Nur Hidayat, Calon Lurah Bangunharjo Terapkan Antipolitik Uang

Acara Sarasehan Politik dan Kepemimpinan. SARIF JABRONI

Sampai saat ini politik uang terus dan marak terjadi di tengah masyarakat. Rata-rata sasarannya adalah masyarakat menengah ke bawah. Hal ini menjadikan peserta pemilu yang berambisi mendapatkan kekuasaan berlomba-lomba mencari wilayah yang dapat dijadikan sebagai ‘kantong suara’. Harapannya nanti akan banyak mendapatkan suara saat pemilihan umum berlangsung.

Calon pemimpin daerah ataupun calon legislatif berpikir bahwa masyarakat menengah ke bawah adalah masyarakat yang mudah untuk dipengaruhi, terlebih dengan menggunakan uang. Itu karena adanya pola pikir masyarakat yang menganggap menerima uang adalah hal-hal yang wajar dan biasa. Mereka menganggap pemberian uang sebagai tanda ucapan terima kasih. Mumpung pemilu, katanya.

Tradisi buruk semacam itu harus dihentikan. Menyadarkan generasi muda dengan memberikan pemahaman yang baik tentang buruknya politik uang merupakan langkah konkret yang harus segera direalisasikan.

Buruknya demokrasi di Indonesia sudah sampai tingkat desa. Salah satunya disebabkan oleh maraknya politik uang saat akan pelaksanaan pesta demokrasi. Kebiasaan buruk itu dapat terjadi di tingkat desa, kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Nur Hidayat selaku calon Lurah Bangunharjo tahun 2022 sudah berkomitmen dari awal mendeklarasikan pesta demokrasi tanpa politik uang. Terkait dengan komitmen antipolitik uang tersebut, Sahabat Nurhidayat (tim pemenangan) berusaha untuk menyosialisasikan kepada seluruh lapisan masyarakat di Kalurahan Bangunharjo, terutama untuk anak-anak muda. Oleh karena itu, pada 19 Juni 2022 di Gedung SKB Semail Bangunharjo, diadakan acara sarasehan sebagai bentuk sosialisasi. Tema yang diusung adalah Kepemimpinan dan Antipolitik Uang.

Banyak anak-anak muda dari berbagai pendukuhan di Kalurahan Bangunharjo menghadiri acara tersebut. Saya diundang sebagai narasumber yang berbicara tentang politik kepemimpinan dan antipolitik uang kepada mereka. Bersyukur karena anak-anak muda yang hadir di acara kemarin merespon penyampaian saya dengan baik dan antusias. Setiap kali berbicara di hadapan para pemuda rasanya saya juga kembali muda.

Saat ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan anak anak muda sibuk dengan gawainya masing-masing. Mereka tidak peduli dengan urusan politik yang menyebabkan adanya pandangan pesimis terkait kepedulian dan partisipasi golongan muda usia 17 sampai 30 tahun, termasuk pemilihan lurah di tingkat kelurahan.

Namun, rupanya Sahabat Nurhidayat punya pandangan lain. Mereka memandang bahwa generasi muda adalah generasi potensial dan menganggap mereka sebagai katalisator perubahan. Dalam hal politik, meskipun hanya tingkat kelurahan, Sahabat Nurhidayat menganggap bahwa politik dan golongan muda adalah dua entitas yang koheren dan bersinggungan.

Mereka punya konsen yang serius terhadap kalangan muda supaya terlibat aktif dengan penuh kesadaran terhadap politik. Tidak hanya memperlakukan anak-anak muda sebagai objek, tetapi sebagai subjek.

Optimisme dari Sahabat Nurhidayat memberikan vibrasi kepada para peserta yang hadir dari kalangan anak-anak muda. Saya merasakan betul getaran semangat mereka.

Ini juga merupakan kabar gembira untuk kita semua bahwa anak-anak muda saat ini tidak semuanya apatis dengan kondisi negaranya, khususnya di tingkat desa. Banyak anak-anak muda kita yang semangat dan peduli terhadap kemajuan desanya dengan aktif berpartisipasi di bidang politik saat ini.

Semoga saja ini dapat menjadikan hal yang baik untuk ke depannya. Berharap pula Kalurahan Bangunharjo akan memiliki pemimpin yang dapat mengarahkan masyarakat menjauhi politik uang, khususnya para anak muda.