Kades Muda Inspiratif

Ferdinandus ‘Nando’ Watu, salah satu pendiri Komunitas Remaja Mandiri di Detusoko, Ende, Nusa Tenggara Timur. AMINEF

Beberapa waktu lalu, tepatnya 27 September 2022 saya mengikuti sebuah acara webinar yang diselenggarakan oleh komunitas BUMDes di Jogja. Sebuah webinar dengan tema “Membangun Ekosistem Digital Ketahanan Pangan Desa” menghadirkan dua narasumber yang memiliki banyak pengalaman dalam memajukan pertanian di desa-desa. Saya sangat penasaran dengan salah satu narasumber yang diundang berasal dari Nusa Tenggara Timur.

Ada sosok pemuda yang energik dan inspiratif, apalagi sebagai seorang yang masih muda dengan jabatan kepala desa (kades). Tentu saja dengan jabatannya dia harus mampu mengajak masyarakat desa untuk berubah ke arah yang lebih baik, ke arah masyarakat desa yang lebih sejahtera dari sebelumnya.

Mendengarkan penuturannya, dirinya telah berhasil membawa perubahan desanya lebih maju, karena ia mampu meraih beberapa penghargaan sebagai wujud keberhasilan memimpin dan membangun desa. Tentu keberhasilan dalam memimpin desa di usia yang masih muda menjadi kebanggaan bagi diri sendiri juga bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Ferdinandus Watu, begitu nama Kepala Desa Detusoko Barat, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Kita tahu NTT bukanlah daerah penghasil beras atau sumber pangan, akan tetapi Desa Detusoko Barat sudah mampu mewujudkannya, dengan pengairan yang bagus dan lahan pertanian tak kurang dari 100 hektare tentu saja potensi yang sangat besar bagi desa untuk bisa mandiri dan dengan sumber daya manusia yang ada dan kepedulian kepala desa membawa desa untuk bertumbuh.

Perkembangan desa tidak hanya dari sisi ketahanan pangan yang memang ada dana desa sebesar 20 persen yang dialokasikan untuk terciptanya ketahanan pangan ini. Namun, ada juga pariwisata berbasis ekosistem digital, produk-produk pertanian berbasis digital, dan masih ada beberapa lagi lainnya.

Peran serta masyarakat sudah cukup baik meskipun layaknya desa desa di Indonesia yang penuh intrik namun kepala desa bisa merangkul semua pihak untuk maju bersama dan menepis semua perbedaan pandangan. Desa juga memberikan peluang beasiswa ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta bagi para pemuda yang memiliki kemampuan untuk ikut serta membangun desanya, sehingga nantinya diharapkan SDM yang terampil dan berilmu bisa ikut serta membangun desa dan tidak keluar dari desa untuk pergi ke kota, karena desa juga bisa menjadi tumpuan harapan.

Namun, satu hal yang masih menjadi pertanyaan dan tantangan adalah apakah produk produk terbaik desa hanya untuk dijual memenuhi kebutuhan orang lain? Seharusnya produk terbaik wajib dikonsumsi oleh masyarakat desa tersebut agar ketahanan pangan juga berarti ketahanan gizi yang berakibat ketahanan tubuh, emosi dan sosial spiritual. Dengan begitu, nantinya tidak ada lagi orang berpenyakit dan bodoh, itulah arti ketahanan pangan sebenarnya.

Hasil pertanian lokal itu dimakan, disimpan, dan jika lebih baru dijual, dan menjual tidak perlu jauh-jauh ke Tanah Jawa, masyarakat sekitar juga sama membutuhkannya, karena itu adalah bahan pokok untuk manusia hidup. Jangan Jakartasentrisme, orang kota tidak pernah berpikir bagaimana kondisi masyarakat desa, kepung kota dari desa agar mereka peduli dengan orang desa.