Budaya Srawung dan Keberlangsungan Pasar Legi Kotagede

Pasar legi merupakan salah satu pasar tradisional yang berada di Kotagede yang masih aktif dikunjungi masyarakat sekitar. jojgakota.go.id

Pasar tradisional ada yang memiliki tanda yang khusus yaitu memiliki tenda, meja untuk menempatkan barang yang mau dijual dan belum menggunakan gerai, juga arah datangnya pembeli yang berjalan melihatnya, memilih dan menawarnya. Pasar tradisional juga memiliki banyak fungsi dan memiliki fungsi sosial dan budaya.

Pasar tradisional berdasarkan jenis kegiatannya digolongkan ke dalam tiga jenis: Pertama, pasar eceran seperti pasar di mana adanya permintaan dan penawaran dalam jumlah sedikit. Kedua, pasar grosir, seperti pasar yang dimana adanya permintaan dan penawaran dari pembeli dalam jumlah yang banyak. Ketiga, pasar induk seperti pasar yang skalanya lebih besar dari pasar grosir, yaitu tempat disimpannya barang-barang pangan yang akan dibagikan ke grosir-grosir.

Pada zaman ini peran pasar tradisional sudah bergeser ke pasar modern, kendati memiliki fungsi dan kegunaan yang sama akan tetapi dari segi kebersihan, keamanan, dan keteraturan komposisi pasar modern lebih digemari para pengguna pasar. Pasar tradisional merupakan tempat transaksi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dalam prosesnya masih erat dengan keadaan ekonomi di desa dengan kultur tawar menawar penjual dan pembeli. Keadaan tersebut yang membuat terjadi ciri khas yang menjadi pembeda dengan pasar modern.

Di Kotagede terdapat peninggalan warisan berbentuk penataan kota kerajaan Jawa melalui konsep Catur Gatra Tunggal, meliputi konsep penataan kota yang mempunyai empat bangunan dan poin pokok dalam satu kota berbentuk keraton, pasar, alun-alun, dan masjid.

Salah satu pasar tradisional yang berada di Kotagede sudah ada sebelum terbentuknya kerajaan Mataram dan menjadi pasar kerajaan yang berbarengan tempat perekonomian dan perdagangan yaitu Pasar Legi atau Sarlegi.

Di Pasar Legi ini kita dapat menemukan keunikan dimana hubungan antara pedagang dijalin dan masih terjaganya kesepakatan serta keamanannya. Korelasi dapat kita temui ketika penataan ruang tidak kekakuan sesama pedagang di dalam maupun luarnya.

Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Kota Yogyakarta tahun 2015 ada sejumlah 938 pedagang di pasar legi Kotagede. Pasar Legi memiliki macam-macam komoditas dagang meliputi pedagang jajanan pasar, pakaian, alat-alat rumah tangga, pertanian, pedagang sayur dan buah, pedagang unggas, dan lainnya.

Pasar tradisional juga wadah untuk berkarib dengan yang berkunjung baik pedagang, pembeli, maupun yang hanya berkeliling saja. Dengan demikian dapat terbentuk yang menjadi ciri khas dari pasar tradisional tersebut. Tempat yang berwujud keadaan hubungan tradisional karena karakter budaya lokal membentuk identitas. Kehidupan seorang anggota masyarakat diwarnai oleh nilai-nilai dari budaya masyarakat.

Setiap kota mempunyai roh tentunya terkandung nilai dan makna kepada penghuninya. Petunjuk lokal yang khusus terbentuk mulai hubungan emosional antarmanusia dan tempat yang terbentuk sebab hubungan merasuk dalam tempat tersebut.

Tempat adalah dimana ruang tertentu yang tercipta akibat hubungan antarmanusia dengan pengaturan fisik, aktivitas seorang maupun kelompok dan makna ruang tersebut. Pasar juga sebagai pencipta figur kota, dan pasar tradisional lebih-lebih membentuk ciri ketradisionalan tinggalan masa lalu.

Srawung merupakan bagaimana seorang bergaul dan menempatkan diri dengan tidak melihat kategori sosial di lingkungan masyarakat. Hasyim dan Mustofa berpendapat kearifan lokal masyarakat kotagede terdapat pendidikan Srawung agar menjadi orang Kotagede. Proses pendidikan srawung diartikan melalui tujuh pengalaman hidup, mencakup : Pertama, ngomah. Kedua, lurung atau lorong. Ketiga, langgar atau surau. Keempat, Pasar. Kelima, donya jembar (dunia luas). Keenam, tuk tatu sumber air. Ketujuh, makam atau jaratan.

Kalimat kunci agar dapat paham karakter yang jadi ciri orang dan masyarakat Kotagede. “Srawung marang sapadha-padha, srawung marang skabehing titah ing ngalam donya” yang artinya berkarib dengan siapa saja, berkarib dengan segala makhluk di alam semesta. Ketujuh lokasi pengalaman hidup merupakan urutan cara bergaul dimulai dari ruang yang terkecil yaitu rumah yang berakhir pada lokasi pemakaman sebagai pengalaman akhir hidup.

Lokasi cara keempat merupakan pasar merupakan pengalaman berkarib dengan masyarakat luas antara lingkungan di luar lingkungan terdekatnya berbarengan adalah pengalaman hidup berdagang sebagai salah satu lambang pekerjaan.

Pasar Legi mempunyai hari pasaran kalender Jawa yaitu “legi“, berada di jalan Mondorakan, Purbayan, Kecamatan Kotagede Pasar Legi Kotagede. Bentuk penataan dan zonasi ruang Pasar Legi, terdapat letak kios, los pasar, ruang pengelolaan dan area parkir di area luar pasar legi Kotagede.

Hari pasaran Legi sebelum dan sesudah adanya adanya aturan covid-19, menunjukkan perubahan zonasi para pedagangnya. Dimana untuk tempat jualan jamu sudah tidak ada, penjual sayur dan buah dari area depan berpindah ke bagian dalam ruangan, banyak juga los-los lalu kios yang kosong, buah dan makanan kering tercampur jadi satu, akibat sedikitnya pengunjungnya sebab masih diawasi pihak keamanan kepolisian.

Masing-masing pedagang menempati los ruang dalam Pasar Legi Kotagede berukuran 2,5 meter kali 3 meter, dengan begitu mereka sempit-sempitan. Akhirnya banyak di antara pedagang yang pindah dari zonasi yang ukuran tadi ke tempat sisa dari los kosong, dan lorong-lorong yang sepi, menunjukkan sedikitnya pengunjung tidak seperti biasanya.

Ada tiga indikasi yang membuktikan bahwa srawung masih dilakukan di Pasar Legi Kotagede mencakup: Pertama, berbagi ruang. Kedua, saling membantu menawarkan dagangan barangnya. Ketiga, menanyakan kabar.

Di Pasar Legi Kotagede indikasi srawung masih ditemukan sebelum pandemi maupun sesudah pandemi yang pelaku pasar semakin terlihat korelasi antara mereka. Pandemi membuat semakin memperkuat kekeluargaan dengan saling membantu tidak terhalang oleh jarak yang ditentukan.

Bahan Bacaan

Sugesti Retno. 2020. “Kajian Spirit Of Place Pasar Legi Kotagede Yogyakarta Sebagai Karakter Pasar Tradisional” https://jurnal.umj.ac.id/index.php/nalars/article/view/7270/4956. diakses 15 Juli 2022.