Kosongkan Gelasmu bila Bertemu Orang Baru

Relationship Building. BRITISHCOUNCIL

“Menuntut ilmu adalah taqwa, menyampaikan ilmu adalah ibadah, mengulang-ulang ilmu adalah dzikir, dan mencari ilmu adalah jihad.” (Imam Ghazali)

Sebuah pesan bermakna tentang arti berproses menjadi pribadi yang lebih baik dengan belajar, menambah wawasan dan pengetahuan dari berbagai sumber termasuk dari pengalaman hidup seseorang. Dalam suatu proses kehidupan hendaknya kita tidak meremehkan hal yang terlihat kecil, karena suatu hal tidak akan menjadi besar jika tidak dimulai dari hal kecil.

Begitulah hidup, yang pada dasarnya berkelindan dan saling berkaitan. Saling membutuhkan satu sama lain dengan tujuan untuk bertahan dan menguatkan. Seni bertahan hidup seseorang berbeda-beda, ada yang melakukannya dengan bekerja sekuat tenaga, berkarya dengan seluruh daya, atau berbicara melalui berbagai media. Ada pula yang mengambil jalan berbeda dengan diam tanpa bertindak, pasif tak menghasilkan, atau mencerca tanpa sebelumnya mencerna. Semuanya adalah pilihan yang diambil dalam proses mendapatkan ilmu kehidupan.

Rasa egois kerap hadir ketika manusia mengalami keadaan tertekan oleh beban kehidupan. Namun, hanya manusia pilihan yang mendapatkan keberuntungan untuk mampu bertahan dan tetap taat seraya sabar dalam menghadapi persoalan.

Benar, bahwa dalam setiap langkah kita harus berusaha untuk berproses menjadi lebih baik, namun proses ini menjadi tidak tepat jika kita menari di atas pengalaman buruk kisah orang lain. Bersikap bijak atas segala pengalaman hidup akan menjadi lebih bermakna saat disikapi sebagai sebuah pelajaran dan pengajaran yang harus dipetik.

Cara belajar yang baik terhadap pengalaman orang lain adalah bersikap diam sebelum diminta berkomentar. Sebagian orang menjadikan hal ini sebagai etika saat berhadapan dengan orang lain. Karena saat mendengar kisah dan pengalaman orang lain, yang diperlukan adalah pelukan yang tidak ditambahi kata-kata menyakitkan yang dilontarkan oleh lisan. Empati yang tak perlu dicampur dengan rasa iba berlebihan yang kadang justru terasa merendahkan. Bersikap sewajarnya malah justru membuat orang lain nyaman dengan keberadaan kita.

Kita, adalah manusia dengan segala kekurangan, dengan segala hal yang perlu disempurnakan. Kita memiliki kewajiban untuk belajar hal-hal baru agar menjadi lebih baik di masa selanjutnya.

Hidup ini bukan tentang kemarin atau nanti, hidup adalah tentang masa kini, saat ini, dan detik ini. Maka lakukan yang terbaik dan buat hidup ini menjadi lebih bermakna dan tidak ada penyesalan ke depannya.

Sebagai pembelajar yang memiliki kebutuhan untuk bersosial, kunci yang harus dipegang terletak pada kemauan untuk belajar menghormati dan menjaga komunikasi. Mal ini dimaksudkan untuk memberi rasa aman dan nyaman terhadap situasi. Semakin banyak orang yang menyenangi, semakin banyak pula relasi.

Sebagai makhluk sosial, sudah menjadi kodratnya bahwa kita sangat membutuhkan orang lain dalam berbagai perannya. Ada yang dibutuhkan untuk kehadirannya, penerimaannya, dan pembelajarannya. Bahkan sebagian hanya cukup sekedar ada. Peran manusia itu terbatas, karena waktu yang dimiliki juga singkat. Karenanya, pengalamannya pun tak selalu luas, ilmu yang diserap tak mesti tuntas. Itulah penyebab kita selalu membutuhkan manusia lain agar pengajarannya dapat tandas.

Syariat agama juga menganjurkan kita untuk menjalin silaturahmi karena berimplikasi positif terhadap kehidupan kita. Seperti dilancarkannya rezeki, dipanjangkan umur, dan keberkahan doa-doa dari para kolega.

Menjadi manusia yang lebih baik itu modal awalnya adalah keinginan yang kuat untuk belajar dan saling berbagi. Belajar merupakan anjuran yang bersifat wajib bagi setiap manusia. Dengan belajar, kita akan mendapat pengetahuan berbeda dan menjadikan hidup menjadi lebih kaya. Tak hanya masalah harta, tapi lebih pada keilmuannya tentang menjalani hidup di dunia.

Belajar pada Pengalaman

Bukankah perintah membaca merupakan ayat yang pertama diwahyukan oleh Allah kepada Muhammad? “Iqra’ (Bacalah)’. Melalui ayat tersebut Tuhan menganjurkan kita (manusia) untuk membaca segala hal. Bukan literally tulisan yang dibaca, tapi lebih kepada belajar tentang segala hal yang terjadi, memahami proses dari segala situasi, mengambil ilmu dari berbagai hal yang dialami. Untuk selanjutnya berproses menjadi manusia yang lebih baik. Karena makna dari belajar adalah kita dapat menarik kebaikan dan hal-hal positif dari banyak hal yang terjalin dari jalannya kehidupan di sekeliling kita.

Di sisi lain, Allah juga berfirman tentang keuntungan apabila kita menjadi orang berilmu. Dalam Qur’an Surat Al-Mujadalah ayat 11, ada janji Tuhan bagi orang berilmu dengan mengangkat derajatnya di muka bumi. Allah lebih menyukai muslim yang pandai, tak hanya soal menuntut ilmu tapi juga pandai dalam menularkan ilmu itu sendiri.

Dalam praktiknya, kita telah melihat perbedaan orang yang belajar bersungguh-sungguh dengan orang yang tidak, bukan? Orang yang berilmu biasanya memiliki karakter yang unggul dan pendirian yang kuat. Orang yang sungguh-sungguh belajar akan semakin rendah hati saat semakin banyak ilmu yang didapat. Orang yang benar-benar mengkaji akan semakin taat seiring pengetahuan yang berlipat. Jika kita benar dalam menuntut ilmu, maka yang dirasakan adalah dengan Tuhan semakin dekat.

Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Artinya semakin banyak ilmunya semakin rendah hati. Dengan sifat rendah hati maka orang-orang akan semakin menghormati. Orang berilmu akan disegani, didengar petuahnya, dan sekali-kali dimintai doa. Sebab doa mereka dipercaya manjur karena dekat dengan Tuhannya.

Namun, dalam praktiknya, kita pun juga sering mendapati manusia yang dengan sikap arogan dan takabur akan ilmunya. Padahal yang dimiliki bisa jadi belum seberapa. Ada pula yang bersikap tidak bertanggung jawab atas amanah yang diembannya, dan menyalahgunakan wewenang yang dimilikinya.

Telah banyak kita melihat contoh pengalaman orang-orang yang mengambil berbagai pilihan yang salah dalam kehidupannya. Ending dari pengalaman mereka sudah jelas menyiratkan makna bahwa perilaku yang tidak baik, tidak perlu diikuti jejaknya, cukup diambil hikmah dan pelajaran dari sana.

Tentang belajar di lingkungan kerja pun prosesnya tidak jauh berbeda. Sikap yang seharusnya kita praktikkan perumpamaannya adalah mengosongkan gelas dan mengisinya dengan yang baru. Artinya, di lingkungan baru terutama lingkungan kerja, kita harus memposisikan diri sebagai orang yang belajar dari nol dengan berbekal potensi yang dimiliki.

Mungkin banyak di antara kita yang menganggap keilmuan yang diperoleh di bangku kuliah telah cukup atau bahkan merasa lebih. Seringnya terselip rasa bahwa dirinya adalah yang paling benar dan juga lebih baik. Perspektif ini perlu diperbaiki, bahwa kenyataannya lingkungan baru selain memiliki ritme kerja, juga menyajikan wawasan baru dan pengalaman yang berbeda Hal tersebut penting untuk disadari sebagai kesempatan untuk mengasah kemampuan dan meningkatkan kualitas diri.

Satu hal yang perlu kita sadari adalah bahwa masing-masing instansi menyajikan pengetahuan baru yang perlu kita terima untuk dicerna menjadi ilmu baru. Pengetahuan itu ibarat gizi atau vitamin yang diperlukan untuk mendukung terbentuknya imun yang nantinya diperlukan untuk tumbuh berkembang dengan baik dan lebih sehat. Artinya tetaplah bersikap rendah hati sembari memposisikan diri menjadi orang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan terhadap segala hal. Jangan pernah merasa memiliki kelebihan saat mengawali pekerjaan di tempat baru. Kosongkan selalu gelasmu, agar dapat dengan mudah menerima ilmu baru.

Tidak salah jika kita ingin belajar banyak hal, justru sebaiknya hal itu harus terus diupayakan. Manusia jika memiliki rasa keingintahuan yang tinggi maka secara naluriah akan berusaha mengosongkan gelas pembelajarannya setiap waktu. Seseorang yang mampu melalui tantangan hidup akan meneguk manisnya hasil dari proses yang diupayakan meski itu tidak mudah dan kadang menemui jalan buntu.

Berdasar dari pengalaman pribadi, bertahun-tahun menimba ilmu di lingkungan kampus hingga akhirnya menjadi bagian birokrat dengan label ASN nyatanya mampu membentuk pribadi yang mau untuk terus belajar setiap kali menerima tanggung jawab baru. Bagi saya, ini suatu tantangan tersendiri. Tidak seluruh idealisme keilmuan di bangku kuliah sesuai dengan lingkungan kerja yang sedang dijalani. Namun paling tidak, hal tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah potensi, agar nantinya lebih mudah membawa diri.

Poin penting dalam membaca setiap ritme hidup adalah diimbangi dengan rasa syukur akan segala yang berlaku. Penerimaan atas segala hal yang terjadi dikembalikan kepada Sang Pencipta yang Maha Tahu. Manusia adalah aktor, sedangkan Tuhan lah yang memiliki kuasa penuh atas skenario kehidupan bagi semua makhluk.

Adaptif di Lingkungan Kerja

Memaknai pengalaman hidup, yang dialami sendiri ataupun didapatkan dari orang lain, dapat melatih diri untuk peka terhadap persoalan atau tantangan yang kemungkinan akan dihadapi. Kematangan berpikir akan membentuk sikap berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu dengan bijaksana sehingga dapat terhindar dari kesalahan saat mengambil keputusan dan meminimalisir resiko yang timbul di kemudian hari.

Satu hal yang menjadi catatan penting dalam hidup ini, bahwa dibalik proses mengambil keputusan akan ada masa depan yang sedang dipertaruhkan. Entah yang nantinya akan ditanggung oleh diri sendiri, atau ada nasib orang lain yang juga ikut terpengaruh sebagai akibatnya. Oleh karena itu, butuh kecermatan dan latihan dalam merumuskan masalah yang dihadapi sebelum nantinya mengambil keputusan terbaik agar tak disesali.

Tidak banyak di antara kita yang dapat kuat bertahan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Ada yang memilih untuk menghindar lari dari persoalan, dan mengambil penyelesaian terlihat mudah namun tak menyelesaikan masalah.

Di lingkungan kerja, seorang pegawai diminta untuk taat dan patuh menjalankan birokrasi dengan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Arti dari pengabdian bagi saya adalah bagaimana menjalankan tanggung jawab sesuai tugas yang diberikan dan memaknai usaha yang mengiringinya sebagai ibadah. Jika bekerja diniatkan sebagai bagian dari ibadah, maka akan timbul kebaikan yang berdampak baik dalam pelaksanaannya. Hasil minimalnya adalah pahala atas ibadah itu sendiri, selain keberkahan dalam rezeki yang didapat.

Menjadi bagian dalam suatu perusahaan atau instansi tertentu merupakan pilihan hidup seseorang. Berkutat dalam dunia kerja dan usaha pada dasarnya memiliki tujuan yang tidak jauh berbeda, yaitu menjadi manusia yang terhormat dan lebih baik dari sebelumnya. Baik dari segi finansial, pendidikan, karier dan lain sebagainya. Dan itu sah sah saja. Tentu saja dengan syarat etika dan tahap yang tak menyalahi aturan.

Manusia dalam setiap episode hidupnya sama-sama berjuang untuk mendapat kelayakan hidup yang aman dan nyaman dengan terpenuhinya segala kebutuhan. Meski tidak jarang kita mendapati ada yang egois bahkan terlalu tamak saat menetapkan tujuan hidupnya hanya untuk dunia.

Setiap orang yang terlahir di dunia bersamaan dengan hak asasinya. Mengupayakan kebahagiaan dunia memang tidak salah, yang menjadikannya keliru adalah saat bersikap berlebihan dalam segala hal. Syariat agama juga tidak menyarankan manusia mempraktikkan sesuatu di luar porsinya.

Namun, berbeda jika menuntut ilmu. Jika kita ingat suatu slogan ‘tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina,’ artinya carilah ilmu seluas-luasnya bahkan hingga akhir hayat. Tidak ada batasan umur bagi manusia untuk belajar. Belajar tidak akan membuat kita rugi, justru sebaliknya yakni mendatangkan keuntungan berlipat.

Rasanya jika mengetahui solusi dari persoalan menjadi berkah tersendiri. Bisa memberikan solusi bagi permasalahan orang lain dengan keilmuan kita akan memberikan kepuasan pada diri sendiri karena telah bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Hal demikian selaras dengan fungsi kita sebagai seorang birokrat yang berlabel ASN dimana keilmuannya sebagai pelayan publik adalah solusi bagi masyarakat luas.

Kita pun harus bangga menjadi pelayan public yang memiliki kedekatan dengan masyarakat dalam ranah sosial seraya menghilangkan perilaku feodal yang hanya berprinsip untuk memuaskan pimpinan. Seorang ASN itu harus memiliki idealisme untuk menjunjung moralitas, karena dianggap sebagai tokoh yang mewakili masyarakat.

Dengan menjernihkan niat untuk mengabdi dan belajar setiap hari dapat mengurangi sikap egois yang berpotensi timbul dalam diri. Tentu kita sudah mengetahui fakta-fakta di lapangan dimana ada orang yang meninggal, namun yang diingat adalah kisah-kisah kebaikannya, begitu juga pengalaman buruk seseorang. Tergantung dari pilihan kita, menjadi orang yang diingat kebaikannya, atau sebaliknya?

Proses pembelajaran sesungguhnya bertujuan pada proses untuk menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih baik. Orientasi bukan hanya pada hasil akhir, tapi lebih pada cara kita menangani dan mengambil langkah saat menghadapi persoalan dan menemui ujian kehidupan. Hal ini selayaknya membentuk kita menjadi sebaik-baik manusia yang menerima keadaan dengan sabar atas segala persoalan. Pada dasarnya dunia merupakan tempat bagi manusia untuk berjuang, maka wajar bila merasa lelah. Nanti akan ada waktunya untuk istirahat saat tiba giliran kita untuk dipanggil pulang. Dunia ini bukanlah rumah yang sesungguhnya bagi kita, maka sangat dianjurkan untuk tidak meletakkannya dalam genggaman.

Segala usaha dan upaya tidak akan ada yang sia-sia, semuanya akan indah jika tiba waktunya. Sebagai manusia, kita diberi kesempatan memerankan setiap lakon kehidupan, berperan sebagai sosok dengan tanggung jawab atas segala keputusan.

Bersikap rendah hati jika bertemu dengan orang lain dapat berpengaruh positif terhadap diri. Karena pada dasarnya segala sesuatu akan kembali kepada diri, pun termasuk juga keburukan. Maka berbuat baiklah agar dikenang hingga akhir zaman.