Jamu Tradisional, Potensi Wisata Padukuhan Karangmojo

Jamu Paduka (Padukuhan Karangmojo) hasil produksi ibu-ibu PKK Karangmojo. IG: JAMUPADUKA

Jamu merupakan olahan minuman tradisional yang bahannya berasal dari tanaman herbal, sejak dulu jamu sudah dipercaya masyarakat sebagai minuman yang memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Tradisi minum jamu diperkirakan sudah ada sejak tahun 1300 pada zaman kerajaan Mataram, pada masa itu minum jamu menjadi tradisi dalam menjaga kesehatan untuk mencegah penyakit.

Seiring berjalannya waktu, tradisi minum jamu semakin berkembang melalui kepercayaan turun-temurun. Eksistensi jamu sempat menurun ketika ilmu kedokteran mulai masuk ke Indonesia, saat itu banyak pro-kontra terkait proses pengolahan jamu yang dinilai tidak memenuhi standar kebersihan, masyarakat juga mulai meragukan khasiat jamu.

Eksistensi jamu kembali meningkat pada tahun 1994 pada masa penjajahan Jepang, jamu kembali populer seiring dengan dibentuknya Komite Jamu Indonesia. Pengolahan jamu yang terbilang mudah karena hanya menggunakan bahan-bahan rumahan seperti kunyit, kencur, jahe, lengkuas, dan jenis rimpang atau tanaman lainnya membuat jamu disebut sebagai obat rumahan karena semua orang bisa membuatnya sendiri.

Sampai saat ini masyarakat Indonesia masih menjaga kelestarian jamu sebagai salah satu kearifan lokal, terutama di lingkungan keraton, seperti Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Seiring dengan adanya kemajuan teknologi, jamu kemudian mulai dikemas dalam bentuk yang lebih instan, seperti pil, tablet, dan juga jamu bubuk siap seduh.

Meski begitu, penyajian jamu secara tradisional dinilai lebih kaya akan manfaat, karena lebih segar dan tidak mengandung bahan pengawet. Adanya pengolahan jamu secara tradisional juga merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan masyarakat agar kearifan jamu masih tetap bisa terjaga, hal inilah yang kemudian dilakukan ibu-ibu PKK Padukuhan Karangmojo, mereka memproduksi jamu tradisional yang kemudian dikemas dalam bentuk botol untuk diperjual-belikan.

Produksi jamu tradisional di Padukuhan karangmojo dimulai sejak tahun 2020, berawal dari hibah tanah pelungguh (tanah desa yang digunakan untuk menambah kas desa) yang diberikan kepala dukuh Karangmojo kepada ibu-ibu PKK Karangmojo, tanah tersebut kemudian menjadi modal awal untuk mengembangkan usaha jamu tradisional.

Usaha jamu dipilih karena di Dukuh Karangmojo sendiri terdapat 13 RT yang memiliki kebun toga, Tanaman Obat Keluarga (Toga) merupakan tanaman obat-obatan hasil budidaya rumahan yang bisa diolah menjadi obat atau minuman herbal/jamu meliputi jahe, kencur, lempuyang, lengkuas, temulawak, alang-alang, belimbing Wuluh, jeruk nipis, mengkudu dan kapulaga, jambu biji, sirih, kumis kucing, dan daun kelor. Melihat potensi ini PKK Karangmojo kemudian memilih usaha jamu tradisional untuk dikembangkan dengan memanfaatkan potensi alam sekitar.

Banyaknya kebun Toga di Padukuhan Karangmojo merupakan potensi ekonomi yang bisa dikembangkan agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Usaha jamu tradisional ini jika terus dikembangkan bisa menjadi potensi daerah Padukuhan Karangmojo. Potensi daerah sendiri muncul ketika ciri khas suatu daerah terlihat menonjol sehingga dapat dikenal oleh banyak orang.

Mengembangkan usaha jamu tradisional merupakan salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengupayakan potensi alam Padukuhan Karangmojo. Ibu-ibu PKK Karangmojo belajar secara otodidak untuk mengembangkan usaha ini, pengolahan jamu tradisional yang terbilang mudah membuat ibu-ibu PKK tidak merasa kesulitan. Jamu hasil produksi ini kemudian diberi label jamu Paduka (Padukuhan Karangmojo).

Manfaat jamu tradisional sebagai obat

Usaha jamu Paduka yang baru dimulai pada awal pandemi 2020 ini kemudian menjadi minuman yang laris di masyarakat karena dianggap bisa mencegah virus Covid-19 dengan memperkuat daya tahan tubuh. Secara umum, adanya inovasi baru di berbagai dunia, termasuk penggunaan obat–obatan tradisional seperti jamu untuk melawan Covid-19 disambut baik oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Karena memang ada banyak cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh selama pandemi, salah satunya dengan mengkonsumsi jamu.

Pengobatan tradisional dengan menggunakan tanaman herbal sebagai bahan utama disebut juga fitoterapi, cara pengobatan ini bertujuan untuk meningkatkan sistem imun, memperbaiki fungsi badan tubuh, dan menghambat pertumbuhan penyakit (Zulki li, 2004: 1).

Jamu juga termasuk dalam fitoterapi karena menggunakan tanaman herbal sebagai bahan penyembuhannya, ada banyak jenis jamu yang berkembang di masyarakat, jamu Paduka yang dikembangkan oleh ibu-ibu PKK karangmojo sendiri memiliki empat jenis jamu yang diproduksi, diantaranya, jamu kunir asem, jamu gula asam, jamu beras kencur, dan jamu empon-empon.

Jamu kunir asam terdiri dari olahan kunir dan asam jawa yang dicampur sehingga menghasilkan rasa yang segar, jamu ini termasuk salah satu minuman yang sering dikonsumsi masyarakat. Jamu kunir asam memiliki manfaat menjadikan tubuh lebih bugar, kunir asam juga banyak dikonsumsi oleh wanita karena dapat melancarkan dan mengurangi nyeri saat haid atau menstruasi.

Secara ilmiah, kunir dan asam jawa mengandung antioksidan tinggi yang sangat baik bagi tubuh. Asam jawa ini juga diolah menjadi jamu gula asam, yaitu jamu dengan campuran asam jawa dan gula merah, gula merah memiliki kandungan gula yang rendah dibanding gula pasir, sehingga minuman ini baik dikonsumsi oleh penderita diabetes. Gula merah juga mengandung beberapa nutrisi lain seperti zat besi, seng, kalsium, kalium, dan juga antioksidan.

Tersedia juga jamu beras kencur, dalam International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences menjelaskan jamu beras kencur bermanfaat untuk membantu mengatasi gangguan pencernaan, seperti sakit perut atau diare. Dari penelitian yang dilakukan Universitas Tanjungpura Pontianak juga membuktikan bahwa jamu beras kencur bisa digunakan sebagai obat untuk mencegah penyakit diabetes.

Karena jamu beras kencur mengandung senyawa fenolik yang bertugas sebagai antioksidan pada penyakit diabetes. Selain itu jamu beras kencur memiliki segudang manfaat yang dipercaya masyarakat, seperti, dapat mengobati jerawat, menangkal radikal bebas dari polusi udara, meningkatkan berat badan, dan juga sebagai obat sakit kepala serta pegal-pegal.

Ada juga jamu empon-empon, dalam bahasa jawa empon-empon merupakan jenis tanaman obat atau rempah yang digunakan sebagai bahan dasar jamu. Tanaman yang digunakan adalah tanaman rimpang, tumbuhan yang tumbuhnya menjalar di bawah permukaan tanah, seperti jahe, kunyit, dan temulawak.

Jahe memiliki manfaat untuk melancarkan pencernaan dan memiliki sifat anti-peradangan, kunyit dipercaya mampu meredakan infeksi karena mengandung kurkumin, sedangkan temulawak memiliki zat aktif yang berfungsi sebagai antioksidan, sehingga jamu empon-empon sangat kaya akan manfaat karena menggabungkan semua rempah tersebut menjadi satu.

Jamu Paduka hasil produksi PKK Karangmojo dikemas dalam botol kemasan 600 ml, dan dibandrol dengan harga Rp15.000 perbotolnya. Jamu Paduka ini dipasarkan melalui media online dengan target pasar daerah Sleman dan Yogyakarta. Ada sekitar 10 orang ibu-ibu rumah tangga yang terlibat dalam proses produksi ini, dalam sehari ibu-ibu ini bisa memproduksi sampai 200 botol jamu Paduka, yang artinya pendapatan ibu-ibu PKK Karangmojo bisa mencapai puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Jamu sebagai potensi wisata

Mengembangkan potensi jamu sebagai wisata di Dukuh Karangmojo bisa dimulai dari pemerintah desa setempat sebagai fasilitator yang memiliki kebijakan, kewenangan dan anggaran desa. Dengan adanya inisiatif itu pemerintah desa kemudian bisa menjadikan warga Dukuh Karangmojo sebagai sasaran pemberdayaan yang nantinya akan menjadi kelompok penghasil dan pemasok bahan dalam memproduksi jamu.

Adanya pemberdayaan ini juga bertujuan agar masyarakat bisa mengolah lahan pekarangan rumahnya untuk dijadikan kebun tanaman herbal, sebagai bahan baku jamu. Banyaknya kebun toga yang sudah ada di Dukuh Karangmojo membuktikan bahwa lahan Dukuh Karangmojo ini cocok untuk ditanami tanaman herbal, sehingga memiliki potensi yang besar.

Pemanfaatan sumber daya lingkungan perlu dilakukan sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan dan gizi warga sekitar. Upaya ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan lahan yang ada untuk ditanami komoditi yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, tujuan utamanya adalah sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga agar bisa mewujudkan kemandirian pangan dan mendapatkan penghasilan tambahan (Kurniawanto dan Anggraini 2019).

Sebagai contoh, seperti yang sudah dilakukan pemerintah dinas kesehatan Kabupaten Tegal terhadap pengembangan wisata jamu di Desa Kalibakung, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Dinas kesehatan Kabupaten Tegal melakukan sosialisasi secara intensif terhadap warga dan pelajar sekitar mengenai visi, misi dan program pengembangan klinik kesehatan dan kawasan wisata kesehatan jamu. Keterlibatan warga dan pemerintah desa setempat bertujuan agar masyarakat paham dan mau menjaga kelestarian tanaman herbal serta dapat mendukung kawasan wisata jamu Desa Kalibakung.

Pemerintah juga melakukan penyuluhan tentang pentingnya menanam dan memanfaatkan tanaman herbal, memperkenalkan jenis-jenis tanaman herbal, serta pengolahan tanaman herbal menjadi sebuah produk jamu. Tujuannya agar masyarakat desa setempat menjadi pemasok bahan baku utama tanaman herbal dan juga sebagai produsen pembuat jamu yang diminati wisatawan. Upaya ini dilakukan untuk menyukseskan keberadaan kawasan wisata jamu.

Adanya proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan partisipatif dengan melakukan dialog terhadap pemerintah desa juga perlu dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang dialami warga agar bisa mewujudkan program pemberdayaan yang positif antara warga sekitar sebagai pelaku usaha dan juga pemerintah selaku pembuat kebijakan.

Pembangunan partisipatif ini nantinya akan mewujudkan masyarakat dan pemerintah desa yang sadar akan pentingnya melestarikan, mengolah dan mengkonsumsi jamu tradisional. Kegiatan ini nantinya bisa terus dikembangkan sebagai kearifan lokal.

Kearifan lokal diartikan sebagai pandangan hidup dan ilmu pengetahuan yang berwujud pada aktivitas yang dilakukan masyarakat setempat dalam menjawab berbagai masalah untuk pemenuhan kebutuhan mereka. Konsep kearifan lokal dalam bahasa asing disebut sebagai local wisdom atau kebijakan setempat, local knowledge atau pengetahuan setempat, dan juga local genius atau kecerdasan setempat (Eliza et al. 2017).

Untuk memulai memberdayakan masyarakat, pemerintah desa bisa mulai membentuk kelompok pemberdayaan ketahanan tanaman herbal di masyarakat, kelompok ini bisa melibatkan kelompok tani, kelompok wanita, ataupun kelompok pemuda yang ada di Dukuh Karangmojo dengan menetapkan sasaran mikro, yaitu mengelola pekarangan rumah menjadi lahan yang ditanami tanaman herbal.

Menetapkan sasaran makro yaitu mengajak partisipasi pemilik perkebunan di masyarakat. Pemerintah juga bisa memfasilitasi lahan bagi beberapa kelompok, dalam hal ini kegiatan kelompok ibu-ibu PKK Karangmojo sudah mulai berjalan dengan mengelola lahan pemberian kepala dukuh untuk diubah menjadi kebun Toga.

Selanjutnya dalam hal promosi dan pemasaran, pemerintah desa bisa bekerjasama dengan dinas kesehatan untuk melakukan sosialisasi manfaat mengkonsumsi jamu ke kelompok masyarakat, sekolah dan juga perguruan tinggi yang ada di daerah sekitar.

Bisa juga dimeriahkan dengan mengadakan event yang menarik minat dan partisipasi masyarakat, seperti pengobatan gratis, pameran tanaman herbal dan jamu, mengadakan lomba kreasi olahan tanaman herbal atau event-event lainnya. Promosi dan pemasaran juga bisa dilakukan melalui internet dan media sosial, bisa dengan melibatkan kelompok pemuda yang lebih paham akan era digital.

Pemberdayaan yang berangkat dari inisiatif memang perlu dilakukan, inisiatif ini nantinya bisa menghasilkan dukungan atau partisipasi pemerintah untuk menyukseskan program pemberdayaan ini. Khususnya dalam hal penyuluhan dan pemberdayaan kepada kelompok masyarakat, adanya penyuluhan ini kemudian bertujuan sebagai penanaman modal motivasi, kemauan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat agar mampu mengoptimalkan potensi sumber daya daerah yang dimiliki, sehingga dapat mewujudkan potensi daerah yang dikelola secara maksimal.

Bahan bacaan:

Nesya Khisti. 2021. Potensi Daerah Sebagai Pelestarian Jamu Dalam Program Feature Selangkah ke Seberang Episode Tamu Kota Jamu di Nguter Sukoharjo. Skripsi. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia.

Bambang Suswanto, Tri Nugroho Adi. 2020. Merancang Program Pemberdayaan dalam Pengembangan Klinik Kesehatan dan Wisata Jamu. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.

Rifqa Army. 2018. Jamu, Ramuan Tradisional Kaya Manfaat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.