Wanita PKK dan Tradisi Rewang

Peralatan masak untuk memenuhi kebutuhan rewang pemberian Gandang Hardjanata, Lurah Tamanmartani. IG: KALURAHAN_TAMANMARTANI

Solidaritas sosial merupakan suatu hal yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan bermasyarakat, adanya solidaritas ini dibutuhkan oleh setiap individu karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

Manusia pasti membutuhkan bantuan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah jurnal dikatakan, solidaritas merupakan sesuatu yang dibutuhkan dalam suatu kelompok sosial, karena memang setiap masyarakat membutuhkan solidaritas.

Manusia selalu berhubungan dengan manusia lainnya, dalam hal ini, manusia bergaul, berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Situasi ini kemudian mendorong manusia untuk bersosialisasi dengan lingkungannya.

Di Kalurahan Tamanmartani, interaksi sosial masyarakatnya tergolong harmonis. Masyarakat bisa bergaul dengan siapa saja, warga Kalurahan Tamanmartani menjunjung tinggi sifat solidaritas dengan tidak memandang suku, ras dan budaya dalam bergaul dengan masyarakat sekitarnya.

Hal ini kemudian menciptakan lingkungan yang damai, hubungan interaksi antar warga juga semakin intim karena mereka menghargai adanya perbedaan dan menganggap perbedaan tersebut sebagai suatu hal unik yang bisa mempererat suatu hubungan, karena manusia selalu membutuhkan sesuatu yang baru dengan belajar budaya lain di luar kelompoknya.

Kegiatan solidaritas sosial di Kalurahan Tamanmartani ada banyak bentuknya, kerja bakti dengan melakukan bersih-bersih lingkungan, gotong royong memperbaiki sarana dan prasarana bersama, atau ronda malam untuk menjaga lingkungan desa agar lebih aman.

Kegiatan solidaritas sosial biasanya diinisiasi oleh beberapa kelompok agar tetap berjalan sebagaimana mestinya, salah satu kelompok yang sering menjalankan kegiatan solidaritas sosial adalah kelompok wanita PKK.

Wanita PKK yang merupakan kelompok penggerak dalam membangun, membina, dan membentuk keluarga juga berperan sebagai kelompok yang mampu menggerakkan partisipasi masyarakat desa dalam meningkatkan solidaritas sosial.

Pertemuan adalah salah satu kegiatan utama yang bisa digunakan dalam membangun hubungan antar berbagai elemen masyarakat. Adanya forum pertemuan yang diinisiasi oleh wanita PKK di tingkat desa ataupun kecamatan bisa membuat masyarakat dan lembaga lainnya lebih aktif dengan mengadakan suatu kegiatan.

Inisiasi dari wanita PKK kemudian bisa menghadirkan banyak kegiatan yang bisa meningkatkan partisipasi warga seperti kegiatan penyelenggaraan pendidikan dan keterampilan, olahraga dan kesenian. Kegiatan sosial dan juga kegiatan lain yang bisa meningkatkan solidaritas warga desa. Salah satu kegiatan yang dijalankan wanita PKK Tamanmartani adalah tradisi rewang.

Tradisi rewang merupakan tradisi gotong royong masyarakat Jawa saat ada acara-acara besar seperti hajatan dan khitanan. Tradisi ini akan melibatkan para wanita dan pria untuk membantu tuan rumah mempersiapkan jamuan makanan pada saat pesta hajatan digelar.

Kata ‘rewang’ merupakan bahasa jawa yang berarti membantu, tradisi rewangan sudah dilakukan masyarakat pedesaan sejak zaman dahulu, itulah mengapa kegiatan ini kemudian menjadi sebuah tradisi di masyarakat. Tradisi diartikan sebagai aktivitas turun temurun yang terus dilakukan oleh masyarakat setempat, kebiasaan ini dikerjakan secara kolektif dan kemudian menjadi sebuah tradisi. Soejono Soekanto mendefinisikan tradisi sebagai suatu kegiatan berulang dengan berbagai simbol dan aturan yang berlaku pada sebuah komunitas.

Tradisi rewang secara sederhana merupakan kegiatan masak bersama, kegiatan ini melibatkan semua usia dari yang muda hingga yang sudah berumur. Rewangan didominasi oleh para perempuan yang membantu di dapur, hal ini karena perempuan dianggap lebih ulet dalam menyelesaikan pekerjaan dapur.

Dalam buku Filsafat Jawa: Menggali Butir-butir Kearifan Lokal yang ditulis oleh Heniy Astiyanto menjelaskan bahwa tradisi rewang memang kegiatan yang mayoritas dikerjakan oleh para perempuan, para perempuan akan bekerja dari subuh untuk menyiapkan berbagai keperluan dapur.

Mereka akan saling membagi tugas, ada yang ditugaskan memasak, ada yang ditugaskan membungkus hantaran yang nantinya akan dibagikan kepada kerabat dan tetangga, ada juga yang bertugas mencuci piring dan alat makan yang kotor.

Meski begitu, para lelaki masih berperan membantu pekerjaan yang membutuhkan tenaga, seperti pekerjaan angkat mengangkat barang, pikul memikul, kegiatan mendekorasi dan juga kegiatan fisik lainnya. Beberapa hari sebelum acara hajatan digelar biasanya ketua RT beserta ibu-ibu PKK akan mengumpulkan warga dan melakukan koordinasi kegiatan.

Pemberian jobdesk juga akan disesuaikan dengan keahlian masing-masing, alat-alat yang digunakan juga sudah disediakan oleh kelompok PKK. Lurah Tamanmartani, Gandang Hardjanata juga pernah memberikan bantuan peralatan masak untuk memenuhi kebutuhan kegiatan rewang.

Peralatan masak seperti wajan, kompor, dandang, soblok, keranjang nasi, dan tabung gas diberikan kepada enam kelompok PKK di tingkat padukuhan Tamanmartani untuk digunakan bersama saat ada warga yang menggelar acara hajatan.

Tradisi rewang memperlihatkan dengan jelas nilai perjuangan muncul dari para perempuan, dalam hal ini rewang tidak hanya membicarakan tugas perempuan di dapur, tetapi sebagai bentuk perjuangan dan pengorbanan terhadap masyarakat.

Peran para perempuan yang pro-aktif dalam kegiatan ini membuat acara hajatan yang digelar bisa berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, rewang yang berbasis sukarela bisa menjadi upaya membangun kebiasaan inisiatif dan partisipatif dalam kehidupan sosial dan politik.

Tradisi, konsepsi konvensional penyambung silaturahmi

Tradisi rewang sangat digemari oleh masyarakat desa, karena mereka bisa berkumpul bersama dengan para tetangganya untuk membantu tuan rumah hajatan, sekaligus saling berbincang satu sama lain untuk mempererat tali silaturahmi.

Rewangan juga memiliki nilai yang praktis dan ekonomis, melalui tradisi ini masyarakat bisa mengerjakan sesuatu secara cepat dan tepat, rewangan juga bisa membantu meringankan beban ekonomi keluarga yang menggelar acara, karena tidak perlu memesan catering atau jasa orang lain untuk kebutuhan acara.

Tak hanya itu, rewangan juga mampu menciptakan ikatan moril yang lebih erat antar anggota keluarga maupun antar individu di masyarakat. Dengan adanya tradisi ini masing-masing individu bisa kembali memperbaiki ikatan persaudaraan yang sudah mulai merenggang, atau memperbaiki hubungan dari konflik-konflik yang pernah ada. Tradisi rewangan berhasil meretas lintas batas etnis, stratifikasi sosial dan status sosial yang ada di masyarakat.

Dapur yang menjadi ruang domestik saat kegiatan rewang berlangsung menjadi tempat penghubung nilai-nilai sosial para perempuan yaitu silaturahmi. Tradisi ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa tradisi Jawa sangat kuat akan nilai-nilai kehidupan yang harmonis, setara, dan adil.

Yang kemudian bisa dilihat dengan jelas bagaimana rewang membentuk dimensi persaudaraan yang dijunjung tinggi. Tak hanya itu, peran masing-masing individu dalam tradisi ini juga bisa melihat kesadaran masing-masing individu dalam menyelesaikan tanggung jawabnya.

Dengan begitu, tradisi ini memiliki sifat egaliter dan kosmopolit, tidak ada pihak yang dieksploitasi atau yang mengeksploitasi, yang ada hanyalah upaya untuk mencapai tujuan bersama. Setiap masyarakat yang berpartisipasi pasti akan menikmati kegunaan dan manfaat tradisi ini jika nanti keluarganya melangsungkan hajatan.

Tradisi rewangan merupakan sebuah norma yang memang seharusnya dilakukan apabila ada tetangga yang menggelar hajatan. Idawiya berpendapat tradisi rewangan merupakan kegiatan tolong menolong antar warga dengan mengerahkan tenaga untuk menyiapkan pesta pernikahan yang memang sudah dilakukan turun temurun. Tindakan dan kelakuan masyarakat kemudian diatur dalam tradisi ini, terutama pada kesesuaian acara perkawinan.

Partisipasi setiap individu dianggap penting, karena jika tidak adanya partisipasi warga maka tradisi ini tidak bisa berjalan, kehadiran setiap warga dalam kegiatan ini kemudian menjadikan tradisi rewang sebagai pengikat antar individu dengan individu lainnya.

Setiap warga yang diundang biasanya akan menunjukkan partisipasi aktif, itu berarti setiap anggota masyarakat yang diundang bersedia meluangkan waktu dan tenaganya untuk menyukseskan acara hajatan yang ada. Jika dilihat lebih lanjut, selain para wanita PKK, anggota lainnya yang terlibat adalah para bapak-bapak, serta para remaja putra dan putri

Lukas Eko Budiono melihat tradisi rewang bukan hanya sebagai pekerjaan semata, tetapi juga sebuah karya yang mengandung nilai estetis, baik cita rasa maupun strukturnya. Nilai ini muncul dari kerjasama antar perempuan dalam memainkan peran, sehingga menciptakan sebuah dimensi persatuan. Dimensi ini sangat penting bagi masyarakat Jawa, karena adanya dimensi ini bisa mewujudkan kehidupan sosial yang rukun dan sejahtera.

Satu hal yang menarik dari tradisi ini adalah, mampu melibatkan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Dari latar belakang ekonomi yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, maupun etnis yang berbeda.

Lukas kemudian mengkategorikan rewang sebagai suatu komunitas yang tidak memiliki struktur sosial, karena dalam pelaksanaannya, kegiatan rewang tidak membeda-bedakan semua peran, hubungan ini penting terutama pada konteks Indonesia yang sering muncul permasalahan akibat perbedaan yang mengatasnamakan agama dan lainnya.

 

Bahan Bacaan:

Hasbullah. 2012. ‘REWANG: Kearifan Lokal dalam Membangun Solidaritas dan Integrasi Sosial Masyarakat di Desa Bukit Batu Kabupaten Bengkalis’. Jurnal Sosial Budaya Volume 9(2).

M Anwar Syahputra. 2021.Tradisi Rewangan dan Interaksi Sosial Masyarakat Kelurahan Gunung Terang Kecamatan Langkapura Bandar Lampung. Skripsi. Lampung: UIN Raden Intan.

Rizky Kusumo. 2021. ‘Tradisi Rewang dan Peran Perempuan sebagai Penentu Kesuksesan Hajatan’. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/11/19/tradisi-rewang-dan-peran-perempuan-sebagai-penentu-kesuksesan-hajatan. Diakses pada Rabu 29 Juni 2022.