Sampah Penghasil Cuan

Salah Satu Lembaga Pengelolan Sampah Di Jogja. IG/daurresik

Ketika mendengar kata ‘sampah’, pasti yang terlintas di pikiran adalah kata jorok, bau, jijik, kotor, dan sebagainya. Jarang sekali kata ‘sampah’ diidentikan dengan kata cuan, keuntungan, duit, dan kesejahteraan. Begitulah budaya berpikir kita yang tidak melihat hanya satu sisi saja yang akhirnya menimbulkan pikiran yang sama.

Bagaimana onggokan sampah yang ada disekitar kita bisa diubah menjadi ‘uang’ yang dapat meningkatkan kesejahteraan? Hal pertama yang harus dilakukan adalah merubah pola pikir. Pola pikir yang awalnya hanya melihat objek hanya dari satu sudut pandang diubah menjadi melihat suatu objek melalui berbagai sudut pandang yang banyak dilewatkan orang lain. Dengan begitu, kita akan memiliki khazanah pengetahuan yang lebih tentang suatu objek.

Sampah memang merepotkan, apalagi bagi pemerintah. Diperlukan lahan yang luas untuk mengolah sampah menjadi bentuk lain yang dapat dimanfaatkan. Perlu kerjasama antar berbagai pihak dalam pengolahan sampah, sedangkan yang banyak dilakukan hanya membuang sampah pada tempatnya, itupun masih banyak yang salah.

Setiap ada lahan kosong, disitulah sampah berada. Kita tidak peduli itu lahan milik siapa, yang penting sampah tersebut tidak tertimbun di lahan atau rumah kita. Sampah itu kemudian akan meluncur ke sungai, kita tidak memikirkan bahwa hal tersebut akan berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan hidup.

Gerakan mengubah sampah menjadi barang yang berguna sebenarnya sudah banyak dipraktikkan oleh lembaga maupun perorangan. Bahkan, sudah ada yang menginisiasikan program kreatif bernama ‘menabung sampah’. Menabung sampah artinya memiliki simpanan berupa uang dari hasil menjual sampah kepada lembaga tertentu. Sampah-sampah yang “ditabungkan” biasanya berupa sampah anorganik yang tidak bisa dihancurkan dengan cepat oleh bakteri pengurai dan berpotensi menjadi masalah tersendiri.

Kalau ada bank sampah atau menabung sampah anorganik, adakah bank sampah atau tabungan untuk sampah organik atau sampah yang bisa didaur ulang, bisa dihancurkan oleh bakteri dalam waktu yang cepat?

Sampah organik ini identik dengan bau, kotor, jorok dan lain-lain. Membuat bank sampah organik sama pentingnya dengan bank sampah anorganik. Caranya sangat mudah dan tentunya menghasilkan uang. Siapa orang yang tidak mau, sampah yang kotor tadi berubah menjadi uang.

Biasanya sampah organik diubah menjadi pupuk untuk tanaman. Ada banyak nama dan cara pengolahannya, semua bertujuan mengubah sampah organik seperti sisa makan, sisa sayuran, sisa buah buahan, dan sebagainya menjadi pupuk padat maupun pupuk cair. Namun, pernahkan kita mengubah sampah organik yang ada menjadi uang?

Pembaca pasti familiar dengan tanaman jati, pohon penghasil salah satu kayu terbaik di Indonesia, atau tanaman sengon, mahoni, jerami, jagung, tebu, dan lain-lain yang banyak terdapat di desa. Tanaman-tanaman berdaun tersebut menghasilkan sampah daun yang sangat luar biasa banyak.

Melimpahnya sampah daun ternyata belum mampu dikelola dengan baik oleh desa, banyak yang hanya dibiarkan begitu saja. Padahal, sampah-sampah ini memiliki nilai yang tinggi bahkan bermanfaat untuk menyuburkan tanah di desa tanpa harus membeli pupuk dari luar.

Pohon jati adalah jenis pohon yang meranggas ketika memasuki musim kemarau. Biasanya, daun-daun yang berguguran di kebun jati menjadi pupuk mandiri bagi pohon jati tersebut. Itulah mengapa meskipun tidak dipupuk, jati dapat menghasilkan pohon yang tinggi dan besar. Hal serupa terjadi pada pohon sengon, mahoni, dan pohon berdaun lebat lainnya.

Lalu bagaimana dengan limbah jagung, padi, tebu, dan pohon lain yang juga menghasilkan banyak limbah? Pada prinsipnya, kalau kita belajar dari lingkungan yang mandiri seharusnya kita pun bisa demikian.

Kita tidak perlu lagi membeli pupuk lagi yang setiap saat harganya naik dan menghabiskan anggaran operasional yang cukup banyak. Alam semesta berputar untuk menghidupkan dirinya sendiri tanpa bantuan manusia. Pikiran kita yang komersil lah yang mengubah banyak hal, seolah-olah tanaman yang telah kita tanam membutuhkannya sehingga kita harus menghadirkannya.

Mengumpulkan Sampah Daun

Proses mengumpulkan sampah daun adalah hal pertama yang harus dilakukan untuk selanjutnya diolah menjadi pupuk. Saat mengumpulkan daun, banyak tenaga kerja yang dibutuhkan, ini dapat menjadi sarana menciptakan lapangan kerja baru bagi desa. Proses pengolahan selanjutnya, baik itu memotong daun sampai pada pengemasan tentunya juga membutuhkan tenaga kerja.

Apabila hal ini bisa dikelola oleh masyarakat desa dengan potensi tersebut, tentunya akan berdampak sosial ekonomi yang menguntungkan tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga bagi desa. Desa tinggal menyediakan tempat dan alat kerja seperti alat potong, pengayak, serta pengemas.

Bila hasil produksi melebihi kebutuhan untuk digunakan mandiri, kelebihan produksi tersebut dapat dijual dan menghasilkan cuan bagi desa. Begitupun dengan kotoran hewan seperti sapi, kambing, ayam, kelinci dan sebagainya. Betapa potensi yang dimiliki desa sangat melimpah serta dapat menghidupi desanya.

Banyak hal sederhana yang dapat dilakukan di desa memiliki dampak sosial ekonomi bagi masyarakat. Tetap diperlukan kemampuan berpikir oleh pengambil keputusan di desa, sehingga desa tidak hanya membuat proyek-proyek prestisius hanya membuang buang anggaran belaka. Sebab, sebenarnya desa sudah kaya, yang dibutuhkan adalah manusia-manusia yang mau berpikir terbaik untuk desanya. Bukan yang berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri dan golongannya.

Peran pemimpin yang merakyat dengan pemikiran sederhana namun berdampak bagi warganya sangat dibutuhkan di sini. Jika warga merasakan kehadiran pemimpinnya maka proses keterpilihan pun akan lebih luas, karena yang teruji dan terbukti akan mengalahkan apapun.