Intensifikasi Budi Daya Ikan oleh Kelompok Budi Daya Mina Arum

Kolam Ikan Nila Kelompok Budi Daya Mina Arum. PUTRI INDAHSARI

Sektor perikanan menjadi salah satu peluang usaha yang menjanjikan. Selaku sumber protein yang tinggi, bukan suatu ketidakmungkinan apabila tingkat permintaan ikan semakin hari semakin tinggi. Strategi dari kelompok budi daya ikan diperlukan untuk memenuhi permintaan masyarakat sekaligus memerankan peran sebagai produsen ikan.

Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi menciptakan strategi intensifikasi budi daya ikan dengan penggunaan kincir air sebagai langkah untuk meningkatkan usaha. Dalam proses penjualan, Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi bekerja sama dengan pihak waduk dan beberapa pasar di Wilayah Sleman.

Kerja sama dengan pihak waduk dilakukan dengan pihak yang telah dipercaya dan dapat bertanggung jawab. Selain disalurkan ke waduk, hasil produksi juga disalurkan ke pasar. Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi sudah memiliki langganan pasar, yakni pasar konsumsi, seperti Pasar Legi Kota Gede dan Pasar Prambanan.

Setiap hari Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi menyalurkan hasil produksinya ke Pasar Legi Kota Gede dan Pasar Prambanan sebanyak 50 kilogram. Sementara penyaluran bibit ikan ke waduk dilakukan setiap hari sabtu dan minggu sebanyak 500 kilogram atau setara dengan setengah ton.

Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi memiliki permintaan menyalurkan hasil produksi sebanyak 150 kilogram atau setara dengan 1,5 kuintal setiap harinya ke pasar lain, yakni Pasar Gawok. Namun, permintaan tersebut tidak dapat terpenuhi karena Kelompok Budi Daya Ikan belum mampu untuk memenuhinya.

Sebelum masuk dalam proses penjualan, Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi melakukan proses karantina pada ikan-ikan yang akan disalurkan. Proses karantina dilakukan untuk mengamati kondisi kesehatan ikan yang dilakukan di dalam bak dengan sirkulasi air, aerasi, pengatur suhu, dan filtrasi sebagai fasilitas di dalamnya. Setelah proses karantina selesai, ikan ditimbang, kemudian disalurkan ke waduk atau pasar.

Ikan nila yang berusia 2,5 hingga 3 bulan sudah dapat disalurkan ke waduk dan pasar. Ukuran ikan yang biasanya diserap oleh pihak waduk umumnya yang berukuran 70 hingga 80 ekor setiap kilogramnya. Sedangkan ukuran ikan yang diserap oleh pasar, terdiri dari berbagai ukuran pada setiap kilogramnya.

Menurut Joko Widodo selaku ketua Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi, ikan nila menjadi ikan tawar memiliki risiko yang lebih rendah jika dibandingkan dengan ikan-ikan tawar lainnya. Namun, seiring dengan perkembangan waktu dan perubahan situasi, terdapat kendala dalam proses pemeliharaan, seperti munculnya penyakit pada ikan.

Walaupun kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi memiliki Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB) yang sudah bersertifikat nasional, Joko menjelaskan bahwa hal tersebut tidak cukup untuk menjadi penunjang dan tidak dapat diterapkan sepenuhnya ketika praktik pemeliharaan langsung di lapangan.

Saat ini, memelihara ikan nila penuh dengan risiko. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kualitas pakan ikan dan penyakit ikan. Kini, pakan ikan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. Namun, kenaikannya tidak diimbangi dengan pengembangan kualitas pakan ikan. Bahkan, terdapat penurunan pada kualitas pakan ikan.

Dulu, ikan yang diberi satu kilogram pakan, akan memiliki berat satu kilogram daging. Lain halnya dengan saat ini, walaupun ikan sudah diberi satu kilogram pakan, berat ikan tetap akan kurang dari satu kilogram daging. Jika ikan nila memiliki berat kurang dari 600 gram, ikan tidak bisa dilanjutkan ke proses penjualan.

Penurunan kualitas pakan juga dapat menyebabkan penyakit pada ikan nila. Ikan nila dapat terserang beberapa penyakit dan hama, seperti jamur, Notonecta, Larva cybister, Trichodina sp, Saprolegniasis, Epistylis spp, bercak merah, dan lain-lain. Selain kualitas pakan, kualitas air, keracunan, genetis, stres, hingga kepadatan ikan dalam satu kolam menjadi faktor lain penyebab ikan nila dapat terserang penyakit dan hama.

Para anggota Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi sudah melakukan berbagai upaya untuk menangani penyakit yang menyerang ikan nila. Seperti pemberian obat-obatan dan vitamin ikan. Joko dan para anggota kelompok mencoba dengan sistem dan strategi pemeliharaan ikan seperti dulu, karena mereka menyadari bahwa pemeliharaan ikan nila saat beberapa tahun silam jauh lebih baik dan stabil jika dibandingkan sekarang.

Upaya menangani penyakit dan hama pada ikan nila dimulai dengan mencoba meningkatkan tebar yang sesuai dengan karakter masing-masing kolam, kemudian dilanjutkan dengan mencari tahu bagaimana pemberian pakan ikan yang tepat. Hal itu disebabkan adanya perbedaan cara pemeliharaan ikan saat musim hujan dan musim kemarau.

Upaya lain yang dilakukan oleh anggota Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi adalah mencari sistematika yang tepat perihal pembibitan hingga pengairan yang baik dalam pemeliharaan ikan nila. Penggunaan air dalam jumlah banyak juga tidak dapat menentukan hasil produksi ikan nila yang baik dan berkualitas.

Di sisi lain, Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi memanfaatkan kerja sama yang telah terjalin dengan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman. Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman akan mengambil alih ikan sakit, yang kemudian diperiksa secara medis guna mengetahui penyebab dan pengobatan pada ikan.

Selain Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, PT Central Proteina Prima dan mahasiswa serta dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) juga turut berkontribusi dalam upaya menangani penyakit dan hama pada ikan nila. Keduanya melakukan berbagai praktik percobaan. Namun, hingga saat ini belum ada hasil yang memuaskan.

Selaku usaha yang menjadi penggerak wirausaha muda, Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi menyusun rencana dan strategi guna menjadi arahan pada langkah-langkah selanjutnya untuk mencapai tujuan kelompok. Penyusunan rencana dan strategi diawali dengan evaluasi kendala-kendala dalam praktik pemeliharaan ikan.

Evaluasi yang dimaksud yakni mengadakan percobaan dan riset untuk mencari solusi terkait kendala yang ada. Walaupun praktik percobaan akan memakan waktu yang tidak sebentar, juga bukan suatu ketidakmungkinan ada kerugian setelah melakukan praktik percobaan, Joko dan anggotanya yakin bahwa usaha yang dilakukan tidak sia-sia.

Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi terus berusaha untuk mengembalikan keadaan pemeliharaan ikan seperti dulu kala, di mana nilai penjualan ikan dapat mencapai nilai dua kali lipat dari modal yang dikeluarkan. Kondisi tersebut berlanjut hingga penurunan terus terjadi sejak tahun 2005 hingga saat ini.

Perubahan tersebut tidak hanya dirasakan oleh Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi, tetapi juga dirasakan oleh pihak-pihak yang turut merasakan hasil produksi kelompok, seperti pihak waduk. Kelompok-kelompok budi daya ikan di Sleman turut merasakan kendala yang serupa.

Selain fokus untuk memperbaiki budi daya sebagai tujuan bersama, Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi juga mematangkan rencana terkait penjualan yang dilakukan secara online. Menurut Joko, diperlukan kesiapan yang cukup rinci, karena menjual benda hidup via online penuh dengan risiko. Selain itu, benda hidup juga mengalami penyusutan. Berat satu kuintal pada hari ini, akan terus mengalami penurunan dalam beberapa hari.

Add Comment