era itu diberlakukan pelonggaran jam kerja, yang kemudian memunculkan istilah Work From Home (WFH) di dunia birokrasi. Sesuai dengan istilah tersebut, seorang ASN boleh bekerja dari rumah dengan syarat kejelasan tugas dan list pekerjaan yang akan dilakukan.

Fleksibilitas dalam bekerja dengan adanya sistem pembagian shift WFH-WFO bagi ASN mulai diterapkan oleh instansi yang tidak termasuk dalam sektor esensial. Penyelesaian tugas pekerjaan dapat dilakukan di rumah atau tempat lainnya yang dirasa mendukung untuk bekerja. Dinamika perubahan ini disambut dengan berbagai reaksi oleh ASN.

Pada awalnya para ASN ini memang benar-benar melakukannya di rumah. Beberapa menerimanya dengan gembira. Mereka merasa diuntungkan karena tidak perlu terburu-buru berangkat untuk mengejar absen pagi. Sebagiannya merasa senang karena tak perlu tampil rapi berseragam. Bahkan bisa membagi waktu antara menyelesaikan pekerjaan sambil merampungkan pekerjaan rumah tangga atau menemani anak bermain.

Seiring waktu, dampak dari lamanya pandemi berlangsung, ditambah pula dengan dinamika sosial-kesehatan yang menurun menyebabkan diperpanjang pula masa pembatasan sosial, lalu munculnya rasa jenuh dan bosan akibat terkurung di dalam hunian

Akhirnya mulai mencari alternatif bekerja di luar rumah saat mendapat giliran WFH. Kemudian muncul opsi bekerja di kafe yang dirasa nyaman dalam menyelesaikan pekerjaan. Tujuannya adalah agar tetap dapat bekerja dengan nyaman, mendapatkan fasilitas yang memadai untuk bekerja, seperti koneksi internet dan ruangan yang cukup luas, sekaligus agar target kerja tercapai sesuai rencana.

Namun, fenomena ini nyatanya memunculkan kontroversi dari masyarakat. Dalam pandangan mereka, terdapat kode etik yang harus dipatuhi oleh seorang ASN tentang ketentuan tempat dan jam kerja. Dan bekerja dari kafe dinilai bukanlah tempat yang tepat dalam menyelesaikan tugas pekerjaannya. Keberadaan kafe yang menjamur pasca serangan pandemi masih diasumsikan sebagai lingkungan yang berbau hedonisme yang kental dengan nuansa foya-foya. Sementara ASN dianggap sebagai sosok public figure yang harus dijaga kewibawaanya dengan menjauhi gaya hidup demikian.

Pandangan semacam inilah yang perlu diluruskan dalam menanggapi suatu fenomena. Dengan adanya aturan baru yang meringankan para ASN untuk melakukan pekerjaan di mana saja, maka fleksibilitas tempat bekerja menjadi salah satu konsekuensinya. Saat pemerintah menetapkan pemberlakuan sistem WFO-WFH yang kemudian berkembang menjadi Work From Anywhere (WFA) bagi tenaga ASN, hal itu berarti mereka bisa bekerja dari mana saja.

Boleh dari manapun dengan syarat tugas yang diberikan dapat diselesaikan. Dan bisa sesegera mungkin kembali ke kantor jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Sehingga masyarakat tidak perlu kaget jika melihat ada ASN yang bekerja di berbagai tempat pada saat jam kerja termasuk di kafe-kafe.

Kafe atau istilah asingnya Coffee Shop awalnya merupakan tempat untuk bersantai bagi kalangan dengan tingkat ekonomi menengah ke atas seperti kalangan pengusaha atau para pejabat yang biasanya menjamu tamu perusahaan. Kelompok masyarakat ini mencari tempat untuk bersantai sambil menikmati menu makanan dan minuman yang disajikan dengan diiringi alunan musik. Itulah sebabnya timbul kesan bahwa kafe adalah tempat yang cukup mewah dan berada diluar jangkauan bagi ASN yang berpenghasilan rata-rata.

Namun saat ini, kafe tidak hanya menjadi tempat bagi kalangan mampu saja. Seiring dengan terbentuknya kebiasaan baru selama masa pembatasan saat itu, terbangun juga metode pemulihan ekonomi yang ditangkap dengan cepat oleh para pelaku bisnis. Konsumennya berkembang tak hanya dari para entrepreneur, tapi juga kalangan karyawan, termasuk ASN, yang membutuhkan fasilitas tempat yang nyaman untuk bekerja.

Kafe yang semula berkesan mewah dan tak bisa dijangkau kalangan bawah, mulai berubah konsepnya menjadi lebih sederhana. Kafe kemudian dirancang dalam ruang-ruang yang lebih kecil dengan tetap menawarkan kenyamanan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya mulai marak kafe-kafe kecil yang memberikan layanan sesuai kebutuhan konsumen yang memfungsikan kafe sebagai tempat bekerja. Dalam perkembangannya kemudian muncul kafe-kafe yang sengaja didesain untuk ruang kerja dengan berbagai pilihan tema. Dari yang memang bersuasana ruang kerja dengan segala fasilitasnya, hingga yang bernuansa santai dengan sofa dan bean bag yang bervariasi. Hidangan yang disajikan menjadi lebih beragam dengan menu yang juga disesuaikan dengan harga yang lebih ramah kepada lingkungan barunya.

Menyelesaikan pekerjaan di kafe bagi sebagian orang memiliki sensasi tersendiri. Selain bisa lebih nyaman dalam bekerja, fokus menjadi lebih mudah terbentuk jika dibandingkan saat berada di kantor yang terkadang auranya terkesan kaku dan penuh tekanan.

Dalam hal ini, masyarakat dan pemerintah sendiri harus sadar pada keadaan dan fenomena yang terjadi mengikuti jaman. Salah satunya adalah tumbuhnya kearifan dalam menoleransi tempat bekerja sambil terus membangun rasa tanggung jawab terhadap penyelesaian tugasnya. Dengan memberikan kelonggaran tersebut, diharapkan justru dapat membangun lingkungan kerja yang inspiratif.

Karena inspirasi sering muncul ketika kita berada di tempat baru yang lebih nyaman. Didukung dengan suasana yang santai, ruangan dan fasilitas yang memadai, dan ditemani makanan dan minuman yang seleranya sesuai. Dengan begitu biasanya ide-ide dapat mengalir deras, memunculkan kreativitas dan menghasilkan inovasi baru yang tanpa batas.

Kita hidup di zaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bergerak sangat dinamis. Segala sesuatunya dapat dipantau secara online dan realtime. Fleksibilitas merebak di dunia kerja terkait pelaksanaan hingga pengawasan. Pemantauan pekerjaan dapat dilakukan melalui berbagai media yang telah tersambung dengan jaringan internet. Banyak aplikasi media baru yang bermunculan dari hari ke hari untuk memenuhi permintaan dunia kerja yang semakin kompleks. Yang dulunya media chatting semacam WhatsApp hanya dijadikan sebagai ruang pribadi, kini sudah dapat mengakomodir hingga ke level koordinasi. Media daring semakin marak dengan berbagai aplikasi yang memfasilitasi berbagai jenis rapat.

Mungkin ini merupakan sesuatu hal yang baru, tetapi hal ini tak bisa dihindari karena memang perkembangan zamannya seperti itu. Yang bisa dilakukan adalah menyikapi dengan bijak dan terus meningkatkan kemampuan dengan banyak berguru. Pemerintah dengan segala unsur di dalamnya pun harus peka dan responsif terhadap budaya dan perkembangan yang selalu baru. Sudah saatnya mengadopsi dan memperbaharui sistem dengan tanpa meninggalkan bagian yang masih dianggap relevan.

Dengan adanya aturan baru yang terikat dengan berbagai aspek ini, harapan yang ingin dicapai adalah meningkatnya produktivitas, efektivitas, dan juga kreativitas dalam lingkup yang lebih luas. Tentu saja ketercapaian target pencapaian suatu program tetap menjadi tujuan akhir yang diharapkan tuntas.

Saat terbentuk pandangan masyarakat yang negatif terhadap perilaku ASN yang bekerja dari berbagai ruang, termasuk di antaranya dari kafe-kafe, mungkin dikarenakan belum adanya pemberitahuan tentang aturan yang memperbolehkan ASN untuk bekerja di luar lingkungan kantor.

Masyarakat menganggap ASN yang berada di kafe saat jam kerja masih berlangsung adalah sesuatu yang lucu bahkan tabu. Apalagi ditambah dengan pola pikir yang mengasumsikan bahwa kafe merupakan lingkungan yang hanya bisa dimasuki oleh orang mampu. Hal inilah yang kadang menimbulkan rasa cemburu.

Di tengah penyesuaian gaya hidup karena pandemi, ASN pun akhirnya dituntut pula untuk adaptif terhadap pola kerja yang berbeda dari sebelumnya. Ditambah lagi dengan budaya posting di sosial media yang mempercepat viralnya suatu peristiwa. Kemudian berlanjut dengan gempuran komentar yang tak selalu sepemikiran. Di sinilah mental ASN menemui ujiannya. Jika tak kuat, maka bisa mengganggu fisik dan psikisnya yang mengakibatkan penurunan kinerja.

Hal ini juga termasuk pada fenomena ASN yang bekerja di luar kantor, fenomena yang tidak biasa seketika menjadi sorotan publik. Atau pandangan masyarakat yang memandang fungsi kafe sebagai tempat santai, maka tak ayal mereka menganggap ASN yang ada di Coffee Shop hanya untuk bersantai ria.

Jika ditanya, apa yang menjadi alasan para ASN memilih kafe sebagai ruang alternatif untuk bekerja? Maka jawabannya akan sangat beragam. Salah satunya mungkin karena suasana kafe yang santai dan ruangannya nyaman hingga membantu menjernihkan pikiran saat bekerja. Dalam perkembangannya sah sah saja bila kemudian sebuah instansi mendesain kantor bergaya ala tempat nongkrong yang terkesan lebih ramah. Mungkin keadaan lingkungan kerja ikut berubah, tidak lagi terasa kaku dan menakutkan serta membuat tegang.

Siapa yang tidak pernah melihat orang-orang saat ini bekerja dari kafe? Saat ini sudah banyak kafe-kafe yang memang sengaja didesain khusus untuk tempat bekerja. Saat ini fungsi kafe telah berkembang menjadi tempat untuk mencari inspirasi dan memperluas relasi.

Alih fungsi kafe kini perlu dicermati ulang. Bahwa saat ini kafe tidak hanya sekedar menjadi tempat untuk bersantai atau kulineran. Di kafe, kita juga bisa menggunakannya sebagai tempat bekerja dan belajar. Akhirnya semakin banyak orang yang merasa nyaman bekerja di lingkungan kafe.

Suasana kerja kantor yang identik dengan ruangan yang serius dengan meja kursi yang seragam, dan kadang tidak nyaman serta dihadapkan pada tembok dan jendela yang sama, lama kelamaan membuat otak jenuh. Berbeda dari tempat kerja yang santai dengan alunan musik dan suasana lingkungan yang nyaman. Ternyata lingkungan yang nyaman dapat mendukung tingkat produktivitas seseorang, termasuk ASN.

Seorang yang tahan duduk berjam-jam di kafe dan hanya berkutat dengan laptop, pada dasarnya mereka sedang bekerja. Kafe juga bisa dijadikan sebagai alternatif tempat meeting bersama rekan. Dampaknya cukup bagus, karena ide segar sering muncul di lingkungan dan keadaan yang membuat nyaman. Jadi sebenarnya bukanlah hal yang aneh saat mendapati ASN tengah berada di kafe-kafe.

Awalnya sistem kerja di Indonesia jarang menerapkan kerja di mana saja alias wajib bekerja di kantor. Namun, setelah pandemi lambat laun muncul kebiasaan baru yang menyesuaikan dengan keadaan. Karena pada akhirnya yang dilihat adalah pencapaian hasil pekerjaan. Jadi, prosesnya bisa dilaksanakan dari mana saja dan dengan cara seperti apa. Yang menjadi tolak ukur adalah produktivitas kerja dan penyelesaian tugas yang diberikan.

Dan harapannya setiap instansi bisa mulai menyadari pola yang baru semacam ini. kecuali pada ranah pelayanan publik yang harus bersentuhan langsung dengan masyarakat. Setiap instansi pasti memiliki sistem kerja berbeda di masing-masing daerah. Tujuannya, untuk menciptakan lingkungan kerja yang efektif, inspiratif, nyaman, dan sejalan dengan visi dan misi.

Selain itu, menyempatkan bekerja di luar kantor juga dapat meminimalisir tingkat stres yang dialami oleh para ASN atau pegawai lainnya. Ini pun penting disadari oleh para pemimpin agar melonggarkan ruang gerak pegawainya dengan catatan target kerja tercapai sesuai harapan.

Beberapa aturan lama dari berbagai instansi menerapkan budaya kerja yang berfokus pada pembentukan karakter seperti disiplin. Namun, jarang yang fokus pada upaya sistem kerja yang membangun kreativitas dan kenyamanan bekerja. Seperti menciptakan ruangan kerja yang serasa di rumah atau kafe. Padahal perubahan kecil namun signifikan di lingkungan kerja dengan mengubah tata ruang misalnya, dapat memberikan dampak yang besar.

Ada salah satu kafe inspiratif yang mungkin bisa diterapkan di Indonesia, seperti kafe di Jepang, yaitu Manuscript Writing Cafe yang tidak mengizinkan pengunjung untuk pulang hingga target kerjaannya selesai. Masing-masing pengunjung harus mencatat target pekerjaan yang harus dicapai.

Kontroversi yang pernah terjadi kemungkinan besar karena kurangnya update terkini tentang fungsi kafe itu sendiri. Aturan baru bagi ASN tentang WFA yang sedang dirancang memberi kesempatan ruang gerak ASN untuk bekerja di luar kantor. Menyelesaikan pekerjaan saat ini cukup fleksibel dan simple. Bukankah sudah saatnya pemerintah juga update terhadap perkembangan zaman?

Jika ASN disinggung tentang gaya hidup yang hedon, apakah ada yang salah? Gaya hidup hedon yang seperti apakah yang dimaksud? Bukankah sudah menjadi hak setiap orang untuk memilih cara untuk memberi reward kepada diri sendiri? Mereka memiliki hak untuk menikmati hasil dari kerja yang telah mereka lakukan. Jika kemudian mereka memilih untuk menjadikan kafe sebagai ruang inspirasi yang bisa meningkatkan kinerja, kenapa hal tersebut menjadi sebuah permasalahan?

Seharusnya fenomena ini tidak menjadi masalah dan bisa dianggap sebagai sesuatu yang wajar saat dihadapkan pada kondisi yang jauh dari kata normal. Namun pada kenyataanya, kita tengah hidup di era sensitivitas publik yang sedang tinggi. Hal-hal kecil akan menjadi sesuatu yang viral atau bahkan trending topik. Pesatnya perkembangan informasi dapat mempercepat meluasnya informasi hanya dalam hitungan detik.

Kita hidup pada era di mana segala hal menjadi mudah diakses dan sangat fleksibel untuk diterima dengan alasan keterbukaan. Namun konsekuensinya adalah, saat sesuatu terlalu mudah untuk menjadi viral, maka akan mudah pula untuk tenggelam. Demikian pula dengan trending topik terkait keberadaan ASN di lingkungan kafe, pada jam kerja pula. Sangat cepat terbentuk persepsi penyalahgunaan fungsi dari seorang birokrat yang notabene adalah agen pemerintah. Seakan kita dipaksa untuk selalu terlihat sempurna di mata publik, bahkan saat belum sempat memberikan penjelasan tentang sebuah konsep perubahan.

Menjadi seorang pemimpin memang harus terlatih untuk menjalani kehidupan dalam parameter kesempurnaan di mata masyarakat. Meskipun kondisi yang sebenarnya mungkin sedang berada dalam fase yang hancur dan terpuruk. Namun di mata publik, tetap harus menampilkan citra birokrat yang tetap mampu berdiri di segala situasi. Ekspektasi semacam inilah yang terkadang menyesakkan bagi ASN hingga membutuhkan ruang yang berbeda untuk merefresh pikiran mereka.

Maksud dari pembahasan kafe disini diibaratkan sebagai simbol bentuk penyesuaian dari suatu perubahan. Bekerja itu tolak ukurnya pada pencapaian menyelesaikan tugas pekerjaan. Namun, bukan berarti melaksanakan WFH selalu di kafe atau di dalam ruangan. Saat ini cukup banyak kafe-kafe yang bisa dijadikan tempat untuk bekerja dengan tujuan bisa merefresh otak untuk memantik ide-ide segar, dibanding suasana kantor yang jenuh, kaku, atau suasana rumah yang rentan terhadap tekanan.

Ini bukan tentang bangunan kafe, tetapi pada lokasi dimana ASN dapat menyelesaikan tugasnya dimanapun ia berada. Sebenarnya pola ini sudah lama berlangsung, yaitu sebelum pandemi melanda. Banyak yang akhirnya membawa pulang kerjaannya baik ke rumah maupun ke tempat lain yang bisa membuat mereka nyaman bekerja.

Namun, yang menjadi kontroversi sekarang ini, ketika kafe dipersepsikan sebagai tempat yang mewah atau untuk sekedar ingin terlihat gaya hedon, mirip lifestyle para pengusaha yang lumrahnya tidak akan bisa terjangkau oleh para ASN karena identik dengan harga yang mahal atau terkesan menjadi suatu hal yang muhal.

Keadaan kemudian berubah sejak adanya pandemi, akhirnya mulai banyak bermunculan kafe-kafe kecil yang sengaja didesain unik atau menonjolkan kesan menarik. Kini sudah banyak tempat-tempat kerja yang sengaja didesain dengan suasana ala kafe yang tidak menjenuhkan.

Implikasinya, para pekerja menjadi betah dan pekerjaan selesai sesuai target yang ditentukan. Inilah yang menjadi salah satu pendukung perusahaan-perusahaan seperti Startup yang kini sudah berkembang pesat. Lalu, mengapa suasana kerja di birokrasi tidak didesain dengan demikian? Jadi, bila seorang ASN membawa pekerjaannya di ruangan kafe, apakah itu salah?

Add Comment