Rumah Kalang Wisata Historis di Kotagede

Rumah Kalang di Kotagede merupakan salah destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Dinas Kebudayaan Kota

Salah satu bangunan cagar budaya yang menarik wisatawan karena kegagahan bangunan arsitektur Eropa yang menyesuaikan dengan budaya dan alam sekitarnya yaitu Rumah Kalang di Kotagede. Rumah Kalang memiliki model tiang Corinthia-Romawi, pernak-pernik berupa kaca patri yang berwarna-warni, menggunakan keramik yang memiliki motif di bagian lantai dan bagian dinding bawah, memiliki pintu dan jendela berukuran besar dan berjumlah banyak.

Cagar budaya adalah produk masa lalu yang bersifat unik dan langka. Cagar budaya perlu diberdayakan karena keunikan dan kelangkaannya itu. Cagar budaya merupakan kekayaan budaya yang vital untuk menumbuhkan kesadaran identitas bangsa dan memajukan harkat dan martabat bangsa, dengan memperkuat ikatan rasa kesatuan dan persatuan bagi terwujudnya cita-cita bangsa di masa depan (Herawati, 2016: 63).

Pendiri Rumah Kalang ini para saudagar kelompok Kalang yang dulu terkenal kaya-raya di Kotagede waktu itu. Intro Living Museum merupakan salah satu Rumah Kalang yang masih dapat dikunjungi oleh wisatawan di Kotagede. Posisinya berada di Jalan Tegal Gendu (sebelah selatan kantor Palang Merah Indonesia). Pengelolaan Intro Living Museum Kotagede dilakukan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan dipublikasikan tanggal 10 Desember 2021.

Rumah Kalang diartikan sebagai bangunan-bangunan milik para saudagar masa lampau. Zaman dulu Rumah Kalang dapat dibangun di bagian sebelah barat jembatan Tegalgendhu saja, tetapi pemilik Rumah Kalang mulai tahun 1905 boleh membangun di bagian sebelah timur jembatan juga.

Bagian penting dari arsitektur rumah yang masih tradisional di Kotagede yaitu Rumah Kalang. Pemilik Rumah Kalang ini adalah keluarga Kalang memiliki keunikan arsitektur dengan kombinasi model arsitektur jawa (khususnya pada penataan ruang) dan model Indis (khususnya pada penataan ornamen). Berdasarkan sejarah, hunian warga Kalang di Tegalgendhu, Kotagede dimulai masa pemerintahan Sultan Agung.

Warga Kalang saat itu diposisikan oleh Sultan di bagian sebelah Barat Sungai Gajah Wong, yang wilayah itu sudah di luar wilayah Mataram. Berdasarkan sejarah, kebanyakan orang Kalang awalnya berprofesi sebagai undagi kayu, tetapi setelah itu berubah menjadi pedagang, saudagar, dan pengusaha yang berhasil. Maka tidak usah takjub dengan tempat tinggal warga Kalang yang mewah dan sangat bagus.

Asal mula penyebutan Kalang belum diketahui secara pasti. Kelompok Kalang adalah warga jawa (etnis Jawa) keturunan dari Jaka Sasana, ahli ukir dari Bali bersama Putri Ambarlulung, ahli tenun, saudara perempuan Sultan Agung yang setelah mewariskan kelompok masyarakat Jawa disebut dengan Wong Kalang.

Jika dilihat dengan arsitektur, eksistensi Rumah Kalang mudah diketahui karena Rumah Kalang meningkatkan model atau tata arsitektur yang unik. Memiliki ruang yang unik, ragam hias pun disebarkan dengan dominan tersiar.

Penekanan dengan penempatan unsur-unsur arsitektur eksklusif di Rumah Kalang terdapat di bagian depan jumlahnya, pada bagian kanopi khususnya untuk menandai pintu masuk utama. Yang melatarbelakangi sosio-kultural masyarakat Kalang, awalnya berasal dari kelompok pinggiran akhirnya mendapatkan status sosial yang tinggi karena kekuatan ekonomi yang mumpuni dengan melakukan penjelasan penyebab bagian luar itu harus ditekankan.

Dengan penekanan yang menjadi pembeda Rumah Kalang dengan rumah sekitarnya, pemilik Rumah Kalang dapat kesempatan untuk menonjolkan statusnya di masyarakat. Tanggapan presensi Rumah Kalang dalam posisi di masyarakat memiliki perbedaan dengan rumah-rumah tradisional Jawa lainnya di Kotagede, yang mempunyai kesamaan dan kesesuaian tinggi antara satu dengan lainnya. Sementara itu, rumah-rumah Kalang lebih menekankan dan tergiring lebih mencolok dibandingkan dengan rumah-rumah yang bukan Kalang yang berada disekitarnya.

Dengan adanya Rumah Kalang yang masih berdiri kokoh sampai sekarang telah mengalami renovasi sebab berbagai faktor, misal desakan keperluan saat ini, kejadian alam, maupun pergeseran nilai-nilai di masyarakat. Dimulai pada gempa Yogyakarta pada Mei 2006, banyak yang mengalami kerusakan bahkan sampai menghilang termasuk Rumah Kalang dan rumah-rumah tradisional lainnya.

Ada cara pemeliharaan yang dilakukan sudah mengubah beberapa maupun banyak bagian-bagian arsitekturnya. Terdapat juga hal yang dikhawatirkan yaitu ketika pemilik rumah tidak mengetahui mengenai nilai historis, filosofis, dan karakter dari arsitektur, beserta arahan perawatan bangunan cagar budaya. Sebab itu dapat menghilangkan karakter dan citra Rumah Kalang pada bangunan lama di Kotagede.

“Tujuan pembuatan museum ini karena Kotagede begitu kompleks ditinjau dari sisi sejarah, adat istiadat, warisan budaya, pergerakan masyarakat dan kuliner mulai abad ke-16. Diperkenalkan dengan Intro Living Museum di Kotagede yang memiliki banyak living museum seperti Masjid Gede Mataram, Makam Raja-Raja Mataram, dan Watu Gilang Watu Gatheng. Untuk mengenal living museum lainnya di Kotagede Intro Living Museum diharapkan dapat menjadi titik awalnya, keinginannya wisatawan lebih tergiring untuk berkunjung Living Museum yang sebenarnya,” ucap Candra Daty Novitasari Educator Museum Kotagede Intro Living Museum.

Intro Living Museum Kotagede memiliki empat pembagian Klaster utama. Pertama, Klaster Situs Arkeologi dan Lansekap Sejarah. Kedua, Klaster Kemahiran Teknologi Tradisional. Ketiga, Seni Pertunjukan Sastra, Adat Tradisi dan Kehidupan Keseharian. Keempat, Klaster Pergerakan Sosial Kemasyarakatan. Ada koleksi yang asalnya dari hibah tokoh dan masyarakat Kotagede, dengan dari ahli waris Ibu Hj Noerijah, pemilik lama Rumah Kalang.

Bahan Bacaan

Maria Widianingtias. ‘Identifikasi unsur-unsur arsitektural rumah kalang di Kotagede Yogyakartahttps://journal.unwira.ac.id/index.php/ARTEKS/article/download/85/156/. Diakses 5 Juli 2022.