Kiprah Wakil Ketua BPD Tamanmartani Pegiat Agribisnis

PKK Tamanmartani. IG: Kalurahan_Tamanmartani

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) merupakan suatu badan yang memiliki tugas utama menjaring aspirasi masyarakat. Untuk itu, dibutuhkan kedekatan dengan masyarakat. Beberapa waktu lalu di Kabupaten Sleman telah melantik ratusan BPD yang mewakili tiap Kalurahan, termasuk di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan.

Salah satu anggota BPD yang dilantik adalah Dwi Rumiyati, sebagai Wakil Ketua BPD Tamanmartani. Sapaan akrabnya ‘Dwi,’ perwakilan dari padukuhan Pucung. Sebelum menjabat sebagai anggota BPD, perempuan kelahiran Juli 1970 tersebut aktif di berbagai kegiatan sosial. Dwi pernah menyatakan bahwa dirinya pernah aktif dalam PKK di padukuhan di tempat asalnya, bahkan ia juga pernah menjadi ketua PKK, selain itu ia juga pernah menjadi ketua kelompok perikanan, menjadi koordinator perkebunan, dan bendahara Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

Dwi kemudian mengungkapkan berbagai prestasi yang telah diraihnya ketika ia aktif di berbagai kegiatan sosial di lingkungan masyarakat, salah satunya Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS). Bahkan dari UPPKS tersebut para anggotanya pun mampu menghasilkan produk rumahan seperti keripik belut peyek kacang, dan telur asin. Omzet dari bisnis tersebut ternyata memberikan feedback yang lumayan, hingga membuka lapangan kerja karyawan. UPPKS di wilayahnya masuk naungan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY.

Dari UPPKS tersebut Dwi mendapat pengalaman berharga, semisal diajak kuliah singkat tentang manajemen usaha. Ia pernah menyatakan bahwa pernah mendapatkan pelatihan manajemen, materi pengetahuan baru dan wawasan sebagaimana di perkuliahan.

Adapun materi yang diperoleh tentang cara mengetahui Break Even Point (BEP) dan juga cara mengetahui kelayakan usaha. Dengan adanya pelatihan tersebut, dapat menambah pengalaman yang sangat berharga. Dwi menjadi lebih antusias dan serius dalam mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut. Hal itu dibuktikan dengan diraihnya juara sebagai peserta terbaik.

Berbagai prestasi terus ditorehkan oleh Ibu Dwi, bahkan tak jarang banyak instansi pemerintah yang mengundangnya untuk menjadi narasumber dalam berbagai acara. Tema yang sering dibawakan terkait pada topik bagaimana produksi bisa berkualitas, pemilihan bahan baku, layout yang menarik, manajemen, dan bagaimana seseorang bisa mempertahankan pasar serta mampu bersaing dengan kompetitor.

Budidaya Tembakau

Dwi Rumiati, seorang perempuan aktivis yang memainkan peran strategis sebagai pegiat sosial. Ketertarikannya terhadap kegiatan sosial dibuktikan olehnya melalui keaktivannya dalam berbagai organisasi sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Selain aktif kegiatan sosial di padukuhan, ternyata Ibu Dwi juga memiliki bisnis usaha pribadi, yakni budidaya tembakau. Budidaya tembakau tersebut dengan alasan untuk meneruskan pekerjaan yang sudah puluhan tahun ditekuni orangtuanya. Ia mengatakan budidaya tanaman tembakau sendiri memang dibilang tidak sulit. Menurutnya wilayah Indonesia dengan dataran tinggi memang sangat cocok untuk pembudidayaan tanaman tembakau.

Teknik perawatan tanaman tembakau memiliki perlakuan khusus dan perhatian ekstra. Memang tidak tidak mudah, tetapi jika kualitasnya bagus, keuntungannya yang diperoleh juga tinggi. Tembakau salah satu tanaman primadona yang banyak menghasilkan keuntungan terhadap pemiliknya.

Untuk menghasilkan tembakau yang berkualitas bagus, Dwi menjelaskan bahwa ada tiga indikator, yakni gondo, rupo, dan roso. Gondo mengacu pada aroma tembakau. Tembakau dengan kualitas terbaik memiliki aroma yang harum dan agak manis. Biasanya ciri-ciri tembakau yang kualitas warnanya lebih cerah agak kekuningan.

Sementara roso atau rasa yang terbaik adalah rasa yang mantap. Mantap disini maksudnya halus di tenggorokan tapi bisa dirasakan ke otak. Halus maksudnya tidak nyegrak, tapi di (kepala) sedud. Namun tiga indikator tersebut juga dipengaruhi oleh cara perlakuan atau perawatan tembakau. Tembakau yang terlalu banyak diberi pupuk urea, rasanya akan menusuk di tenggorokan, namun di kepala tetap terasa efeknya. Jika menggunakan pupuk ZA, rasanya tetap enak, tapi di tenggorokan terasa lebih halus.

Selain dari perlakuan terhadap tembakau, Karakter tanah juga sangat mempengaruhi. Jika tanah yang ditanami merupakan jenis tanah berhumus dan berwarna hitam, maka dapat menghasilkan rasa halus dan mantap di otak. Jika tanahnya berjenis tanah merah atau tanah lempung, rasanya kurang enak. Sementara jika tanah yang ditanami adalah tanah putih atau padas, maka rasa tembakau yang dihasilkan kurang terasa di otak dan di tenggorokan sangat halus.

Keseriusan dalam mengutamakan kualitas tembakau, membuat berbagai pabrik rokok ternama di Indonesia menawarkan kerjasama, salah satunya adalah PT Bentoel Internasional Investama Tbk atau Bentoel Group. Tahun 2008 mulai menanam dengan jumlah besar setelah menandatangani kontrak dengan PT bentoel pada tahun 2007 sudah mulai diatas 15 Ha. Namun seiring berjalannya waktu, karena berbagai faktor akhirnya ia memutuskan untuk berhenti budidaya tembakau dan beralih pada budidaya ikan.

Budidaya Ikan Nila

Selain tembakau, Dwi Rumiati juga seorang pembudi daya ikan. Tampaknya ia juga menyukai berbagai aktivitas bisnis selain kegiatan sosial. Dwi memilih jenis ikan nila, karena menurutnya budi daya ikan nila lebih mudah dibanding jenis lainnya. Hingga saat ini ia memiliki kolam dengan luas 6 Ha. Alasan memilih jenis ikan nila karena harga bibit lebih murah, makanannya mudah didapatkan, penjualannya cepat, dan ikan nila juga tergolong ikan yang tidak mudah sakit. Berbeda dengan ikan mas yang mudah terkena virus lalu menulari yang lain hingga menyebabkan kematian.

Bisnis ternak ikan nila sempat menjadi tren positif di Indonesia, dan pemerintah juga mendukung masyarakat dalam budi daya ikan. Disamping itu, konsumsi ikan masyarakat perlu ditingkatkan dengan melakukan budi daya ikan nila. Rasa ikan dianggap lebih lezat dan gurih. Kandungan gizi ikan juga sangat tinggi.

Berdasar dari kandungan gizi ini, permintaan ikan dari masyarakat cukup tinggi. Artinya banyak peluang bagi peternak untuk menggaet minat beli para konsumennya. Budi daya ikan merupakan salah satu jenis usaha yang bisa menguntungkan. Alasannya, kebutuhan masyarakat akan konsumsi ikan tidak akan pernah ada habisnya. Oleh karena itu penting menghasilkan ikan yang berkualitas bagus.

Di tengah-tengah kesibukannya ini di dunia sosial dan bisnis, Dwi juga tergabung dalam kelompok usaha pembenihan rakyat di padukuhannya. Bahkan kelompok ini mempunyai sertifikat Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB). Kedua sertifikasi tersebut dapat menjadi landasan untuk bisa bersaing di pasar baik tingkat nasional maupun internasional. Jadi, jika produk usaha ingin dipasarkan di supermarket atau restoran sudah memiliki landasan tersebut.

Menjadi Anggota BPD

Dwi Rumiati, kini aktif di pemerintah daerah menjadi anggota BPD. Ia pun menceritakan pengalamannya mulai awal dipilih menjadi anggota BPD, diajukan dalam musyawarah tingkat padukuhan. Dalam prosesnya, kita mewakili padukuhan, kemudian dari masyarakat itu beberapa diantaranya ditunjuk mewakili padukuhan pucung, mungkin ketika penunjukkan itu, kandidat yang dipilih karena kita dipandang memiliki prestasi, wawasan, dan kemampuan dalam mengemban amanah tersebut.

Dalam proses pemilihan tersebut dibagi menjadi tiga sektor, di antaranya sektor utara, barat, dan selatan. Sektor utara terpilih tiga, Ibu Dwi, mas Oki Linggarjati, dari cageran, yang ketiga Sukadi dari Tamanan Pabrik. Setelah itu, para anggota terpilih diminta mengumpulkan berkas yang dikumpulkan di kantor Kalurahan. Proses pendaftaran anggota BPD sangat sederhana dan administrasinya simple, yakni cukup melampirkan persyaratan berupa fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga (KK) yang dilegalisir oleh Pejabat yang berwenang.

Menurut Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Sleman nomor 3 tahun 2019, jumlah anggota BPD ditetapkan dengan jumlah gasal, paling sedikit lima orang dan paling banyak sembilan orang. Jumlah penduduk sampai dengan 4.500 jiwa diwakili lima orang anggota, jumlah penduduk 4.501 jiwa sampai dengan 9.000 jiwa diwakili tujuh orang anggota, dan jumlah penduduk lebih dari 9.000 jiwa diwakili sembilan orang anggota.

Ia berharap selama Dwi menjadi anggota BPD dapat menjaring aspirasi masyarakat secara langsung dengan lebih terakomodasi. Baik untuk proses perencanaan pembangunan desa, penetapan peraturan desa maupun pelaksanaan pembangunan daerah. Setidaknya usaha yang dilakukan dengan niatan untuk mengcover semua aspirasi masyarakat Tamanmartani, yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan mereka.

Kemampuan Dwi di sektor agribisnis ini layak diacungi jempol, pasalnya ia mampu membaca peluang usaha yang dapat mendatangkan keuntungan tinggi di setiap tahunnya. Budi daya ikan nila, tembakau, dan bisnis lainnya secara tidak langsung juga berpotensi menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Dwi sebagai perempuan aktivis, pemerhati sosial dan pelaku usaha perannya sangat menginspirasi perempuan lain atau generasi muda di era ini. Aktif di berbagai kegiatan menjadikannya semakin matang. Wawasannya juga semakin luas, ini sebanding dengan semangatnya dalam berkiprah di berbagai sektor, seperti pegiat sosial dan pebisnis. Kini Dwi dipercaya mewakili daerahnya untuk menyampaikan aspirasi masyarakat dan membuka pintu kesejahteraan mereka.