Menjadi Kolonel

Buku Menjadi Kolonel adalah buku yang menceritakan perjalanan hidup Kolonel (Purn.) Hj. Siti Shoimah Ismy yang penuh semangat.
(Foto: Pandivabuku & Gatik Siti Shoimah Ismy)

“Ibu, sosok wanita lembut, ramah, baik hati, tak pernah marah, dan berpendidikan”. Kalimat tersebut terpapar dalam sebuah buku yang berjudul Menjadi Kolonel.

Gatik Siti Shoimah Ismy selaku penulis berikhtiar menyajikan cerita perjalanan hidupnya yang penuh semangat. Pancaran semangat beliau mampu menyalakan semangat orang-orang yang berada di sekelilingnya, termasuk para junior atau orang-orang yang lebih muda dari beliau.

“Pendidikan sangatlah penting bagi perempuan agar mereka terhindar dari pembodohan dan diskriminasi. Stigma bahwa perempuan tidak bisa melakukan apa-apa, lemah, dan tidak berdaya harus bisa dipatahkan dengan pendidikan. Sebab, laki-laki maupun perempuan berhak mendapatkan pendidikan tinggi,” katanya.

Dalam buku yang sangat menarik ini dibagi menjadi tiga bagian. Pada bagian pertama, penulis menyajikan tulisan-tulisan perjalanan dari masa ke masa yang menjadikan berkah dalam kehidupannya. Bagian dua menceritakan tentang sosok perempuan. Sementara bagian tiga menceritakan bagaimana pengalaman kisahnya menjadi kolonel.

Dimensi buku yang berukuran 14,5 x 20,5 cm dengan ketebalan buku 122 halaman sangat ringan dan nyaman dipegang saat dibaca. Pada bagian kover buku terlihat sederhana dengan menampilkan judul buku dan gambar Kolonel (Purn.) Hj. Siti Shoimah Ismy.

Tentang Penulis

Gatik Siti Shoimah Ismy, lahir pada 8 Juni 1953 dengan nama asli Siti Shoimah Ismy. Penulis lahir dan tumbuh bersama dengan keenam saudaranya di kota kecil di Solo Raya, yaitu Kota Sragen. Setelah merampungkan pendidikan nya di Pendidikan Guru Agama (PGA) NU Sragen, penulis melanjutkan ke Sekolah Persiapan (SP) IAIN di Kota Kendal. Kemudian penulis meneruskan pendidikannya ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sampai meraih gelar Sarjana Muda.

Belum merasa cukup dalam menimba ilmu, perempuan yang kerap disapa Gatik ini kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, karena kondisi lingkungan pertemanan yang kurang kondusif, sebelum menyelesaikan pendidikan sarjana, penulis memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad).

Penulis bertemu dengan pujaan hati, Suyitmadi Pujosukarto yang juga seorang anggota TNI AU, saat sama-sama bertugas di Bandung. Mereka menikah dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Alfin Kurniadi.

Setelah purna tugas, Gatik dan suami memutuskan menetap di Kota Yogyakarta. Tetap ingin menjadi bermanfaat, masa pensiun penulis diisi dengan berbagai kegiatan keorganisasian.