Pengenalan Norma Masyarakat Dimulai dari Rumah

Pengenalan Norma yang Berlaku Di Masyarakat Kepada Anak Harus Dilakukan Sejak Dini. IG/kbtpatunasbangsa

Sebelum seorang manusia berinteraksi dengan dunia luar, keluarga menjadi lapisan pertama seorang anak mengenal tentang kehidupan sebagai makhluk sosial. Keluarga menjadi media pengenalan sistem yang berlaku di masyarakat kepada anak. Di dalam keluarga, seorang anak belajar bahwa ia adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan manusia lain.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin hidup sendiri, ia pasti membutuhkan bantuan dari manusia lain. Interaksi antarindividu membentuk sebuah sistem yang berlaku di masyarakat. Dalam sebuah sistem tentu berlaku aturan yang mengikat anggota kelompok masyarakat tersebut atau biasa disebut norma.

Keluarga menjadi satuan terkecil dalam sebuah masyarakat. Oleh sebab itu, pengenalan norma-norma yang berlaku di masyarakat pada anak dimulai di lingkup keluarga. Pengenalan norma masyarakat dapat dimulai dengan membuat peraturan di rumah, seperti diberlakukannya jam tidur dan belajar, mewajibkan anak membereskan mainan setelah dipakai bermain, atau mencuci piring yang telah ia gunakan.

Selain untuk memperkenalkan anak pada norma, peraturan di rumah juga melatih anak memiliki rasa tanggung jawab. Dengan memiliki rasa tanggung jawab, anak akan mampu menjalin hubungan baik dengan orang-orang sekitarnya. Rasa Tanggung jawab memberi pemahaman kepada anak bahwa yang ia lakukan akan berdampak pada orang lain. Setelah memiliki rasa tanggung jawab, anak akan mengerti konsep menjadi bagian dari suatu masyarakat.

Saat ini, norma yang berlaku di masyarakat memang lebih longgar dibanding dulu. Kelonggaran ini membuat setiap orang dapat mengekspresikan dirinya dengan lebih bebas. Dampak positifnya, hal ini memancing kreativitas masyarakat dalam memecahkan permasalahan yang terjadi dalam kehidupannya sehari-hari.

Sedangkan dampak negatifnya, beberapa orang menjadi lupa bahwa longgar bukan berarti tanpa aturan sama sekali. Orang-orang ini kemudian bertindak seenaknya tanpa memikirkan akibat dari tindakannya pada orang lain.

Dalam sebuah wawancara dengan Tempo, Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto mengatakan bahwa orang tua tak perlu memaksakan anak mengikutinya seperti ketika belajar di sekolah, terutama anak usia dini. Banyak yang memaksakan anak mampu membaca, menulis, dan menghitung (calistung), padahal untuk anak-anak tingkatan TK hanya diwajibkan bermain.

Berdasarkan hal ini, orang tua dapat mengambil kebijakan bahwa sejak dini anak sudah bisa difahamkan tentang norma-norma yang harus diterapkan dalam kehidupan, sisi lain sekolah sebagai pembentuk karakter anak harus memiliki target dan output yang jelas sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada orang tua.

Pola Asuh Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak

Beberapa orang tua menjadi permisif kepada anaknya dengan alasan anak-anak yang masih berusia belia harus diberi kebebasan agar kreativitasnya tidak mati. Padahal kreativitas juga perlu diimbangi dengan perilaku yang baik agar dapat diterima di dalam masyarakat.

Jika tidak dikenalkan dengan norma yang berlaku di masyarakat, seorang anak akan sulit beradaptasi dengan lingkungan sosial ketika dewasa. Jika tidak dapat beradaptasi ia akan dikucilkan, tentu ini bukan lah hal yang diinginkan orang tua terjadi pada anaknya.

Menurut Hasan (2009:20), pendidikan anak dilakukan pada tiga lingkungan pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, orang tua berperan dalam pendidikan. Anak akan menunjukkan prestasi belajar, diikuti dengan perbaikan sikap, stabilitas sosio emosional, kedisiplinan, serta aspirasi anak untuk belajar sampai perguruan tinggi. Bahkan setelah bekerja dan berumah tangga.

Pengenalan norma pada anak dapat dilakukan dengan cara menerapkan peraturan di rumah. Orang tua bagi anak-anak dianggap sebagai orang yang berwenang. Oleh karena itu, mereka dapat mengikuti peraturan yang diberikan. Namun, yang penting untuk diperhatikan adalah mengarahkan anak menaati peraturan atas dasar rasa hormat, bukan rasa takut.

Pola pengasuhan perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Pengasuhan anak usia dini tentu berbeda dengan anak usia remaja. Secara umum pola asuh terbagi menjadi tiga, yaitu otoriter, liberal, dan egaliter.

Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang menempatkan orang tua sebagai pemegang kendali mutlak. Anak harus mematuhi apa yang dikatakan orang tuanya. Tujuan dari pola asuh ini adalah membentuk anak menjadi pribadi yang patuh dan disiplin. Namun, yang sering terjadi adalah anak malah merasa tertekan karena tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan.

Pola Asuh liberal merupakan kebalikan dari pola asuh otoriter. Pola asuh ini memberi kebebasan kepada anak seluas-luasnya. Semua yang diinginkan anak akan dipenuhi oleh orang tua. Orang tua yang menerapkan pola asuh ini percaya bahwa dengan kebebasan yang diberikan, anak dapat belajar lebih banyak hal. Namun, sisi negatifnya pola asuh ini berpotensi membentuk anak menjadi pribadi yang abai terhadap lingkungan sekitarnya.

Pola asuh egaliter atau pola asuh demokratis menjadi perpaduan antara pola asuh otoriter dan liberal. Dalam pola asuh ini orang tua tetap memberikan peraturan, namun anak juga memiliki kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya. Pola asuh egaliter mewadahi kepentingan orang tua untuk memberikan tuntunan pada anaknya tanpa membatasi anak untuk berpendapat. Anak yang memang membutuhkan tuntunan dari orang tua dipandang sebagai individu yang berhak mengekspresikan dirinya.

Jika ditinjau kembali, dari ketiga pola asuh yang sudah disebutkan, pola asuh egaliter merupakan pola asuh yang ideal untuk membentuk karakter anak. Keluarga sebagai benteng pembentuk anak perlu membuka ruang komunikasi agar terbentuk demokrasi yang tumbuh di tengah lingkungan keluarga.

Demokrasi ini akan mewadahi Dampaknya, akan memunculkan ketahanan keluarga yang kokoh karena satu sama lain memiliki rasa dan tanggung jawab dalam menjaga dan menghormati setiap anggota keluarga.

Sumber Bacaan

Hasan, Maimunah. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Diva Press.
https://cantik.tempo.co/read/1394619/kak-seto-ungkap-alasan-anak-usia-dini-tak-perlu-bisa-calistung

Add Comment