Among Tani Dagang Layar

Among Tani Dagang Layar. AGUNG J. DAMANIK

Buku ini ditulis Suwarman Partosuwiryo, yang berprofesi sebagai pegawai negeri di lingkungan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY selama 36 tahun. Dia juga seorang praktisi dalam bagian perikanan di Yogyakarta dan memberi perhatian dalam bidang perikanan dan kelautan sudah bertahun-tahun. Sudah banyak bukunya membahas tentang perikanan dan kelautan yang ada di rak perpustakaan daerah.

Buku ini terbagi dalam 22 judul yang terbagi menjadi empat bagian, memiliki dimensi 20,5 cm dengan jumlah halaman 172 dan diterbitkan di Jogja Writers.

Pendidikan penulis yaitu Akademi Usaha Perikanan (AUP) Jakarta tahun 1982,Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta tahun 1990, Pascasarjana (S-2) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) tahun 2002, dan Program Doktoral (S-3) Minat Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2009-2012. Sesudah pensiun penulis juga sebagai dosen dengan perjanjian kerja di Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM.

Konsep Among Tani Dagang Layar adalah hasil pemikiran Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 2012 lalu. Dalam konsep itu berisikan mengenai timbulnya cara berpikir yang baru untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan pembangunan daerah yang memfokuskan bertransformasi dari yang dulunya pembangunan maritim sedikit dan mulai diperbanyak serta difokuskan agar mengurangi pembangunan yang ada di daratan.

Hasil pemikiran Sri Sultan itu memiliki tujuan dan pertimbangan. Setiap tahun pengalih fungsian lahan sering terjadi tahun ke tahun, tidak tercegah, yang dikhawatirkan akan memberi dampak yang besar terhadap bagian pertanian tradisional yang mulai tidak digemari generasi penerus, seperti pemuda.

Potensi laut yang besar di pesisir selatan DIY tentu saja bisa digunakan sebagai garda depan. Keterlibatan pembangunan dititik beratkan di tiga Kabupaten di DIY yang ada di pesisir, yaitu Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Gunungkidul.

Pembangunan fisik dan nonfisik sangat menentukan dalam pelaksanaan Among Tani Dagang Layar. Pembangunan fisik bisa berupa infrastruktur misalnya pelabuhan perikanan, tol laut yang dapat menunjang kegiatan kelautan dan mendistribusikan barang hingga ke daerah pelosok dengan merata. Kalau nonfisik pembangunannya salah satunya dapat ditujukan terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan dengan memberi asuransi dan pendampingan.

Dari sisi lain, memerlukan juga kerja sama, komitmen dari pemerintah daerah, nelayan, dan masyarakat luas. Contohnya menggiatkan gerakan memasyarakatkan makan ikan (Gemarikan); selamatan dan memaknai ulang Hari Nusantara, Hari Nelayan Nasional, Hari Ikan Nasional; turut memelihara daerah pesisir dari kerusakan dan pencemaran lingkungan.

Di buku Among Tani Dagang Layar ini akan dibahas mengenai konsep dan upaya dalam perwujudannya. Contohnya dalam ‘Pendanaan Wilayah Pesisir Yogyakarta’, membahas mengenai daerah pesisir yang perlu dorongan untuk mempunyai kelebihan dari segi daya tarik, baik keunggulan kompetitif maupun keunggulan komparatif, dari berbagai aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membuat lingkungan pesisir jadi memiliki nilai lebih, misalnya menanami mangrove, tanaman-tanaman pantai, konservasi, rencana zonasi rinci minapolitan perikanan tangkap, dan penyadaran dalam upaya peningkatan ketahanan masyarakat pada kerusakan (bencana) atau mitigasi bencana.

Berkembangnya tambak udang di daerah pesisir bisa dimaknai sebagai upaya kelompok nelayan, masyarakat pesisir untuk memperbaiki taraf hidup mereka dan tidak hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan di laut.

Dalam bagian tiga buku ini penulis memberitahu bahwa ada beberapa penyebab nelayan miskin baik secara kultural maupun struktural. Mentor sangat dibutuhkan dalam menemukan potensi laut DIY ini. Karena pada umumnya dengan adanya mentor menunjukkan feedback yang baik. Makanya untuk nelayan dibutuhkan juga permentoran disebabkan banyak masalah dan membutuhkan pelatihan, pembinaan, pendampingan teknis maupun manajemen.

Pendampingan bisa dimaknai sebagai pembimbing atau pengasuh. Mentor merupakan seseorang yang bijak, dapat berperan sebagai konselor, dipercaya, dan memiliki pengalaman (professional) yang lebih dalam dan mumpuni dalam bidang pengembangan karakter.

Pada bagian tiga judul empat buku ini juga memaparkan mengenai perizinan kapal yang harus dimiliki semua kapal yaitu surat ukur, pas atau pas tahunan, dan grose akta. Kapal juga harus melengkapi persyaratan berdasarkan fungsinya seperti kapal penangkapan ikan, kapal penumpang dan kapal wisata. Penulis juga lewat buku ini memberi tahu pada pengusaha pantai supaya dapat menyediakan fasilitas bahari khususnya kapal wisata demi keselamatan wisatawan.

Dalam judul kelima bagian ini juga menjelaskan mengenai banyaknya kapal-kapal penangkap ikan ilegal di wilayah perairan Indonesia berbendera asing. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan dan kurang memadainya sarana maupun prasarana. Kemudian dipaparkan juga upaya yang dapat dilakukan dalam meminimalisir kapal nelayan berbendera asing ilegal.

Dalam bagian empat buku ini menjelaskan mengenai ekonomi biru sepertinya menjadi gencar pembangunan kelautan dan perikanan di banyak negara. Mengacu pada Bank Dunia ekonomi biru adalah pemanfaatan berkelanjutan sumber daya laut demi pertumbuhan ekonomi, peningkatan mata pencaharian, dan pekerjaan sambil menjaga kesehatan ekosistem laut. Konsep ini menyesuaikan kepentingan ekonomi dan lingkungan, yang nantinya sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dengan berkelanjutan yang ramah dengan lingkungan.

Bagi negara maritim dan kepulauan seperti Indonesia, seharusnya konsep ekonomi biru diadaptasi. Dengan begitu dapat menjawab beberapa permasalahan di sektor kelautan dan perikanan yang terjadi selama ini, seperti masih banyaknya limbah yang dibuang padahal sebenarnya masih bisa untuk dinilai menjadi produk bernilai. Ada produk perikanan yang terbuang karena penanganan yang kurang baik, isu lingkungan yang rusak, dan masih banyak permasalahan lainnya.

Kelebihan Buku

Solusi alternatif untuk ‘Menekan Alih Fungsi Lahan Pertanian’ dalam buku ini sudah dijelaskan beberapa upaya yang dapat dilakukan seperti: Pertama, memberikan hadiah kepada petani yang mempertahankan usaha taninya, tentunya berharap supaya kehidupan petani lebih tertata dengan baik dan tetap tertarik menekuni usaha bidang pertanian.

Kedua, bisa menjamin hidup yang layak bagi para petani, dengan memberikan subsidi, asuransi,dan lain sebagainya. Petani juga memerlukan perlindungan untuk mengantisipasi risiko kepastian panen dan mendapatkan modal kerja untuk usaha tani. Dengan begitu para petani dapat berfokus dalam menyiapkan untuk musim tanam berikutnya.

Ketiga, revolusi mental propetani, yaitu gerakan supaya masyarakat lebih menyukai membeli dan memakai produk hasil petani. Keempat, jaminan pasar atas komoditas pertanian secara luas (dari hulu sampai hilir) dengan harga yang memberi keuntungan.

Kelima, meneguhkan regulasi tentang alih fungsi lahan berikut dengan implementasinya. Keenam, jika perlu dibangun fasilitas rumah susun untuk keluarga petani (rusutani). Ketujuh, membatasi luas bangunan tempat tinggal. Kedelapan, area tertutup (close area) untuk bangunan. Kesembilan, meneguhkan kelembagaan dan jejaring para pelaku di bidang pertanian.

Mengenai perubahan iklim yang sering dihadapi para nelayan dengan buku ini juga memberi tahu bagaimana kita menekannya dengan berbagai upaya salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu penanaman pohon di setiap rumah, bangunan, maupun ruang terbuka yang ada di lingkungan kita.

Buku ini tentunya sangat cocok untuk digunakan untuk referensi terutama dalam hal pengembangan maritim di Indonesia, khususnya DIY. Alasan mengapa masyarakat pesisir DIY terlambat melaut juga dijelaskan di dalam buku ini. Hal itu yang menyebabkan perbedaannya dengan daerah Cilacap atau Pekalongan.